Lucky

Web 3.0

Posted by louis7zen on February 27, 2008

Semakin tua semakin bijaksana, demikian seharusnya yang dialami
manusia. Untuk teknologi, mungkin lebih tepat dikatakan semakin tua semakin
canggih. Bukan teknologi namanya jika tidak menawarkan kecanggihan!

 Belum
usai pembahasan pro dan kontra mengenai eksistensi Web 2.0 yang mulai dikenal
sejak tahun 2004, dengan cepat mulai terdengar istilah Web 3.0 yang telah
memikirkan wajah berikutnya yang akan ditampilkan bagi pengguna web.

 Istilah
Web 3.0 mulai sering dibicarakan, walaupun terkadang masing-masing memiliki
definisi sendiri mengenai pengertian Web 3.0. Tetapi satu hal yang jelas, Web
3.0 tentunya ingin mendeklarasikan diri sebagai generasi selanjutnya dari dunia
world wide web.

 Sebagai sebuah tunas baru dunia web, Web 3.0
memaparkan berbagai pembaruan menyangkut penggunaan dan interaksi web.

 

Semantic Web

Sebelum memasuki pembahasan mengenai Web 3.0,
kita akan mengenal terlebih dahulu apa yang disebut dengan semantic web, karena sering disebut bahwa Web 3.0 akan mengarah
pada konsep semantic web ini.

 Istilah
semantic web sendiri telah lebih dulu dikenal dibandingkan istilah Web 3.0.
Semantic web merupakan pengembangan dari world wide web di mana content web
ditampilkan tidak hanya dalam format bahasa manusia yang umum (natural language), tetapi juga dalam
format yang dapat dibaca dan digunakan oleh mesin (baca: software).

 Seperti
yang kita ketahui, website ditujukan untuk memberikan informasi kepada manusia.
Misalnya saat menginginkan sebuah buku, Anda dapat menelusurinya pada search engine atau website tertentu hingga akhirnya mendapatkan buku tersebut.

 Misalkan
terdapat pilihan dari berbagai kategori untuk mendapatkan buku yang dimaksud,
mesin sendiri tidak dapat memutuskan dan melakukannya tanpa arahan dari
manusia, karena informasi tersebut diperuntukkan agar dimengerti hanya oleh
manusia dengan menggunakan natural language.

 Kondisi
inilah yang ingin diubah oleh semantic web. Semantic web akan memiliki
informasi yang dimengerti oleh mesin, yang memiliki kecerdasan buatan hingga
mampu menemukan dan mengintegrasikan informasi dengan mudah.

 Dengan
demikian fungsi web menjadi wadah universal bagi pertukaran data, informasi,
dan pengetahuan, yang dapat menghasilkan kecerdasan buatan yang dapat mengerti
keinginan Anda, di mana semantic web dapat diinstruksikan untuk mengambil
informasi sesuai kriteria tertentu.

 Beberapa
format dan spesifikasi yang dikenal oleh mesin dalam semantic web antara lain
adalah RDF (Resource Description
Framework
) dan OWL (Web Ontology
Language
).

 

RDF

Di balik teknologi Web 3.0, salah satu tulang
punggungnya adalah format dan spesifikasi yang memungkinkan komunikasi dan
interaksi pada level mesin, W3C (World Wide Web Consortium) mendefinisikan
format metadata yang dikenal dengan RDF (Resource
Description Format
).

 RDF
terdiri dari tiga komposisi, meliputi subject,
predicate,
dan object. Predicate
merupakan komposisi yang menerangkan sudut pandang dari subject yang dijelaskan
object, sementara subject dan object merupakan entitas.

 Object
di dalam RDF dapat menjadi subject yang diterangkan oleh object yang lainnya.
Dengan inilah object dapat berupa masukan yang dapat diterangkan secara jelas
dan detail, sesuai dengan keinginan pengguna yang memberikan masukan.

 Contoh
cara kerja RDF dapat diterangkan dengan satu contoh sederhana berikut, untuk
mendefinisikan “daun memiliki warna hijau”, maka “daun” direpresentasikan
sebagai subject, “hijau” merupakan object, dan “memiliki warna” adalah
predicate.

 Dengan
menggunakan RDF, website dapat menyimpan dan melakukan pertukaran informasi
antar-web.

RDF telah digunakan pada aplikasi-aplikasi, antara lain:

1. RSS (RDF Site Summary)

RSS memberikan informasi update sebuah website tanpa pengunjung
perlu mengunjungi website tersebut.

2. FOAF (Friend of a Friend)

Didesain untuk mendeskripsikan
orang-orang, ketertarikan dan hubungan mereka.

3. SIOC (Semantically-Interlinked Online Communities)

Menerangkan komunitas online dan menciptakan koneksi antara
diskusi berbasis Internet seperti message
board, blog,
maupun mailing list.

 

OWL

Web Ontology Language atau OWL (bukan WOL), didesain agar
dapat digunakan oleh aplikasi yang memroses informasi, OWL berbasis XML dan
dapat dengan mudah dipertukarkan antara mesin dengan operating system yang berbeda, dan bahasa aplikasi yang berbeda.

