Bosan dengan layanan kenikmatan yang itu-itu
saja? Inilah party paling gila.
Diawali dengan Nude Fashion dan
berakhir dengan Three Some Sex.
Sebuah Short
Messages Service (SMS) masuk ke ponsel saya, ketika sore baru saja jatuh.
Dari bos gede, begitu saya menyebut Didit, kawan dugem saya. Isi pesannya
singkat. ‘Mau ikut pesta gila nggak’.
Ketika saya berbalik bertanya tentang pesta tersebut, pemilik show room di kawasan Halim Jakarta Timur
ini tidak mau banyak komentar. “Lo telp nomor 0812100935XX aja,” jawabnya.
Perintah Didit saya laksanakan. Beberapa kali
saya mencoba menghubungi nomor itu, namun tak ada jawaban. Saya kembal
imengontak Didit. “Coba aja ampe bisa,” katanya. Didit sendiri mengaku tak tahu
itu nomor siapa. Kawan saya yang getol bertualang ini baru saja terima SMS dari
nomor tersebut. Isinya : ‘Anda Bosan? Mau variasi baru…Pesta Paling Gila! Call
0812100935XX No SMS.’
“Atur ajalah, kali ini memang lebih gila,” kata
Didit lagi. Terdorong penasaran, malamnya saya kembali mencoba menghubungi
nomor itu. Tetap sama saja, ada nada sambung namun tak ada jawaban. Perkara SMS
itu terus menghantui pikiran saya.
Kamis malam dua pekan silam, atau dua hari
setelah SMS itu dikirim, Didit menyambangi ‘markas’ saya di kawasan
Pejompongan. Mau cari angin, katanya. Sebelum jalan, saya teringat soal SMS
itu. Dan saya mencoba menghubunginya lagi. Tetap tidak ada jawaban. Tapi ajaib
ketika Didit yang menghubungi nomor itu, ternyata langsung tersambung. Suara
lelaki dari seberang ponsel, terdengar menyapa ramah. Setelah berbasa-basi,
lelaki yang bernama Roy ini memaparkan sekilas sajian yang ditawarkan.
Saya menangkapnya seperti sebuah party sex, namun Roy membantahnya. “Beda
bos, ini paket terbaru kami. Pasti bos belum pernah mencoba deh,” promo dia. Tak lupa, lelaki itu
menyebut beberapa persyaratan. Selain cover
charge Rp. 2 juta per orang, atau paket Rp. 5 juta untuk tiga orang,
pesertanya dibatasi hanya 20 orang. Gadis-gadis yang tersedia hanya gadis-gadis
pribumi, namun profesinya berbeda-beda. Sebagian besar adalah model dan artis
pendatang baru.
Saya minta waktu untuk berunding sejenak. Namun
Didit langsung meresponnya. “Boleh deh, ambil
saja,” tandasnya. Saya cuma mengamininya. Saya tahu, urusan duit bankir-nya
pasti Didit.
Saya kembali mengontak Roy dan memastikan ikut
acara yang promosinya bikin kepala nyut-nyutan.
Ternyata acara tersebut tak diadakan saban hari, atau satu minggu hanya dua
kali. Rabu malam dan Jumat malam. Itu pun jika minimal pesertanya telah ada 10
orang.
Sistem pembayarannya, bukan dengan cara
transfer layaknya party sex yang
pernah saya ikuti. “Bayarnya nanti saat ‘registrasi’. Untuk tempatnya tunggu
konfirmasi dari kami,” terang Roy.
Selang satu jam Roy kembali menelpon. Kali ini
hanya menanyakan apakah ada teman kami yang lain yang berminat dengan acara
tersebut. Ia memberikan garansi kepuasan, dan lagi-lagi meyakinkan kami bahwa
sajian yang ditawarkan tak mungkin ditemui di belantara Jakarta.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan ini lelucon
belaka. Apalagi Didit sendiri mengaku tidak kenal dengan Roy. Dari mana ia tahu
nomor teleponnya? “Kita lihat saja nanti,” jawab Didit sekenanya.
