Kesempatan Kedua
Posted by louis7zen on October 28, 2007
Kesempatan Kedua
Teman pria saya sedang suntuk karena pacarnya memutuskan
hubungan cinta mereka yang baru berjalan sembilan bulan dan buat teman saya
hubungan itu adalah segalanya.
“Gue belum
pernah pacaran dan mencintai seperti sekarang ini,” katanya.
Saya kaget sekali dan berpikir, ucapannya itu bisa berarti
pacar-pacar sebelumnya tak pernah dia cintai dengan porsi sama. Sementara
mungkin saja pacar-pacarnya yang terdahulu itu telah merasa kalau teman saya
mencintai dengan mendalam.
“Gue sudah
kasih segalanya. Apa saja yang dia maui,” kata teman saya lagi. “Tetapi, kenapa
tiba-tiba dia memutuskan hubungan itu begitu saja?” lanjut dia lagi.
Saya terdiam,
tak tahu mau berbicara apa. Saya ini tak pernah pacaran, kalau jadi simpanan
saya pernah. Meski itu juga tampak seperti pacaran, tetapi cara penanganannya
tidak sama. Jadi, untuk menit-menit pertama saya hanya menjadi pendengar yang
baik. Padahal, saya ini jarang sekali bisa menjadi pendengar, maunya selalu
menguasai pertandingan mengobrol.
BMG
Ia menceritakan
ia sudah datang ke empat teman-temannya untuk menceritakan cerita cintanya ini
untuk mendapatkan solusi. Jadi, ternyata saya adalah temannya kelima yang dia
datangi.
“Cari second opinion, boleh dong?” ungkapnya.
Saya hanya berpikir, mencari opini keduako sampai ke lima
tempat. Setelah bercerita kepada keempat temannya itu, mereka mengambil
kesimpulan sebaiknya teman pria saya itu berhenti melanjutkan hubungan cintanya
meski ia sendiri yang melakoni merasa inilah masa pacaran yang terbaik yang pernah
terjadi dalam hidupnya, sampai-sampai ia pun tak berpikir pacarnya yang
memutuskan itu seperti pemikiran teman-temannya.
“Bukan karena
gue buta ya, tetapi gue tahu banget bahwa dia bukan tipe seperti itu,” lanjut
dia lagi.
Saya tambah
bingung lagi, bahkan cenderung terkesima. Pacaran hanya sembilan bulan, ia
sudah tahu segalanya tentang pacarnya itu. Saya jadi simpanan dua tahun, tak
tahu siapa pacar saya itu seratus persen. Bahkan saat itu pun saya sendiri tak
tahu saya ini maunya apa melakoni cinta lewat belakang.
Kalau teman
pria saya itu tahu segalanya soal pacar dan hubungan cintanya, yaa…seharusnya
ia juga tahu memprediksi “bencana” yang akan timbul dan seberat apa bencana itu
akan terjadi. Katanya kan dia tidak buta. Yaaa…paling tidak ia bisa seperti
BMG yang mampu memperkirakan kapan banjir dan kapan gempa akan tiba. Jadi, mampu memberi informasi berguna
buat manusia seperti saya yang tinggal di apartemen, sampai subuh-subuh saya
harus dievakuasi, sebelum terjadi gempa berikutnya.
Salah satu
teman kami yang ikut nimbrung memberi komentar. “Sejujurnya, waktu lo ngenalin cewe lo ke gue, gue dah merasa hubungan lo enggak bakal
bertahan lama.” Saya lebih bingung lagi mendengar komentar teman saya itu.
Saya mulai
berasumsi teman pria saya tampaknya tidak tahu yang sebenar-benarnya siapa
pacarnya itu. Karena orang luar lebih tahu, lebih sensitif, bahkan bisa seperti
BMG, dan hasilnya pun akurat, ketimbang teman saya yang sedang menjalani
peristiwa kasmaran itu sehingga tak bisa melihat atau memperkirakan masa
kadaluwarsa cerita cintanya. Padahal menurut dia, ia tahu banget pacarnya dan mengaku dia tidak buta karena cintanya.
Karena nila setitik
rusak susu sebelanga
Ia mengaku,
saat masa pendekatan itu terjadi status pacarnya masih milik orang lain. Jadi
ia berselingkuh dengan teman saya. Saya kaget lagi. jadi,sudah tiga kali saya
kaget, selamat saya tak tersedak makanan pedas di rumah makan padang pada malam
itu.
Bagaimana
teman pria saya bisa mengatakan ia tidak buta, la wong pacarnya itu mendekatinya dengan cara tidak benar? Bahkan
ia juga tetap keukeuh membiarkan
perselingkuhan itu terjadi dan malah mampu membuat wanita itu pindah ke
pelukannya? Jadi, ia punya andil membiarkan kerusakan hubungan orang lain
menjadi makin hebat. Bagaimana ia merasa tidak buta, tetapi mampu mencuri milik
orang lain? “Laaaa…kalau dia buta,
Mas, yaaa ….enggak jadi diembat,” celetuk teman saya.
Katakanlah ia
memang tidak buta, bagaimana ia bisa mempercayai seorang pencuri untuk jadi
pacarnya? Saya harus mengacungkan jempol kepada teman pria saya itu, ia mau dan
memilih melakoni perjalanan asmaranya dengan seorang pencuri yang tidak setia.
Tidakkah ia takut suatu hari ia juga akan ditinggalkan cintanya pacarnya itu
juga shopping ke mana-mana?
Setelah saya
berpikir demikian, saya malu karena saya pernah ada pada situasi seperti
pencuri. Dan pada masa itu saya menganggap tindakan saya bukanlah kekeliruan.
