Web 2.0
Posted by louis7zen on February 27, 2008
Istilah Web 2.0 mulai dikenal pada konferensi O’Reilly Media Web
2.0 pada tahun 2004, istilah ini diartikan sebagai versi baru dari World Wide Web (WWW) yang telah dikenal
luas sejak era dot.com.
Setelah istilah Web 2.0 mulai popular, maka
barulah konsep website konvensional disebut dengan Web 1.0 untuk mempermudah
perbandingan.
Tetapi,
berbeda dengan istilah lain yang menambahkan digit untuk menunjukkan fitur atau
hal baru yang bersifat teknikal, istilah Web 2.0 tidak merujuk pada hal-hal
teknikal.
Artinya,
Web 2.0 tidak menampilkan sebuah teknologi yang baru secara signifikan (walau
beberapa Web 2.0 menyertakan teknologi canggih), tetapi pengertian Web 2.0
lebih merujuk pada sebuah konsep, menyangkut cara developtmen, dan penggunaannya di Internet.
Contoh-contoh
Web 2.0 sebenarnya adalah website-website
situs yang sudah tidak asing lagi bagi Anda yang sering menggunakan
Internet, dan mungkin merupakan situs-situs yang Anda akses setiap harinya,
seperti Wikipedia, e-Bay, Friendster, dan masih banyak lagi.
Apakah
keunikan dari website-website tersebut sehingga menyangdang predikat Web 2.0?
Menurut definisi oleh Tim O’Reilly (pendiri dari O’Reilly Media), Web 2.0
adalah sebuah revolusi bisnis pada industri komputer yang dikarenakan oleh
perpindahan Internet menjadi sebuah platform.
Contoh
untuk mempermudah pemahaman konsel Web 2.0 adalah dengan melihat contoh
perbandingan antara website konvensional (Web 1.0) dengan website yang telah
termasuk kedalam Web 2.0.
Pada
era booming dot com, sedemikian banyak orang yang membuat website pribadi
sehingga halaman pertamanya rata-rata menuliskan “Welcome to My Personal
Homepage”, tidak lupa menambahkan fasilitas buku tamu dan web counter.
Dengan
perubahan kearah konsep Web 2.0, website-website pribadi itu menjelma menjadi
blog. Blog adalah Web 2.0 sehingga Anda akan terlihat ketinggalan zaman ketika
menanyakan kepada rekan Anda apakah ia memiliki website pribadi, tetapi akan
terlihat lebih modern dan gaul ketika menanyakan apakah ia memiliki blog.
Hal
tersebut adalah sebuah revolusi yang jelas terlihat pada industri komputer saat
ini. Secara teknis mungkin tidak ada hal yang benar-benar merupakan teknologi
baru untuk membuat blog, tetapi lihatlah bahwa sebuah web yang menyediakan host
service blog, seperti wordpress.com,
blogspot.com, dan lain sebagainya secara strategis telah menjadi sebuat platform untuk komunitas blogger
berkolaborasi.
The Long Tail
Membahas Web 2.0, tidak lepas dari pembahasan
The Long Tail, istilah yang dipopulerkan oleh Chris Anderson untuk menjelaskan
sebauh model ekonomi terdistribusi. Di dalam bukunya “The Long Tail: Why The
Future of Business is Selling Less of More”, Chris Anderson memberikan contoh
The Long Tail yang diterapkan dengan sukses oleh Amazon atau Netflix.
The
Long Tail menunjukkan kekuatan distribusi, di mana market-market yang micro/kecil dapat menjual dengan total volume
yang lebih tinggi, dibandingkan dengan volume sebuah market makro/besar.
Market-market
kecil yang terdistribusi tersebut dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan kecil dan
memberikan konsumen kepada banyak pilihan.