Saya bimbang, namun tiba-tiba kebimbangan itu
raib. Ah, bukankah sex show yang
digelar di sebuah tempat hiburan yang ada di hotel bintang lima di kawasan
Senen Jakarta Pusat dulu promonya cuma lewat iklan di koran? Sungguh tak
sepadan, dengan cover charge yang
dikenakan kala itu. Baik saya atau Didit berharap bahwa even kali ini bukan
cuma main-main. Dan tentunya benar-benar belum pernah ada, seperti janji Roy.
Hari Rabu yang ditunggu tiba. Siangnya Roy
menghubungi saya, sekadar mengingatkan, sekaligus meminta saya datang untuk
‘registrasi’ pukul 19.00 WIB, meskipun acaranya sendiri baru akan digelar pukul
21.00 hingga pukul 03.00. Alasan Roy, tempat diselenggarakan party berbeda dengan tempat
‘registrasi’.
Kami ikut aturan. Saat malam mulai jatuh, Didit
menjemput saya. Selanjutnya mobil x-trail hitam yang kami tumpangi menelusuri
jalanan ibukota yang terasa padat lantaran berbarengan dengan jam pulang
kantor.
Tak sulit mencari alamat yang diberikan Roy.
Patokannya Boulevard Kelapa Gading, kira-kira tak sampai 1 km dari boulevard,
kami tiba di sebuah komplek perkantoran yang beberapa blok telah diperuntukkan
seperti areal hiburan. Kami mengontak Roy, dan diarahkan menuju ke salah satu
tempat hiburan disana. Kami sempat kaget, karena tempat yang dimaksud Roy
adalah tempat yang sudah sering kami kunjungi. Bahkan Didit tercatat sebagai
pelanggan tetap di sana. “Tenang aja bos, kita ketemu dulu aja,” kata Roy
meyakinkan kami.
Di pelataran parkir kami di sambut Roy.
Selanjutnya di bawa masuk ke dalam tempat hiburan yang sudah tak asing lagi
bagi kami. Ya. Tempat itu memang tempat hiburan berkelas di kelapa gading,
karena menyediakan gadis-gadis muda yang cantik-cantik dan berbobot. Tarif
gadis-gadisnya pun di kenal paling mahal di antara tempat-tempat hiburan yang
ada di kawasan elit tersebut.
Kami diajak ke sebuah room, yang kami tahu adalah room
karaoke. Di sana telah menunggu empat orang lelaki. Dilihat dari
penampilannya yang necis dan
ekslusif, seperti lelaki-lelaki yang umurnya sudah tidak muda lagi itu adalah
orang-orang berduit. Kami saling dikenalkan oleh Roy. “Santai saja dulu,” kata
Roy.
Setelah menawarkan minuman, lelaki mata sipit
yang kelihatan enerjik itu pamit keluar sebentar. Sementara musik di dlaam room itu mengalun lembut, kami saling
ngobrol tak tentu arah. Dari obrolan demi obrolan, saya teringat kembali soal
SMS yang dikirimkan ke nomor Didit.
Ketika hal itu saya tanyakan kepada enam lelaki
tersebut, mereka mendapatkan SMS yang sama, dan tak mengenal Roy sebelumnya.
Saya mulai paham. Apalagi setelah tahu bahwa yang mendapat SMS tersebut adalah
orang-orang yang sering datang ke tempat hiburan yang sekarang kami datangi.
Sepertinya telah terbentuk jaringan di dalam
tempat hiburan tersebut. Entah jaringan itu bagian dari manajemen atau tidak.
Lantas apakah acara yang akan digelar benar-benar akan diadakan di tempat lain?
Apakah ada kaitannya antara Roy dengan tempat hiburan tersebut. Setahu kami,
tempat itu memang menyediakan gadis-gadis untuk penyaluran hasrat kelelakian,
namun tak pernah ada pesta gila atau apapun namanya. Pikiran saya melambung
kemana-mana.
Belum habis memikirkan tentang Roy atau siapa
dibalik acara yang akan digelar, Roy kembali datang. Kali ini bersama tiga
lelaki. Saya seperti enam lelaki yang sebelumnya sudah ada di room, tiga lelaki itu sepertinya seorang
bos. Setidaknya bisa kami tebak dari penampilan atau aksesoris yang mereka
kenakan.
