Lucky

Sabar

Posted by louis7zen on August 4, 2007

Sabar

 

Minggu lalu saya ke Bali. Tiba di lapangan terbang, saya langsung antre di muka gerai check-in dengan mata riyep-riyep karena waktu masih menunjukkan pukul empat pagi.

 

Tak lama kemudian, seorang pria hitam menyerobot langsung menuju gerai check-in. Tanpa merasa bersalah, ia maju dan menyelesaikan urusannya, yang seharusnya belumlah tiba waktu gilirannya. Saya berpikir, apakah ia buta sampai tak melihat saya berdiri di depannya dan tidakkah ia bisa menempatkan dirinya bila dia yang diserobot?

 

Tak lama setelah si pria hitam berambur keriting itu selesai, giliran seorang ibu dan anak kecilnya menyerobot. Saya bertanya lagi, apakah mereka itu tak melihat saya berdiri? Saya sampai ketakutan, apakah tiba-tiba semua orang tidak bisa melihat saya? Apakah saya tiba-tiba jadi seperti hantu? Pasalnya, kejadiannya sampai dua kali berturut-turut.

 

 Yah…saya diam saja, saya tak protes. Sudah lelah rasanya berkelahi hanya untuk hak. Saya hanya berpikir, toh ketika tiba saatnya nanti Tuhan meminta pertanggungjawaban dari si bapak dan si ibu, dan para tukang serobot lain, semoga mereka bisa bertanggung jawab dan semoga mereka tak menyerobot masuk surga sebelum waktunya tiba.

 

 Saya tak mau bercerita soal hak, saya mau bercerita mengenai waktu yang dipaksakan tiba. Kalau melihat perjalanan hidup saya, saya tak bedanya dengan bapak dan ibu itu. Maka, saya tak terlalu marah saat kejadian itu berlangsung karena saya sering kali seperti mereka juga, menyerobot. Tidak hanya dalam antrean, tetapi menyerobot hak orang, menyerobot keuntungan orang.

 

 Menyerobot adalah mengambil kesempatan yang belum sepantasnya datang kepada saya dan saya memaksakan dan atau memajukan kedatangan kesempatan itu menjadi lebih awal dari yang sudah ditentukan Tuhan. Jadi, secara singkat saya ini termasuk golongan yang tidak sabar menanti kedatangan kesempatan itu karena saya sering kali ingin mendahului orang lain. Mendahului dengan cara tidak benar.

 

 Ketidaksabaran itu pun saya lakukan saat minggu lalu saya tiba di Bali setelah perjalanan satu setengah jam. Begitu pesawat mendarat dan belum berhenti benar, saya sudah mulai bangun dari tempat duduk untuk mengambil barang bawan saya. Saya langsung menyerobot dengan maju ke depan supaya bisa keluar dari badan pesawat itu paling pertama. Bahkan, saya berdiri di kabin kelas utama.

 

 Ketika pintu pesawat terbuka dan kami diizinkan keluar, sayalah yang duluan keluar. Padahal, penumpang kelas utamalah yang sepantasnya keluar terlebih dahulu. Saya menyerobot, memaksakan waktu yang belum saatnya tiba. Saya tak sabar menunggu. Untuk apa saya melakukan itu? Saya mau buru-buru supaya antrean taksi pun jangan sampai membuat saya didahului orang banyak.

 

 Sementara di dalam pesawat ketika saya menyerobot, ketika pesawat belum berhenti benar di parkirannya, penumpang lain pun menyerobot dengan menyalakan telepon genggam mereka. Maka, di dalam badan pesawat itu semua jenis ring tone berbunyi. Padahal, saatnya belum tiba untuk menyalakan telepon genggam. Namun, siapa yang peduli? Semua orang tak sabar. Mereka seperti saya, memajukan waktu untuk menyalakan alat komunikasi itu sebelum waktunya tiba.

 

 Saya juga tak ada bedanya dari para koruptor. Mereka, yang tak tahan bersabar mendapat kesempatan menjadi kaya sesuai dengan rencana Tuhan, memajukan rencana Tuhan yang sepantasnya belum tiba untuk mereka, dengan jalan pintas itu.

 

 Saya dan para koruptor itu sangat tidak sabar meniti karier dari bawah, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, tak sabar jalan di jalur lambat karena melihat banyak mobil (mewah) seliweran di jalur cepat. Itu semua menggoda nurani yang tadinya sabar dan setia menjadi tidak sabar dan tidak setia dan kemudian melangkah lebih maju dengan menyerobot keuntungan orang lain.

