Lucky

Membedakan Kebutuhan dari Keinginan

Posted by louis7zen on August 4, 2007

Membedakan Kebutuhan dari Keinginan

 

Alkisah, Edi – sebut saja begitu namanya – lagi gandrung dengan sebuah laptop. Ia yang kini mahasiswa semester tiga jurusan komputer, bukannya iri sama Tukul yang beken di Tv, tapi ia betul-betul merasa butuh sebuah komputer jinjing. Dengannya Edi dapat mengerjakan tugas-tugas kuliah di mana saja dengan mudah. Di kampus, ia bisa browsing di mana saja karena ada fasilitas Wi-Fi gratisan untuk akses internet. Daripada harue ke warnet atau akses dari rumah – selain waktunya kurang fleksibel, ia juga harus keluar uang – lebih baik ia membeli laptop.

 

Lihat-lihat harganya, ternyata sekarang tidak terlalu mahal. Sebuah laptop sudah bisa dibeli dengan harga lima jutaan Rupiah. Dengan menyisihkan uang saku dan minta bantuan ortu, serta melego PC yang ada di rumah, beberapa bulan saja laptop sudah ada ditangannya.

 

Di pameran baru-baru ini, ia sudah mendapatkan laptop idamannya. Bahkan ia sudah melihat-lihat dan mengamati speknya (spesifikasi) di situs vendor perangkat tersebut. Di salah satu “toko online” ia lihat harganya sedikit miring. Saking niatnya memboyong laptop ke rumah, Edi tak segan mampir ke puluhan website untuk membaca review produknya di berbagai media. Bahkan ia sempat men-download gambarnya untuk dijadikan wallpaper PC di rumahnya.

 

Serasa keinginannya tak terbendung. Hampir di setiap kesempatan ia mengamati harga laptop idamannya yang belum beranjak turun. Ia coba-coba sedikit membandingkan dengna merek lain yang punya spesifikasi mirip. Tapi tetap, ia lebih suka tipe laptop yang sudah diidamkannya.

 

Singkat cerita, tibalah saat untuk membeli laptop karena dana yang dibutuhkan sudah di tangan. Pergi ke sentra komputer, keluar masuk toko untuk sekedar membandingkan harga yang sedikit beda sungguh menyenangkan Edi. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli laptop buruannya di sebuah toko yang menawarkan sedikit kelebihan di sisi pelayanan purna jual.

 

Minggu-minggu pertama setelah membeli laptop, ia bawa komputer jinjing itu kemana saja – tempat kuliah dan tempat kos temannya. Alasannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Tetapi di hari-hari berikutnya, Edi mulai malas menggunakan laptop-nya. Waktu istirahat di kampus, ia tak lagi membuka laptop-nya untuk browsing. Ia merasa bosan karena memang browsing ke sana kemari tidak memberi banyak manfaat. Ia tak lagi membawa laptop ke kampus. Bahkan ketika ada rencana untuk mengerjakan tugas kelompok di tempat kos teman, ia malas membawa laptop-nya. Toh tugas itu bisa dikerjakan bersama di PC desktop milik temannya, begitu ia beralasan.

 

Ia mulai menyadari, sebenarnya laptop yang dulu diimpi-impikan itu ternyata tidak ia butuhkan. “Kebutuhan” yang ia pikirkan kala itu ternyata hanya sebuah keinginan, tidak lebih. Kini laptop itu teronggok di meja belajarnya dan jarang sekali ia sentuh.

 

Kisah ini mewakili sebuah gambaran bahwa kebutuhan akan sebuah barang belum tentu betul-betul merupakan sebuah kebutuhan yang sesungguhnya. Tetapi “Kebutuhan” tersebut hanyalah sebuah keinginan. Coba renungkan, pernahkah Anda meras membutuhkan suatu model ponsel atau smartphone. Anda sanga mengidamkannya. Anda membutuhkannya karena fitur kalender yang Anda bayangkan bisa Anda gunakan untuk mencata agenda kegiatan. Anda juga merasa membutuhkan karena ada fitur radio FM dan MP3 player-nya, jadi Anda dapat menghibur diri di mana saja.

 

Tetapi dasar lacur, setelah ponsel pintar itu ditangan Anda, Anda makin jarang memanfaatkan fitur yang sebelumnya Anda merasa butuhkan. Hari-hari berikutnya, Anda tak lagi memanfaatkan fitur itu. Padahal, karena fitur tersebut, Anda rela mengeluarkan uang lebih.

 

Jadi, pandai-pandailah memilah kebutuhan di antara keinginan-keinginan Anda. Orang bijak bilang, berpikirlah “melingkar” lebih dahulu sebelum membuat keputusan. Mungkin Anda tidak mengorbankan banyak waktu untuk sekedar merenungkannya sejenak terlebih dahulu daripada keputusan yang Anda buat ternyata merugikan dan hanya meluapkan nafsu yang bernama keinginan.

 

Coba saja bayangkan bila pemimpin dewan tetap ngotot ingin membeli laptop supaya anggota dewan naik kinerjanya. Dana negara sekitar 12 milyar Rupiah akan habis menguap sementara kinerja wakil kita tetap saja tak berubah. Untungnya proses berpikir melingkar sudah dilaksanakan oleh pimpinan dan anggota dewan. Lah masak iya kinerja dapat terdongkrak begitu saja gara-gara sebuah laptop?

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>