Kini di dalam room telah ada 11 orang. Roy tidak meninggalkan kami lagi. Ia mulai
menjelaskan aturan main acara yang akan digelar. Pesta tidak diadakan di tempat
tersebut. 11 peserta akan dibawa ke suatu tempat, dan tidak diperkenankan
membawa kendaraan. “Kami jamin kendaraan bos-bos aman,” kata Roy sambil
tersenyum. Pembayaran akan dilakukan setiba di tempat yang dituju nanti. Kami
semua setuju. Dan hampir bersamaan Roy bangkita dari tempat duduk dan mengajak
kami siap-siap jalan.
Di pelataran parkir telah tersedia dua mobil
Avanza berplat nomor Bogor. Kami dipersilahkan naik. Roy sendiri ikut dalam
rombongan itu dan duduk di samping sopir. Saya melirik arlojo di tangan. Jarum
jam menunjuk pukul 20.00 WIB. Dua mobil itu berangkat beriringan, membelah
malam yang mulai lenggang.
Kami melewati boulevard Kelapa Gading lagi dan
mengambil arah ke timur. Setelah berbelok dua kali, kami tiba di sebuah rumah
bertingkat yang lumayan mewah. Pagar rumahnya tinggi, hingga bagian teras rumah
tersebut nyaris tak kelihatan dari luar. Lokasi rumah tersebut dengan tempat
hiburan waktu kami berkumpul kira-kira ditempuh hanya dalam waktu lima belas
menit, jadi jaraknya tak terlalu jauh.
Tiba di depan rumah, Roy membunyikan klakson
mobil beberapa kali. Tak lama kemudian pintu pagar rumah dibuka dua orang
lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang warna gelap. Setelah kedua mobil
yang kami tumpangi masuk, kedua lelaki itu kembali menutup pintu pagar.
Kami digiring ke sebuah ruangan, melewati ruang
tamu yang interiornya sangat lux. Dinding-dindingnya tersapu cat putih bersih.
Beberapa perabot rumahnya di disain warna senada. Penerangan dalam ruangan itu
sengaja dibuat temaran. Tak ada aktivitas sama sekali, hanya sayup terdengar
suara musik. Kami mengikuti langkah Roy, hingga tiba di halaman belakang.
Dengan penerangan yang juga temaram, suasananya berubah 180 derajat.
Alunan musik lembut masih terdengar jelas,
menyambut kedatangan rombongan kami. Beberapa kursi dari kayu tertata rapi
mengelilingi sebuah meja panjang yang juga terbuat dari kayu. Ornamen klasik di
setiap sudut meja atau kursi, membuat furnitur itu terlihat mahal.
Di atas meja panjang beberap ajenis minuman
keras telah disiapkan. Mulai dari Red Wine, Tequila hingga Brandy. Ada beragam
jenis buah-buahan dan soft drink yang melengkapi sajian di atas meja.
Tak jauh dari meja panjang itu ada kolam renang
yang tak terlalu besar. Yang membuat kami enggan berkedep, di dalam kolam
renang ada sekitar 20 gadis-gadis muda, cantik, dan menggairahkan. Ada yang
tinggi, putih, berdada besar, rambut pirang, mata sipit, hitam manis, atau
berambut keriting. Semuanya lokal.
Mereka berenang ke sana kemari, tanpa sehelai
benangpun menempel di tubuh mereka. Mereka tersenyum, sambil meliuk-liukkan
tubuh mereka, seakan memancing gairak kelelakian kami.
Di tengah keasyikkan kami menikmati pemandangan
indah itu, Roy menghampiri kami dan membisikkan sesuatu. Rupanya ia meminta cover charge yang telah disepakati.
Setelah urusan keuangan beres. Roy memberi isyarat kepada gadis-gadis yang ada
di kolam renang.
Satu persatu gadis tanpa busana itu bangkit dan
berbaris. Sejurus kemudian melenggak lenggok layaknya seorang peragawati,
seiring dengan bergantinya musik lembut yang berubah dengan musik RnB. Tetap
tanpa busana, mereka hilir mudik di tepi kolam renang. Mata mereka nakal
menggoda. Tubuh-tubuh mulusnya, makin membangkitkan birahi. Wow….Nude Fashion.
