Antara Mak Siat dan Mak Erot
Posted by louis7zen on March 26, 2008
Maksiat, semua orang tahulah
apa artinya. Kalau ada orang yang melakukan affair yang bukan berdasarkan
ikatan suami-istri, maka hubungan itu dapat digolongkan maksiat. Tapi juga
dapat mengandung multi tafsir bila kata maksiat menjadi Mak Siat.
Mak Siat sebagai
sosok rekaan penulis skenario sekaligus sutradara Monty Tiwa dalam film XL (Extra
Large), Antara Aku, Kau dan Mak Erot. Film komedi dewasa ini hingga minggu
bulan Februari lalu, masih bertengger selama dua pekan di Cinema 21.
Monty jelas bukan
sembarang saja memberikan nama Mak Siat kalau tidak ada benang merah horizontal
dengan content ceritanya dalam film XL. Apa relevansinya nama Mak Siat dengan
film XL itu sendiri. Sebab nama Mak Siat sebetulnya adalah figur fiktif, beda
dengan nama Mak Erot adalah figur fill yang dapat menjadi true story.
Alur ceritanya yang
dibangun sejak scene pertama hingga akhir sepertinya tak lepas dari kekonyolan
dan banyolan mengenai ukuran alat kelamin laki-laki. Apalagi dalam sub judul
film mengambil title Antara Aku, Kau dan Mak Erot.
Nama Mak Erot sudah
sangat melegenda di negeri ini. Perempuan tua asal Cisolok Pelabuhan Ratu
Sukabumi ini, sudah sering menjadi topik bahasan dalam berbagai media, baik di
Koran, Majalah, Tabloid, hingga media Televisi. Sampai sekarang, kalau kita
membolak-balik media Koran, Tabloid, Majalah tertentu, masih gencar memuat
iklan kehebatan pengobatan alternatif Mak Erot.
Sedangkan Mak Siat,
dalam film XL memberikan testimony kalau dirinya adalah keturunan langsung Mak
Erot. “Saya ini cucu kedelapan Mak Erot,” demikian kata Mak Siat. Hadirnya
sosok Mak Siat sebetulnya sebatas penguatan nama besar Mak Erot. Sebab dalam
film XL ternyata tidak dijumpai replica Mak Erot. Dia sama sekali tidak muncul,
kecuali Mak Siat yang mengaku sebagai cucu kedelapan Mak Erot.
Judul film di atas
tentu menarik bagi yang pernah mendengar atau bahkan pernah ‘merasakan’ jasa
Mak Erot. Cerita film ini sebenarnya tidak melulu tentang Mak Erot yang memang
sudah kondang itu. Tapi lebih terfokus kepada 3 orang laki-laki yang telah
bersahabat sejak masa SMU. Deni (Jamie Aditya), Stefan (Eron LeBang), dan Juno
(Alex Abbad) adalah 3 pria perkotaan yang memiliki persoalan masing-masing.
Film komedi dewasa
yang disutradarai oleh Monty Tiwa itu memang boleh dibilang menampilkan genre
baru. Jika sejumlah film komedi romantis mengetengahkan nuansa sekolah atau
kampus, di film ini Monty malah menampilkan fenomena nyata yang ada di
masyarakat, yaitu Mak Erot.
Namun sayangnya
karakter Mak Erot di film ini hanya sebagai ‘background’ semata. Ekspektasi
melihat replika sosok Mak Erot yang diharapkan menambah kelucuan film ini tidak
kesampaian.
Sarah Sechan yang
berperan sebagai Mak Siat yang menjadi penguat Mak Erot, memang sangat sempurna
dalam acting hingga menimbulkan kelucuan yang luar biasa. Tapi dalam ending
ceritanya barulah tahu sebenarnya Mak Siat adalah seorang penipu yang sekedar
memanfaatkan nama besar Mak Erot, dia bukan keturunan Mak Erot. Dia justru
diseret polisi karena ada pengaduan keluarga Mak Erot yang tidak rela nama
besarnya dimanfaatkan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan garis
keturunan Mak Erot.
Dalam fakta
sosiologis, nama besar Mak Erot memang sudah menjadi banyak varian. Dimana-mana
ada praktek pengobatan dengan mengatas namakan Mak Erot. Sampai-sampai pada
batas keraguan, apakah Mak Erot yang melegenda itu benar-benar ada. Kalau ada
kini masih hidup atau sudah meninggal. Kalau masih hidup, konon usianya saat
ini sudah di atas seratus tahun karena orang-orang yang berpraktek dengan
mengatas namakan cucu Mak Erot sudah berusia di atas 60 tahun.
Beberapa tahun silam
saya dan beberapa wartawan pernah menelusuri keberadaan Mak Erot. Selepas Tol
Jagorawi di Ciawi menuju arah Sukabumi, kamu sudah menelisik sepanjang kiri
kanan jalan. Ternyata memang banyak tempat yang mengatas namakan praktek
pengobatan Mak Erot di sepanjang jalan dari arah Ciawi, Cibadak, Cimande,
hingga Pelabuhan Ratu, terdapat puluhan tempat praktek pengobatan alternatif
Mak Erot. Tapi ketika kami masuk ke rumah praktek itu, tak satupun tempat dapat
kami temui Mak Erot. Yang ada, kalau bukan anak Mak Erot ya mengaku sebagai
cucu Mak Erot.