Kekuatan
Long Tail dapat dibentuk oleh konsep Web 2.0, kembali pada contoh blog,
masing-masing blog individual merupakan titik-titik yang membentuk kurva ekor
panjang (Long Tail) yang memiliki pembaca (market dan konsumen) masing-masing.
Chris
Anderson juga menjelaskan Long Tail dengan contoh website Wikipedia, yang juga
merupakan perwujudan dari konsep Web 2.0.
Sebelum
keberadaan Wikipedia, Anda mungkin menganggap sebauh ensiklopedia sudah seharusnya
disusun oleh para pakar di mana setiap artikel harus melewati produser yang
ketat.
Wikipedia
membalikkan konsep awal tersebut dengan mengizinkan siapapun melakukan
kontribusi dengan menekan sebuah tombol “Edit This Page” pada website Wikipedia
dan membiarkan Anda atau siapapun menciptakan dan mengedit artikel di dalamnya.
Hasilnya
memang luar biasa, seperti yang Anda lihat hari ini, bahwa Wikipedia berkembang
dengan pesat, walaupun tentu pada awalnya tidak sedikit yang meragukan
validitas dan kualitas artikel di dalam Wikipedia.
Tetapi
ternyata, waktu menunjukkan bahwa Wikipedia memiliki kemampuan beradaptasi
secara organik, yang kembali menunjukkan kekuatan kolaborasi dari komunitas
yang terdistribusi.
Wikipedia
merupakan satu contoh sukses Web 2.0 yang memiliki karakteristik yang berbeda
dengan website konvensional. Pada website konvensional, pengunjung website
memperoleh informasi dari website tersebut tanpa memiliki hak lebih.
Karakteristik
Web 2.0 menginzinkan pengunjung website untuk bersama-sama memiliki dan
mengontrol content, sehingga website Web 2.0 umumnya memiliki aspek jaringan
sosial.
Singkatnya
dapat dikatakan, jika dulu pengguna website hanya menjadi pembaca, dengan
konsep Web 2.0 pengguna dapat menjadi pembaca dan penulis.
Level Web 2.0
O’Reilly memberikan contoh produk/perusahaan
untuk menjelaskan hinarki dari Web 2.0 yang dibagi atas empat level aplikasi,
yaitu:
Aplikasi Level 3:
Tersedia pada Internet, semakin efektif sejalan
dengan semakin banyaknya pengguna. Contohnya adalah website yang tentuny asudah
tidak asing lagi bagi Anda, yaitu eBay, Wikipedia, AdSense, dan lain
sebagainya.
Aplikasi Level 2:
Dapat beroperasi secara offline, tetapi akan memperoleh beberapa keuntungan jika
dioperasikan secara online. Contohnya
adalah photo sharing Flickr.
Aplikasi Level 1:
Tersedia secara offline, tetapi mengharuskan
untuk online jika ingin mengakses fitur-fitur tertentu. Contohnya adalah iTunes
atau Google Docs & Spreadsheet.
Aplikasi Level 0:
Dapat bekerja secara online maupun offline.
Contohnya adalah MapQuest, Google Maps, ataupun aplikasi non-web seperti e-mail
atau instant-messaging.
Teknologi pada Web 2.0
Dari sisi teknologi, konsep Web 2.0 membawa
perubahan pada elemen-elemen yang digunakan dalam pengembangan website. Teknik
maupun fitur teknologi yang sering kali menyertai website Web 2.0, antara lain:
Rich Internet
Application:
Rich Internet
Application atau
disingkat RIA merupakan aplikasi website yang memiliki fitur dan fungsi seperti
aplikasi desktop. Umumnya RIA dapat berjalan pada web browser biasa tanpa memerlukan instalasi software tertentu.
Keuntungannya, tentu saja menjadi website Anda
memiliki user interface yang lebih kaya dan responsif.
Tentunya, RIA tidak hanya digunakan pada Web
2.0, penggunaan RIA sangat luas dan dapat digunakan untuk pengembangan website
dengan keperluan yang bervariasi.