 

 Ketidaksabaran membuat saya dan para koruptor itu menjadi buta dan kemudian dengan sejuta alasan masuk akal mempertahankan di ruang pengadilan dengan dua kata yang paling klise dan paling basi: saya tidak bersalah. Katakan saja seperti sekarang ini, saya tidak kaya, dan kalau itu pun sudah suratan hidup, mengapa saya sampai memaksakan menjadi kaya sampai harus menyerobot?

 

 Nah, ini peristiwa yang satu lagi: berselingkuh. Saya pernah melakukan itu karena kesepian. Saya kemudian menyerobot milik orang lain karena sudah tidak sabar menanti datangnya jodoh saya. Sebab, setelah sekian puluh tahun menanti, si jodoh tak kunjung tiba sampai saya sendiri sudah mirip pungguk meski saya tak sampai merindukan bulan. Saya merindukan manusia. Ketidaksabaran menunggu datangnya manusialah yang membuat saya menyerobot milik orang.

 

 Merasa bersalah? Tentu tidak. Namanya juga menyerobot, mana ada rasa bersalah. Kalau punya rasa bersalah, saya pastikan saya tak akan melakukan penyerobotan itu. Meski secara jujur, saya tahu, bahkan si bapak hitam berambut keriting di gerak check-in itu pun tahu bahwa menyerobot adalah tindakan yang tak benar sama sekali. Akan tetapi, saya bisa mematikan pengetahuan tentang kebenaran tersebut dengan membuat kebal nurani saya sampai tak merasakan rasa bersalah itu.

 

Kalau Anda mau jadi sabar?

 

 Syarat pertama dan wajib adalah memiliki keinginan menjadi sabar dan tidak suka menyerobot. Saya yang sudah punya keinginan itu saja masih saja tidak sabar, bagaimana membayangkan yang sama sekali tidak punya keinginan?

 

 Bila saja Anda bisa ngobrol dengan teman-teman dekat saya, mereka akan memberi tahu Anda status ketidaksabaran saya meski saya sudah punya keinginan. Mereka akan memberi jawaban dengan memberi tahu Anda jumlah angka dari telepon genggam yang saya banting ke lantai setiap kali kesabaran saya hilang.

 

 Menurut pengalaman saya, dan saya tidak tahu pengalaman Anda, menjadi sabar dan punya perilaku yang tidak suka menyerobot sangat dipengaruhi kedewasaan seseorang.

 

 Jadi, kalau saya masih juga suka tidak sabar dan suka menyerobot, sekali lagi menurut pengalaman saya, saya itu belum dewasa. Kalau anda tanya umur saya, sekarang saya berusia empat puluh empat tahun. Masih sukakah saya berperilaku tidak sabar dan menyerobot? Masih. Jadi, dewasakah saya? Well, Anda tahu jawaban yang tepat, bukan?

 

 Jadi, kalau saya melihat si bapak hitam di gerai check-in itu dan para koruptor, mereka berarti belum dewasa, sama seperti saya. Benarlah sekali lagi kalimat dari sebuah produsen rokok yang sudah beberapa kali saya tulis dan tampaknya saat ini saya mesti menulis lagi. Bukan untuk Anda, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Sepertinya, saya masih suka memilih untuk tidak menjadi dewasa.

 

 Kalau Anda suka menyerobot gara-gara tidak sabar, coba bayangkan bila Anda yang diperlakukan demikian.

 

 Sebaliknya, kalau saya boleh sarankan, jangan cepat-cepat naik pitam dan berbicara soal hak dan berbicara untuk memberi pelajaran kepada seseorang kalau suatu hari Anda diserobot.

 

 Saya berlatih menjadi sabar dengan berpikir demikian: pertama, selamat saya tidak jadi seperti mereka sehingga saya tidak dibenci orang lain. Kedua, saya berpikir tindakan penyerobotan yang dilakukan kepada saya oleh orang lain merupakan latihan agar saya bisa naik ke level kesabaran lebih tinggi lagi. Singkat cerita, kalau suatu hari saya di serobot, mengucap syukurlah kepada Tuhan memilih saya untuk dilatih menjadi orang benar.

 

 Gampang berpikir demikian? Tidak sama sekali saudara-saudara, karena sakit hati diserobot itu akan tetap Anda rasakan. Jadi, Anda mau ikut saran saya ini, silakan, engga mau ya tidak apa-apa.

 

 Orang sabar dikasihi Tuhan. Ayo tebak, orang tidak sabar dikasihi siapa?

 

(SM 07/2007)

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>