Ternyata saya keliru. Akankah saya sebagai bekas pencuri masih bisa dipercaya,
diberi kesempatan kedua untuk mengubah status saya yang pencuri itu menjadi
manusia yang bisa dipercaya?
Satu minggu lalu saya bersama teman-teman
membagikan makanan kepada sebuah rumah singgah di daerah Jakarta Barat. Rumah
singgah itu ditujukan buat membantu anak-anak jalanan mendapat pendidikan lebih
layak, bahkan sebagian besar dari mereka dahulu menjadi pengganggu keamanan di
jalan raya. Satu di antaranya sekarang malah ada yang sudah kuliah tingkat
tiga, bekerja rangkap menjadi sopir di salah satu keluarga, dan meninggalkan kehidupan
masa lalunya itu.
Melihat dan
mendengar cerita pengelola rumah singgah itu saya salut dan rasanya malu
sekali. Di hadapan saya, berdiri manusia yang mampu untuk tidak melihat masa
lalu seseorang, sejahat apa pun mereka. Manusia yang mampu memberi kesempatan
kedua kepada mereka yang dianggap pencuri dan yang dipandang mata umum sudah
tak mampu dibenahi.
Saya lebih
malu lagi karena saya tak pernah mau memberi kesempatan kedua. Bahkan saya tak
pernah mempercayai kesempatan kedua dan mempercayai perilaku buruk itu bisa
menjadi baik, saya akan tetap curiga dengan berpikir, suatu hari pasti akan
kumat lagi.
Dahulu saya
jahat dan menjadi pengganggu yang tak ada bedanya dari manusia di rumah singgah
itu. Bedanya, saya tidak di jalan raya, tetapi di perjalanan cinta orang lain
dan dalam tulisan dan perilaku saya. Akibat dari kejahatan masa lalu itu,
sampai hari ini masih banyak orang tetap menganggap saya tak bisa dibenahi
lagi, tepatnya tak bisa dipercayai untuk dibenahi.
Sampai ada
situs tentang cerita tentang para jet set
Jakarta, dan salah satu manusia anonim menfitnah saya dengan berasumsi saya
adalah manusia di balik pembuat situs itu. Padahal saya justru tahu situs itu
dari teman-teman saya. Saya mungkin belum pantas mendapat kesempatan kedua,
bahkan mungkin tak akan pernah, karena bisa jadi mereka berpikir seperti cara
saya berpikir. Tak ada ampun bagimu!
Memberi Kesempatan
Kedua
Karena saya
baru terpukul oleh fakta yang saya lihat sendiri saat datang membagikan makanan
di rumah singgah bagi mereka yang dianggap tak perlu mendapat kesempatan kedua,
saya baru mlai melek, meski masih riyep-riyep,
maka kilas Parodi ini hanya akan berisi pemikiran saya yang riyep-riyep itu.
Ada baiknya
bila Anda menyediakan waktu sekali-kali mengunjungi mereka yang bekerja seperti
di rumah singgah itu untuk melihat dari dekat bagaimana kesempatan kedua itu
perlu diberikan. Ini supaya Anda jangan seperti saya, bersikeras tidak
mengampuni kemudian merambat menjadi tidak mampu berpikir positif dan akhirnya
bersikeras tidak memberi kesempatan kedua.
Karena saya
baru melek dan riyep-riyep, melihat
kesempatan kedua itu masih kabur, seperti kalau saya sedang membaca tanpa
kacamana plus. Jadi, agar tidak riyep-riyep
terlalu lama, maka gunakanlah kacamata plus (positif) Anda. Jadi, lebih jelas
melihat sebelum menghakimi orang lain, dan berkata tak ada ampun bagimu.
Kalau Anda
susah seperti saya untuk memberi kesempatan kedua, coba pikirkan kalau sekarang
Anda yang dalam posisi membutuhkan kesempatan kedua itu. Waktu saya melihat bagaimana
manusia di rumah singgah itu mampu memberi kesempatan kedua buat manusia yang
saya anggap tak layak itu, mereka membuyarkan pengertian saya bahwa manusia
yang jahat tak mampu diubah menjadi baik. Masalahnya, apakah saya dan Anda mau
menjadi baik terlebih dahulu memberi kesempatan kedua itu. Kalau melihat satu
dari mereka duduk di bangku kuliah setelah menjadi penodong di jalan raya
sekian tahun, alangkah egoisnya saya kalau saya berpikir tak ada ampun bagimu.
Saya hanya akan menghalangi kesempatan mereka memiliki masa depan yang lebih
baik.
Ingat Saudara,
kalau Tuhan saja memberi kesempatan kedua, ketiga, keempat, keseratus kepada
Anda, kok saya dan Anda bisa berani mati tidak memberi kesempatan kedua,
ketiga, keseratus untuk sesama manusia?
Memberi
kesempatan kedua itu susah tampaknya, apalagi kalau saya tersakiti. Tetapi,
teman saya mengingatkan lagi kalau Tuhan juga sudah berulang kali tersakiti
karena ulah saya, Ia toh masih memberi kesempatan kedua kepada saya berupa
hidup dan nyawa setiap hari selama 44 tahun. “Padahal 20 tahun jadi penjahat
dan maling ya, bo,” komentarnya.
Kesempatan
kedua yang saya maksud bukan di artikan kalau gagal mengambil pacar atau
pasangan orang. Anda mencoba lagi dan pantang menyerah. Atau kalau gagal
korupsi, maka Anda memberi kesempatan kedua untuk mencoba lagi. (SM)