Puas melenggak-lenggok, mereka menghampiri meja
kami. Ia menawarkan minuman, tetap dengan tubuh yang tak dibaluti sehelai
benang sama sekali. Sementara musik terus menghentak, satu persatu gadis-gadis
itu merayu kami untuk menuju ke sebuah ruangan, yang tak lain adalah sebuah
kamar. Ada banyak kamar yang telah tersedia. Sekitar 10 sampai 12,
masing-masing ada di lantai satu hingga tiga. Kamar-kamar tersebut komplit
dengan fasilitas layaknya kamar sebuah hotel. Ada pendingin ruangan, televisi
warna, hingga perlengkapan handuk dan sabun.
Puas melayani kami, gadis itu mengajak kembali
ke tempat pesta. Kali ini, ia tidak lagi mendampingi kami, namun bergabung
dengan peserta lain. Sementara gadis yang lain, gantian bersama kami. Jadi
saling bertukar pasangan. Sementara musik terus mengalun, dan minuman keras
terus mengalir ke kerongkongan, gadis-gadis itu tak henti-hentinya menggoda
birahi.
Ketika malam mulai larut, acara makin seru.
Beberapa peserta nampak masuk ke dalam kolam renang dengan didampingi para
gadis-gadis tersebut. Lantaran jumlah gadis yang ada lebih banyak atau dua kali
lipat dari jumlah peserta, tak sedikit satu orang peserta didampingi dua atau
bahkan tiga orang gadis.
Gawatnya, tak jarang dari gadis-gadis itu
mengajak kami ke dalam kamar bersama-sama. Hmm…Three Some Sex! Malam itu benar-benar menjadi malam yang gila.
Setiap peserta bebas menumpahkan keinginannya, bebas bergantian dengan
gadis-gadis yang telah disediakan. Sepanjang pesta berlangsung, tak satupun
dari gadis-gadis itu yang mengenakan pakaian, kecuali sekadar handuk. Itupun
cuma sesaat atau ketika mereka berada di dalam kamar.
Selagi kita mampu, selagi kita kuat sebagai
lelaki, gadis-gadis yang rata-rata berusia belasan itu dengan senang hati akan
melayani keinginan kita.
Di bawah pengaruh alkohol, saya sempat
berkenalan dengan seorang gadis. Namanya Rika. Ia asli Bandung. Ngakunya seorang model yang beberapa
kali main sinetron. Ketika saya tanya apakah sering ikutan acara seperti itu,
Rika hanya tersenyum. “Baru tiga kali Bang,” katanya singkat. Tempatnya sama,
dan yang memintanya datang juga sama, yaitu Roy.
Lantas, berapa Rika dibayar untuk semua itu?
Rika enggan berterus terang “Yang penting cukup bang,” katanya sambil
bergelayut manja. Yang pasti, profesi yang dijalaninya kini, tetap membuatnya enjoy, meski aturan yang ditetapkan
menurut gadis berkulit kuning langsat itu tergolong ketat.
Ya. Berbeda dengan di tempat hiburan pada
umumnya, gadis-gadis yang ada di pesta tersebut dilarang meminta tips. Bahkan
sebelum acara di mulai, Roy sempat memberikan arahan agar tak memberi tips pada
tiap gadis yang menemani mereka. Dan yang tak boleh dilanggar oleh para gadis
itu, mereka tak boleh menolak setiap keinginan peserta pesta.
Saya sempat menangkap kebohongan dibalik raut
muka Rika. Meski bersikap polos, namun sifat profesionalismenya tak bisa
disembunyikan. Rika bukan gadis biasa atau bukan gadis baru di gemerlap
ibukota. Itu yang saya tangkap dari dirinya. Tentang profesi model atau artis
pendatang baru, boleh jadi benar.
Saat pesta berlangsung, saya hampir tak melihat
batang hidung Roy. Saya juga tak melihat adanya Waiters. Semua dilayani oleh gadis-gadis yang bertelanjang bulat
tersebut. Hanya petugas yang membersihkan kamar tidur, sesekali kami jumpai.
Petugas keamanannya pun hanya terlihat saat membukakan pintu gerbang dan ketika
kami baru memasuki rumah. Kalau tak salah hanya empat orang. Sedang dua sopir
yang membawa kami, juga tak tahu di mana rimbanya. Kami seakan dilepas, bebas,
untuk menghabiskan malam dengan sesuka hati.
