Lucky

Nurani Keibuan Bisa Terkikiskah?

Posted by louis7zen on August 4, 2007

Nurani Keibuan Bisa Terkikiskah?

 

Segitiga, bapak-ibu-anak merupakan rangkaian peran yang berinteraksi dalam dinamisitas sirkuler yang bersifat resiprokal. Artinya, eksistensi peran bapak-ibu-anak baru akan tercipta dalam harmoni bila ketiga peran tersebut saling mengisi dan diisi. Dan nurani keibuan tidak luput dari eksistensi peran ibu dalam hakikat nurani keibuannya yang tumbuh dan berkembang dari harmoni relasi dinamika sirkuler yang bersifatresiprokal antar ketiga peran tersebut….

 

“Ibu, sebenarnya saya sudah merasa cukup punya anak satu. Saya tidak ingin menambah anak karena selama ini saya tidak pernah dibantu suami saat mengurus anak pertama. Dia sibuk dengan penyakitnya dan tidak pernah berhenti mengeluhkan kondisi kesehatannya. Pulang kerja dia akan menonton televisi, baca koran, atau main games dari komputer hingga malam hari, kemudian dia masuk ke kamar untuk tidur. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk sedikit mengeluarkan uang untuk kegiatan liburan atau hobi bersama”

 

“Dia sangat pelit, bahkan, barang-barang yang sudah tidak terpakai pun tidak boleh dibuang atau diberikan kepada yang membutuhkan. Rumah jadi dipenuhi tumpukan barang bekas berdebu, rumah jadi bukan tempat yang nyaman pula.”

 

“Dia juga tidak pernah mengajak saya jalan-jalan atau makan di luar atau berekreasi di dalam kota, apalagi ke lain kota. Saat anak pertama masih kecil, dia tetap sibuk dengan kegiatan sendiri, jarang bicara. Pengalaman ini membuat saya bertekad hanya akan punya anak satu saja karena pada dasarnya saya adalah orang tidak sabaran dan tidak senang anak kecil.”

 

“Lebih baik disuruh kerja keras di kantor daripada disuruh mengurus anak di rumah. Suami melarang saya kerja dan saya tidak berani memaksakan kehendak karena kalau dia marah, teriakan dan makiannya menakutkan.”

 

“Sebenarnya saya sudah ber-KB, tetapi rupanya Tuhan berkehendak agar saya melahirkan anak kedua. Jadi saat ini umur anak pertama sembilan tahun, sedangkan kedua baru tiga bulan. Capek, Bu. Kesal, Bu, malas sekali saya ngurus kedua anak itu, Bu. Dengar tangisan bayi pun saya pusing, Bu. Apalagi anak pertama saya sulit sekali diatur, sekolah harus dibangunkan berkali-kali, malas buat pekerjaan rumah. Saya benci kepadanya, apalagi raut mukanya persis seperti ayahnya. Karena jengkelnya, akhirnya saya sering memukul anak pertama saya itu. Tiap hari pembawaan  saya marah, kesal, dan jengkel. Apa yang saya harus lakukan, Bu?

Ny. L (35 th)

 

Dari ungkapan di atas, kita menyimak bahwa dalam diri L terkesan seolah nurani keibuan sirna secara perlahan dan pasti. L tidak suka dengan kehadiran dua anak laki-laki yang sehat dan lucu. Ia marah-marah sepanjang hari, bahkan anak pertama sering membuatnya tidak terkendali untuk memukulinya.

 

Lihat anak pertama saja sudah membuatnya dilanda rasa benci karena kebetulan raut wajah anak tersebut mirip sekali dengan sang ayah. Maka, terciptalah relasi ayah-ibu-anak dalam rangkaian interelasi resiprokal yang jauh dari harmoni. Ayah yang sibuk sendiri, ibu yang marah-marah terus dan sering memukuli anak pertama yang tidak nurut, serta peningkatan sikap membangkang anak pertama yang terasa semakin tinggi. Dinamika sirkuler yang semakin tidak harmonis meningkat dari hari ke hari. Kondisi ini tanpa disadari mengikir kadar nurani keibuan pada diri L.

 

Dukungan kasih, perhatian, pengertian, serta kebersamaan dalam mendidik dan mengasuh anak dari peran suami yang sekaligus ayah dari kedua anaknya rupanya hilang oleh sikap mental suami serta perlakuan suami. Interelasi yang resiprokal antara L dan suami menghambat pertumbuhan dan perkembangan nurani keibuan L.

 

Ia pusing mendengar bayinya menangis, memukuli anak pertama yang dinilai membangkang, dengan hukuman-hukuman fisik berlanjut, maka relasi ibu-anak pun menjadi tidak harmonis dan kondisi ini berpengaruh terhadp dinamisitas sirkuler yang tidak harmonis bagi keutuhan interaktif resiprokal antar ketiga peran tersebut.

 

1) Tidak dapat dimungkiri, tumbuh kembang nurani keibuan tidak bisa dilepaskan dari peran suami yang sekaligus ayah anak-anak, yang seyogyanya memberi dukungan kasih, perhatian, dan pengertian kepada isteri dan juga terhadap anak. Memang dalam kasus ini mengubah sikap mental “Tn L” yang tampaknya sudah menahun bukan upaya sederhana dan mudah. Maka, konseling keluarga menjadi sarana penting bagi perubahan sikap mental ‘Tn L” sehingga “Tn L” akhirnya mendapat kesadaran untuk mulai mengubah sikap mentalnya demi perbaikan struktur interelasi dalam satu keutuhan harmoni resiprokal ayah-ibu-anak dalam keluarganya dan menstimulasi kembali nurani keibuan isterinya.

2) Menata rumah sehingga menjadi tempat hunian yang bersih dan nyaman.

3) Menghindari hukuman verbal (bentakan, cercaan) serta hukuman fisik terhadap anak pertama, dengan cara intropeksi, membayangkan diri dalam peran anak yang sering dimarahi, dibentak, dan dipukul oleh orangtua. Bagaimana perasaan yang dihayati anak selama ini sehingga dapat memahami kenapa reaksi anak selama ini dinilai semakin membangkang dan menjengkelkan.

4) Berlatih berkomunikasi dengan dasar penuh kasih dalam keluarga.

5) Di atas segalanya, bersama suami mensyukuri berkat Tuhan dengan kehadiran dua anak yang sehat, yang sangat membutuhkan kebersamaan kedua orangtua penuh kasih dalam tumbuh kembangnya.

 

 

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>