Kesempatan Kedua II
Posted by louis7zen on March 15, 2008
Mau tidak mau Sherry harus menghabiskan
waktunya selama enam bulan di traksi, yaitu gantungan di ranjang untuk menahan
kakinya yang patah. Setelah keluar dari rumah sakit, ia harus belajar berjalan
dengan memakai tongkat. Sherry mengalami keadaan buruk itu karena ia ditabrak
oleh Steven, seorang pengemudi truk yang sedang mabuk berat.
Kombinasi obat yang diberikan oleh dokter dan
tingginya tingkat alkohol dalam darahnya, telah membuat Steven mabuk berat.
Sebenarnya tanpa kecelakaan, kadar alkohol yang tinggi itu berpotensi membunuh
Steven, tapi Sang Kehidupan masih memberikan waktu bagi Steven untuk hidup.
Pasca kecelakaan, Steven menjadi tahanan yang mendekam di rumah sakit. Meskipun
masih di rumah sakit, Steven sudah menerima ancaman 16 tahun penjara atas empat
tuduhan pelanggaran lalu lintas yang dilakukannya. Ancaman itu sangat berat,
tapi Steven menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya.
Ketika Sherry keluar dari rumah sakit, ia
mengunjungi Steven. Steven terlihat sangat malu dan ketakutan saat dikunjungi
oleh Sherry. Di sana Sherry memperhatikan, sepertinya Steven tidak mendapatkan
perawatan yang memadai. Belas kasihan yang besar memenuhi hati Sherry saat
melihat keadaan dan penyesalan yang terekspresi di wajah Steven. Sherry tidak
ingin melihat pemuda itu menghabiskan belasan tahun hidupnya dan menjadi tua di
dalam penjara, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
Ada satu keistimewaan hukum di Colorado, kota
tempat tinggal Sherry. Di sana korban dari satu kejahatan diberi hak untuk
membuat pernyataan khusus, victim impact
statement. Itu artinya, sebagai korban Sherry diizinkan untuk mengusulkan
hukuman apa yang harus dijatuhkan kepada Steven. Kesempatan itu tidak
disia-siakan oleh Sherry, ia mengusulkan agar Steven dijatuhi hukuman percobaan
selama empat tahun, menerima terapi medis, dan izin mengemudinya dicabut. Pada
saat pengadilan digelar, hakim menjatuhkan vonis seperti yang diminta Sherry.
Steven terharu dan sungguh menghargai semua keputusan serta kebaikkan hati
Sherry, yang tidak ingin melihat ia terpuruk di dalam kegetiran penjara dan
menanti masa depan yang suram. Belas kasihan Sherry dipandang Steven sebagai
kesempatan kedua baginya untuk memulai lembar kehidupan yang lebih bermakna.
Dari dalam penjara, ia kerap menulis surat kepada Sherry dan ia tak pernah lupa
menyelipkan kalimat, “Terima kasih karena
Anda telah memberikan saya kesempatan kedua.” Setelah masa hukuman berlalu,
Steven memutuskan untuk bekerja melayani para lansia di sebuah panti jompo.
Ketika seseorang gagal atau khilaf, maka ia
berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaannya. Karena itu
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni sesama, berbuat baik bahkan
kepada musuh, dan memberkati mereka dengan doa-doa kita.