Iseng-iseng, saya sempat tanya kepada salah
seorang gadis, namun ia mengaku tak tahu dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Saat waktu terus bergulir dan sang waktu menunjuk angka 01.00 WIB, barulah Roy
muncul. Kesempatan itu tak kami sia-siakan.
Saya menghampiri Roy. Kepada lelaki yang murah
senyum itu saya menanyakan konsep acara yang
digelar apakah selalu seperti itu. Awalnya Roy enggan menjawab, namun lama
kelamaan ia mau buka kartu.
Roy punya mimpi ingin mempunyai klub yang lain
daripada yang lain. Ia penyuka dugem. Hampri tidak ada klub di Jakarta yang tak
pernah didatangi, namun yang ditemui hanya itu-itu saja. Sejak saat itu ia
mulai berpikir untuk memiliki klub yang private,
dengan konsep acara yang gila-gilaan.
Niatnya disambut beberapa rekannya, yang
akhirnya mereka bekerja sama dan memilih tempat yang sekarang digunakan untuk
pesta. “Rumah ini kosong. Kalau ada acara aja baru ramai,” kata Roy. Bersama
rekan-rekannya itu pula, Roy terus mengemas acara demi acara, mengikuti tren
yang berkembang. “Konsepnya harus gila, dan belum pernah ada di tempat hiburan
di Jakarta,” lanjutnya.
Kiprah Roy terbentur pengunjung atau peserta
pesta. “Dulu saya sempat beriklan di koran, namun beberapa kali terendus aparat
keamanan,” terang Roy sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Akhirnya ia menemukan cara yang efektif, yaitu
membajak tamu-tamu dari tempat hiburan. Aksinya lumayan aman lantaran beberapa
tempat hiburan terkemuka yang diburu lelaki berkocek tebal, sempat ia singgahi.
“Mereka tahunya saya datang ke tempat tersebut ingin cari cewek. Padahal saya
hanya mencari tamu yang royal, dan saya undang ke pesta yang saya bikin,”
tambah Roy penuh semangat.
Saat ini, meskipun baru berjalan enam bulan
namun klub-nya sudah mulai dikenal orang. Mereka yang sudah pernah ikut acara,
tinggal konfirmasi kapan ada acara lagi dan bisa langsung datang sendiri. Di
balik itu, Roy terus memburu peserta baru, dari tempat hiburan yang satu ke
tempat hiburan yang lain.
Agar tak membuat pengunjung bosan, konsep acara
selalu berubah. Gadis-gadis yang disediakan pun selalu berganti. “Saat ini
hanya gadis-gadis lokal. Suatu saat kami akan sediakan gadis impor,” tandasnya.
Untuk tarif Rp 2 juta, menurut Roy tak terlalu
mahal. “Kalau di tempat lain Rp 1 juta hanya bisa menikmati satu gadis. Disini,
dengan Rp 2 juta mereka bisa menikmat gadis hingga lima orang,” lanjut Roy
dengan bangga.
Diakui Roy, keterbatasannya ada pada minuman.
“Minuman yang tersedia terbatas. Disini kami berikan cuma-cuma,” katanya. Roy
berharap, suatu saat klub-nya bisa menjadi besar, dan menjadi sarana hiburan
alternatif bagi lelaki di ibukota yang bosan dengan sajian yang monoton.
Saya manggut-manggut. Antara percaya atau
tidak, namun hati kecil saya kagum dengan aksi Roy. Dan tak terasa, waktu
bergulir begitu cepat. Jarum jam akhirnya menunjuk pukul 03.00 WIB. Roy
memberikan kode bahwa pesta bakal usai. Meski rada malas, kami tetap bergegas
menuju mobil Avanza yang akan mengantar kembali ke tempat hiburan dimana kami
pertama kali bertemu Roy. Tiba di sana, tempat hiburan tersebut masih terlihat
ramai. Jadi ketika kami mengambil mobil, nyaris tak ada yang curiga bahwa kami
telah mengarungi perjalanan yang sangat dahsyat!
***Jangan ada yang pernah mencontoh hal-hal di
atas, ok***