RIA dapat diimplementasikan dengan menggunakan
Ajax, Silverlight, Flash, dan lain sebagainya.
Folksonomy:
Merupakan sebuah metode untuk menciptakan dan
mengatur tag yang menjelaskan dan mengategorikan content. Tag tersebut umumnya
merupakan hyperlink yang akan
mengarahkan Anda pada sekumpulan item yang berhubungan dengan tag tersebut.
Mashup:
Merupakan aplikasi web yang melakukan kombinasi
data yang berasal dari lebih dari satu sumber, disajikan dalam satu content.
Contoh Web 2.0 yang menggunakan mashup adalah Google Maps, yang
menggabungkan data dari Google Maps sendiri bersama data real estate dari
Craigslist (sebuah jaringan komunitas online). Metode pengambilan data dari
sumber lain dapat menggunakan web feed (RSS
atau Atom), web services, ataupun screen scraping.
Software Wiki/Forum:
Software wiki maupun forum digunakan untuk
membantu pengguna menciptakan content-nya sendiri dan berkolaborasi satu sama
lain. Contohnya kembali pada Wikipedia, di mana Anda dapat dengan mudah
menciptakan dan mengubah content sebuah artikel.
Syndication:
Umumnya syndication
menyediakan web feed dari sebuah
website untuk para penggunanya, sehingga pengguna dapat mengetahui content
terbaru tanpa perlu mengunjungi web tersebut.
Dengan demikian, pengguna dapat mengetahui news terbaru dari sebuah website,
ataupun pesan terbaru pada sebuah forum.
Format syndication yang umum digunakan adalah
RSS, ataupun Atom.
Kebutuhan lain dari syndication adalah untuk
sebuah komunitas untuk berkolaborasi, misalnya syndication dapat digunakan pada
Wikipedia agar pengguna dapat memonitor perubahan yang terjadi pada content.
Teknologi tentu akan semakin berkembang untuk
mendukung revolusi yang dibawa oleh Web 2.0.
Konsep Web 2.0 membentuk komunitas
jaringan sosial sehingga semua orang dapat berperan serta di dalamnya, tentunya
hal ini semakin membutuhkan user
interface berbasis web yang mudah, agar content dapat diciptakan tidak
terbatas pada mereka yang memiliki skil dan pengetahuan tertentu.
Semua
orang yang dapat mengakses sebuah website Web 2.0, memiliki peran serta dalam
pengisian content.
Kebutuhan
ini mengarahkan teknologi untuk mewujudkan user interface pada aplikasi website
untuk menjadi semudah user interface pada aplikasi desktop.
Mungkin
di masa yang tidak terlalu jauh lagi, bekerja dengan spreadsheet, word proccesor, ataupun presentasi slide-show merupakan pekerjaan umum yang
dapat dilakukan aplikasi website, di mana dokumen-dokumen tersebut dapat
dikelola bersama oleh suatu komunitas jaringan sosial.
Setidaknya
hal ini telah dirintis oleh Google dengan Google Docs, yang menerapkan Web 2.0.
Web 2.0 seakan merupakan sebuah contoh
demokrasi “dari rakyat dan untuk rakyat”, yang dalam konteks Web 2.0 menjadi
“dari pengguna untuk pengguna”. Semakin banyak pengguna web, semakin banyak
pula kontribusi yang diberikan untuk membangun website Web 2.0.
Prinsip Web 2.0
Kita akan menguraikan kemampuan inti Web 2.0 ke
dalam 7 prinsip menurut O’Reilly yang menjelaskan kemampuan-kemampuan inti Web
2.0, yaitu:
Servis:
Bagi penggunanya, Web 2.0 bukan merupakan
sebuah software paket, tetap Web 2.0 adalah servis dengan skalabilitas biaya
yang efektif.