Sampai akhirnya kami
menemukan informasi kalau Mak Erot yang asli membuka praktek di rumahnya
Cisolok, beberapa kilometer arah selatan Pelabuhan Ratu. Kami pun terus
melakukan penyelusuran ke arah Cisolok. Begitu mobil kami meluncur dari
Pelabuhan Ratu – Cisolok, ada beberapa kendaraan yang mengejar mobil kami. Saat
itu, kami berpikir apa ada yang aneh terhadap keberadaan kami sehingga ada beberapa
motor yang membuntuti bahkan berusaha untuk bicara, padahal mobil kami masih
melaju kencang.
Akhirnya kami
berhenti dan bicara, barangkali ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
Pikiran kami saat itu, jangan-jangan harus ada persyaratan ritual yang harus
kami lakukan sebelum mencapai tujuan tempat praktek Mak Erot. Sebab nama Mak
Erot yang melegenda itu, juga tak lepas dari munculnya cerita mistik dibalik
metode pengobatan yang dilakukannya.
Ternyata mereka hanya
bertanya apakah betul kami bertujuan ke tempat praktek Mak Erot. Ketika kami
jawab benar, rupanya mereka adalah para perantau atau calo yang sanggup
mengantarkan ke tempat praktek Mak Erot.
Kami sempat bingung.
Apa iya sich untuk sampai ke tempat praktek Mak Erot musti pakai seorang calo.
Padahal, asal kami tahu alamatnya saja, pasti akan dapat menemukannya.
Semakin dekat menuju
arah Cisolok, semakin banyak motor yang mengejar kami. Lebih-lebih saat kami
sampai di sebuah jalan persimpangan yang menuju arah ke rumah Mak Erot, bukan main
banyaknya tukang ojek yang mendekat pada kami. Dari penjelasan tukang ojek,
kalau mau menuju ke rumah Mak Erot harus naik ojek karena tempat itu berada di
atas bukit yang tidak dapat dilewati kendaraan mobil. Jarak tempuh dari jalan
besar ke rumah Mak Erot masih satu kilometer lebih.
Dari para tukang
ojek, kami peroleh informasi menarik, dikatakan cukup banyak orang ngetop yang
suka datang. Para tukang ojek ini beda dengan dokter yang memegang teguh kode
etik merahasiakan identitas pasiennya. Akhirnya memang disebutkan nama-nama
tokoh yang pernah datang ke Mak Erot, mulai dari tokoh pengusaha, pejabat, dan
selebritis yang mereka kenal karena sering tampil di TV.
Sampai di rumah Mak
Erot, ternyata kami juga tidak menemukan Mak Erot. Tapi memang benar disitulah
Mak Erot tinggal, hanya saja saat itu dia sedang melakukan perjalanan jauh ke
Makasar untuk praktek pengobatan di sana bersama salah seorang cucunya.
Kalau soal ukuran,
sepertinya secara psikologis hampir semua laki-laki Indonesia bahkan Asia merasa
kurang puas dengan ukuran kelaminnya. Lebih-lebih bagi laki-laki yang sering
nonton BF yang pemainnya orang-orang bule, merasa gede banget itu punyanya bule
bila dibandingkan milik kita.
Namanya saja alat
vital, tentu peranan dan artinya sangat penting. Muaranya jelas pada kepuasan
seksual. Bicara soal kepuasan seksual, tentu tidak semata-mata ditentukan oleh
ukuran alat vital.
Ibarat sebuah
senjata, tergantung bagaimana seseorang itu menggunakan senjata yang
dimilikinya. Ada teknis dan cara agar sebuah senjata mampu fungsional, seorang
perwira ternyata lebih menyukai sebuah pistol yang ukurannya relatif kecil
dibandingkan dengan senjata laras panjang. Tapi pistol jenis revolver ternyata
dapat mematikan lawan saat berada di tangan seorang perwira yang berpengalaman.
Soal ukuran, para
ahli seksologi atau andrologi seperti Dr. Naek L Tobing pernah mengungkapkan
kalau ukuran standar alat laki-laki orang Asia untuk panjang antara 11 – 16 cm
dengan lingkaran 1,5 – 2 cm dalam keadaan tegang. Dengan ukuran alat laki-laki
standar orang Asia ini, berarti sudah harus mampu menjadikan dirinya atau
pasangannya sama-sama puas.
Kepuasan seksual
adalah produk psikologis, dengan demikian sangat relatif. Apalagi kalau
orientasinya untuk sex party dalam orgyl sex party misalnya, maka big size bagi
laki-laki adalah sebuah kebanggaan karena ada unsur exhibtion. Tapi bagi
perempuan dapat menjadi siksaan. Capek dech….! Singgih Sutoyo.