Lucky

Sky Lopez

Posted by louis7zen on March 26, 2008

Gang
Bang Queen

 

Saat
menyaksikan Sky Lopez bermain seks selama 30 detik di film yang dibintanginya,
penonton seolah belajar banyak tentang permainan seks yang menggairahkan.
Betapa tidak, berbagai posisi dan gaya diterapkan gadis kelahiran Stillwater, Minnesota
23 Desember 1975 di setiap film menghipnotis penontonnya. Popularitas Sky cepat
menanjak dan kini setara dengan bintang porno Jenna Jameson dan Tera Patrick.
Gaya yang natural mampu mengaduk-ngaduk birahi siapa pun yang menontonnya.

 

Bintang
triple X yang kerap menggunakan nama Sky Kallen ini mengaku tidak pernah
bermimpi menekuni dunia yang penuh kepalsuan tersebut. Akan tetapi, karena
tuntutan ekonomi dan kebutuhan untuk bersenang-senang membuat Lopez berpikir
lain.

 

Belum
lagi, pernikahannya membuahkan dua orang anak dari pria yang tidak pernah dia
sebutkan namanya, mengharuskan Sky menjadi single
parent
di tengah kerasnya persaingan pencari kerja. Atas beberapa
pertimbangan Lopez nekad menerima tawaran menjadi bintang porno dan memulai
debutnya di film Where the Boys Aren’t 13
tahun 1999 silam.

 

Lopez
bermain total, ketika berhubungan intim dengan lawan mainnya, sehingga membuat
nama Sky langsung melejit. Terlebih memiliki tubuh original yang tak tersentuh
dengan suntik silikon dan sedot lemak seperti banyak dilakukan bintang porno
lainnya. “Aku sangat bangga dengan tubuhku yang asli. Kenyal payudaraku yang
membuat membuat permainan terlihat alami. Kenyataannya, memang aku menikmati
dalam petualangan seks,” urai Lopez suatu ketika.

 

Sky
Lopez termasuk bintang film biru yang sangat blak-blakan bicara tentang
permainan seksnya. Ia mengaku pernah beberapa kali orgasme ketika bermain
threesome dan foursome. “When the licking me, aku merasa menikmati permainan
seks yang sebenarnya. Setahuku, hampir semua bintang porno mengaku sulit
mendapatkan orgasme, tetapi aku tidak. Aku bisa menikmatinya dan orgasme dalam
bercinta dengan pasangan yang aku suka,” terang pemilik tinggi 173 cm dan berat
48 kg ini.

 

Sejak
kemunculannya di kancah perfilman biru, Sky Lopez yang asli Mexico langsung
menjadi mawar di tengah ratusan bintang porno lain. Akan tetapi, dia bukan
seorang bintang porno yang terlalu ‘ngoyo’ mempertebal koceknya dengan menerima
seluruh tawaran. Sky mengaku, memiliki kehidupan pribadi layaknya seperti
manusia normal lain. Pada saat membutuhkan istirahat, tidak akan menoleh
sedikit pun walau tawaran uang berlimpah menghampirinya.

 

Banyak
hal yang dilakukan Lopez takkala mendapat cuti syuting. Selain menikmati
liburan dengan kedua anaknya, Lopez juga sering shopping, bermain rollerblade, bermain ice skating, menyelam di laut Hawaii,
mengendarai motor besar atau Harley, menonton film, dan menjelajahi situs-situs
yang menjual berbagai alat bantu seks semisal S&M Toys. “Aku selalu pergi
ke tempat latihan senam atau sekedar menikmati kopi di café,” ujarnya.

 

Meski
memiliki segudang kegiatan, Lopez ternyata bukan sosok wanita yang gemar
nongkrong di rumah. Dia mengaku kerap mengikuti pesta-pesta liar dengan
teman-temannya. Pesta yang paling dia gemari adalah pesta seks, di luar
pembuatan film atau video porno. Sky sangat menikmati seks keroyokan dengan
teman-temannya. Bahkan ia mengaku, dalam orgy
party,
pernah merasakan 20 kali orgasme dalam satu kesempatan permainan.
“Setelah orgasme begitu banyak, aku merasa begitu muda dan segar,” akunya terus
terang.

 

Karena
hobi gilanya ini, Lopez dan beberapa temannya pernah diamankan polisi ketika
menikmati orgy party di sebuah hotel berbintang di California. Jera’kan dia?
Ternyata tidak, Sky tetap menyelenggarakan orgy party di mana dan kapan pun
menghendakinya. “Aku sangat menikmati permainan seks, terlebih bila bisa
mendapatkan orgasme berkali-kali,” tandasnya.

 

Sepanjang
kariernya mulai tahun 1999, Sky Lopez membuat tatto bibir di bokong, tatto
mawar, dan tatto di perut sebelah kirinya ini sudah menbintangi puluhan film.
Meski demikian Lopez belum puas sebelum bisa menyutradarai film porno bermutu
yang memiliki estetika tinggi. Itu sebabnya, akhir 2002 lalu dia belajar
sinematografi di sebuah lembaga pendidikan di California.

 

Pertengahan
2003, Lopez berhasil menyutradari Weapons
of Masturbation,
produksi Vivid, rumah produksi yang selama ini
melambungkan namanya.

 

Lalu
apakah film besutannya tersebut berhasil menjadi film porno yang memiliki
estetika seni tinggi seperti yang diinginkannya. Hanya penonton yang bisa
menjawab, karena sejauh ini sineas porno belum memberi penilaian khusus
padanya.

 

(lalu kapan
nih tobatnya ni???)

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>