 

OWL memiliki tiga sub-language
(spesies), yaitu:

1. OWL Lite

Mendukung pengguna yang memerlukan
klasifikasi hirarki dan dalam batasan yang sederhana.

2. OWL DL

Mendukung konstruksi seluruh OWL,
tetapi hanya dapat digunakan pada batasan tertentu.

3. OWL Full

Diperuntukkan bagi pengguna yang menginginkan
maksimum penggunaan dan kebebasan sintaksis.

 

Wajah Web 3.0

Konsep Web 3.0 diarahkan sebagai web masa
depan, tetapi masa depan yang bagaimana yang ditawarkan? Hal inilah yang
terkadang masih menjadi perdebatan, tetapi bisa jadi tidak ada yang salah,
karena mungkin sebagian besar pemikiran mengenai web masa depan tersebut sangat
mungkin untuk terlaksana.

 Bagaimana
wajah Web 3.0 menurut berbagai pengamat? Di antaranya adalah:

1. Realisasi Semantic Web

Semantic web cukup dipercaya sebagai
wujud dari Web 3.0, dengan kecerdasan buatan, Web 3.0 diharapkan akan
merealisasikan konsep semantic web dan menjadi generasi selanjutnya dari WWW.

2. Evolusi 3D

Tidak mengherankan bahwa kemampuan
3D selalu merupakan cerminan masa depan, evolusi 3D telah terjadi pada game,
animasi, dan lain-lain, walaupun saat ini masih belum mengubah mayoritas wajah
web. Tampilan 3D bisa jadi memang dihindari oleh sebagian pengakses Internet
karena tampilan dan proses 3D berarti pula pertukaran data yang lebih besar dan
tentu berpengaruh pada kecepatan maupun biaya yang dikeluarkan. Tentunya,
evolusi 3D ini hanya akan berhasil jika infrastruktur di masa mendatang telah
mendukung pengguna Internet pada umumnya.

3. Web sebagai Database

Masih sering kita dengar istilah web
statik dan web dinamis, web statik menunjukkan bahwa website tersebut, selalu
memberikan informasi yang sama sebagai respon pada setiap pengunjung yang
mengaksesnya.

Sementara web dinamis merupakan
kebalikkannya, di mana informasi yang diberikan website tersebut dapat berubah
secara interakrif tergantung pada kondisi dan konteks yang distimulasikan oleh
pengguna.

Pada Web 3.0, diharapkan website
merupakan database dan tentunya semakin interaktif dan dinamis kepada
pengunjung, atau dinamakan dengan Data Web.

Satu lagi teknologi yang
dikembangkan adalah SPARQL yang menyediakan bahasa query standard dan Application
Programming Interface
(API) untuk menelusuri database RDF yang
terdistribusi pada website.

4. Executable

Jika kita melihat kembali perjalanan web
dimuali dari Web 1.0, maka dapat dikatakan bahwa pengunjung Web 1.0 hanya
memiliki hak sebatar read-only, karena
sebagai pengunjung Anda hanya akan membaca informasi yang ditampilkan Web 1.0.
Tidak heran jika kemudian istilah yang sering dipakai saat mengakses Internet
adalah “browsing”, fungsi browser Internet sebatas untuk melihat informasi dari
satu website ke website lainnya. Pada Web 2.0, sebagai pengunjung Anda dapat
melakukan kontribusi dan memiliki hak untuk read-write, di mana Anda dapat
berperan aktif pada website tersebut. Istilah “sharing” mulai umum digunakan
dalam konsep Web 2.0. Web 3.0, menambah lagi hak Anda menjadi executable,
mengizinkan Anda memodifikasi website itu sendiri.

 

 Dapat
disimpulkan untuk mewujudkan Web 3.0, maka harus didukung oleh kemampuan dan
teknologi yang merealisasikan transformasi dari web yang terpisah secara
aplikasi dan penyimpanan data, menjadi saling berinteraksi sesama mesin.

 Interaksi
tidak hanya terjadi antara pengunjung dan website, tetapi di antara website itu
sendiri dalam formatnya sendiri.

 Istilah
World Wide Web bisa jadi berubah menjadi World Wide Database untuk menunjukkan
database yang terdistribusi dan dimungkinkan dengan adanya teknologi yang
mendukung semantic web.

 

Jika Semuanya Menjadi Mudah

Teknologi selalu dikembangkan untuk memanjakan
manusia, tidak terkecuali konsep Web 3.0, apa yang Anda inginkan akan dapat
dimengerti dengan cepat sehingga mengurangi waktu dan tenaga yang harus Anda
keluarkan.

 Lalu,
apakah teknologi juga akan mengurangi produktivitas manusia saat semuanya
dipermudah dan diambil alih oleh teknologi?

 Tentunya
tidak, sebagaimana kita dianugerahi dan memiliki kekayaan alam yang berlimpah,
tidak seharusnya kita menyia-nyiakan dan terlena di atas kekayaan tersebut,
melainkan menggunakan dan mengembangkannya lagi untuk generasi seterusnya.
Semoga demikian pula cara kita dalam menyikapi teknologi.
Joko Nurjadi.

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>