Kontrol:
Pengontrolan unik Web 2.0 menjadikan content
Web 2.0 menjadi semakin kaya, seiring dengan semakin banyaknya pengguna.
Kepercayaan:
Pengguna Web 2.0 merupakan co-developer Web 2.0. Dalam hal ini terjalin kepercayaan antara
penyedia Web 2.0 dan pengguna.
Kepandaian Kolektif:
Mengarahkan website untuk memanfaatkan kepandaian
secara kolektif merupakan salah satu kelebihan Web 2.0. Aktivitas yang
dilakukan pengguna membuat website berkembang secara organik.
Anda dapat melihat artikel-artikel yang terus
bertambah setiap harinya pada Wikipedia dan website-website wiki lainnya, atau
website eBay yang menciptakan pasar dengan adanya pengguna yang berlaku sebagai
pembeli dan penjual, menampilkan produk-produk yang membuat eBay menjadi toko
maya yang serba ada.
Long Tail:
Web 2.0 menciptakan kurva Long Tail yang
memberikan variasi pilihan yang tidak terbatas.
Level Software Diatas
Device:
PC tidak lagi menjadi satu-satunya device untuk aplikasi Internet, dan
aplikasi yang hanya terbatas pada sebuah device
menjadi kurang bernilai dibandingkan dengan aplikasi yang terkoneksi dengan
Internet. Web 2.0 merupakan sebuah servis terintegrasi berbagai device, entah mobile/handheld device, PC, ataupun
server Internet.
Kemudahan:
Dukungan kemudahan pada Web 2.0 mencakup user
interface, model programming, maupun
model bisnis.
Penutup
Mungkin Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa
Web 2.0 sebenarnya bukan merupakan hal yang sama sekali baru. Terbukti
Amazon.com telah dimulai sejak tahun 1995, telah lama mengimplementasikan
konsep Web 2.0 dengan memberikan fasilitas pada pengunjung untuk menuliskan review dan pedoman suatu produk untuk customer.
Terlepas
dari itu, hal mengangumkan yang dihasilkan oleh website Web 2.0 saat ini
adalah: kontribusi pengguna tanpa saling mengenal satu sama lain, dari berbagai
latar pendidikan dan budaya, telah mampu bersama-sama memelihara eksistensi
website Web 2.0.
Tentunya
cukup banyak pelajaran yang bisa kita ambil bersama-sama, bahwa teknologi
ternyata mampu menyumbangkan sesuatu yang berguna dan mencerdaskan, berasal
dari komunitas pengguna teknologi itu sendiri.
Walaupun
demikian, tidak sedikit kritisi yang berpendapat bahwa Web 2.0 sebagaimana era
dot com pada tahun 1997 – 2001 adalah sebuah balon (bubble) yang tinggal menunggu waktu untuk pecah, karena terlalu
banyak produk yang sama tetapi miskin inovasi dari sisi model bisnis.
Tetapi,
sejarah juga mencatat bahwa keruntuhan era dot com tidak berarti keruntuhan
bagi perusahaan-perusahaan dot com, seperti Google, Yahoo!, eBay, Amazon, dan
masih banyak lagi, yang memang memiliki kualitas dan mampu beradaptasi dengan
era globalisasi.
Memang
tidak dapat dipungkiri banyaknya website plagiant yang tidak menawarkan inovasi
baru dan hanya memiliki jurus aji mumpung, Anda dapat menganggapnya sebagai
seleksi alam (maya), yang tentunya tidak akan menghambat Anda untuk berkreasi
menghasilkan karya bermutu.
Adalah
pilihan kita sendiri untuk menggunakan teknologi pada hal yang bermanfaat
ataupun menyia-nyiakan waktu (bagaimanapun, seorang spammer juga menggunakan teknologi, bukan?)
Akhir
kata, selamat menikmati era Web 2.0 dan menggunakannya sebaik mungkin, dan
bersiap menyambut versi Web selanjutnya. Joko
Nurjadi.