Enough is Enough
Posted by louis7zen on July 14, 2007
Enough is Enough
Saya bertemu teman saya yang sangat berjiwa sosial, yang sangat berbeda dengan saya yang sok sial.
Ia bercerita, beberapa hari sebelum kita bertemu hari ini, ia membagikan makanan kepada seorang pemulung. Kegiatan sosial kecil-kecilan ini dilakukannya bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, tetapi sudah menjadi kehidupannya setiap hari.
Jadi, soal kegiatan beri-memberi ini tampaknya sudah menjadi gaya hidupnya. Sementara gaya hidup saya, menerima, menerima, dan kalau bisa terus menerima.
Teman saya melanjutkan ceritanya. Pagi itu dalam perjalanan ke kantor, ia melakukan kegiatan sosialnya itu seperti biasa. Ia memberi makanan kepada seorang pemulung. Saat ia memberi, si pemulung menolak bungkusannya, dan dengan rendah hati si pemulung mengatakan, “Terima kasih, Pak. Bapak berikan saja ke pemulung lain atau orang lain yang lebih membutuhkan. Saya sudah kenyang.”
Teman saya berkaca-kaca matanya saat menceritakan kepada saya dan berkomentar, “Bayangin, mereka yang hidup sesederhana itu saja masih mampu mengingat orang lain. Mampu tidak jadi egois dan serakah. Gue bener-bener pagi itu ditampar habis.”
Teman saya tertampar, tetapi dia tak menyadari ceritanya itu, juga sudah menampar saya. Jadi mirip multilevel marketing. Si pemulung menampar teman saya, teman saya menampar saya, dan sekarang giliran saya menampar sapa???
Jika ada yang merasa tertampar, terus terang saya tak pernah berniat demikian.
Ketika saya mendengar cerita teman saya itu, saya memeriksa kembali bagaimana saya hidup. Dari sejak saya, mendapat gaji sebagai karyawan. Saya tak pernah merasa cukup.
Berbeda sekali ketika saya masih di sekolah dasar, bahkan saat menjadi mahasiswa kedokteran. Karena saya tak berpenghasilan, saya merasa punya uang atau tidak, tak pernah menjadi masalah. Saya merasa cukup-cukup saja. Bukan hanya karena saya tak perlu membayar kos karena saya tinggal dirumah orangtua saat itu, tetapi saya bahagia-bahagia saja karena kebutuhan saya cuma menjadi mahasiswa. Deodoran saja saya tak pernah membeli.
Ketika saya pertama kali mendapat upah sekian ratus ribu belasan tahun lalu, saya senang sekali karena saya tak pernah menerima uang sebanyak itu dari orangtua saya yang masuk dalam kategori orangtua kikir. Maka, saya mulai berpikir kalau saya bekerja dan semakin giat, pemasukan saya semakin banyak. Apalagi saat diberitahu pada akhir tahun akan mendapat bonus dan THR.
Saya lalu berpkir, memiliki uang itu enaknya setengah mati.
Dari saat itulah, sampai sekarang, saya mau bekerja keras untuk uang. Karena saya punya uang, saya bisa membeli apa yang saya mau, dan dengan bahasa “sok sial” saya mengatakan seperti ayah saya yang pernah menceramahi saya, kalau kita punya banyak uang, maka kita bisa membantu orang lebih banyak lagi.
Waktu itu saya manggut-manggut, menyetujui pendapat karena belum tahu betapa nikmatnya punya uang yang bisa di-investasikan di saham, di beberapa perusahaan, dan di sejuta tempat ber-investasi, daripada menolong orang. Saat itu, saya melihat betapa mulianya aya saya.
Saat saya mampu berpenghasilan lumayan, mau menolong orang susahnya setengah mati. Menyisakan sekian ratus ribu saja untuk menolong orang selalu saja ada suara berbunyi di dalam hati, eh….ada sale sepatu bermerek, setelah memiliki sekian belas pasang alas kaki bermerek yang tak punya nilai apa pun setelah diinjak-injak. Apakah Madame Imelda merasa cukup memiliki sepatu beribu pasang? Saya jadi ingin sekali bertanya, buat perempuan sepertinya, apakah arti kata cukup.
Mungkin saja ayah saya dan saya sekarang tak pernah mengerti artinya cukup. Itu mengapa saya selalu mau minta kenaikan gaji. Padahal, kalaupun gaji senantiasa dinaikkan, saya yakin saya toh senantiasa tak pernah merasa cukup. Karena tak pernah mengerti artinya cukup, saya berpikir mana mungkin saya menolong orang, lha wong saya sendiri tak pernah merasa cukup.
Saya berpikir, saya harus cukup dahulu baru dapat menolong orang. Sama seperti si pemulung, setelah perutnya kenyang, ia baru dapat berpikir untuk orang lain. Bila kasusnya ia belum makan, maka saya yakin bingkisan makanan itu akan diterima untuk dirinya dan ia tak akan menyarakan teman saya untuk memberikan kepada orang lain yang membutuhkan karena ia sendiri merasa belum cukup.
Sekarang kita mengatakan diri kita Cukup, Belum Cukup, atau Tak Mau Cukup?
Sudah punya satu rumah, masih mau memiliki dua, bahkan tiga rumah lagi.
Sudah punya rumah 500 meter persegi, masih mau 5.000 hektar dan lima apartemen di lima benua.
Sudah punya satu telepon genggam, masih mau tiga telepon genggam lagi.
Sudah punya tiga telepon genggam, masih mau PDA, Blackberry, dan selai strawberry.
Sudah punya anak satu perempuan, masih mau anak laki karena merasa tak afdal.
Sudah punya mobil satu, masih mau tiga mobil lagi, mau jalan macet karenanya, itu bukan urusan.
Sudah punya tiga mobil baru, motor besar lima buah, masih mau pesawat pribadi. Jadi kalau sudah bisa membuat macet jalan di Bumi, maka kalau bisa memacetkan jalan di atas Bumi.
Sudah punya satu tas bermerek, masih mau 15 tas bermerek lagi.
Sudah punya 12 pasang sepatu, masih mau 120 pasang sepatu lagi. Model sama bahkan tak menjadi masalah. “Warnanya kan beda,”
Sudah punya satu perusahaan, masih mau punya 22 perusahaan.
Sudah punya satu isteri, masih mau punya dua isteri lagi dan dua lusin selingkuhan.
Sudah punya gaji satu juga rupiah, masih mau lima belas juta rupiah, dan masih mau serarus lima puluh juta rupiah.
Sudah punya satu kartu kredit, masih mau punya tujuh kartu kredit lainnya.
Sudah punya kartu kredit perak, masih mau yang emas, masih mau yang platinum.
Sudah punya pacar perempuan, masih mau punya pacar laki-laki. “Kan yang penting kasih sayang,” celetuk teman saya yang biseksual.
Sudah punya dua lemari penuh pakaian bermerek, masih mau punya dua lemari lagi yang penuh dengan barang bermerek lainnya.
Sudah mencapai target penjualan yang ditentukan, masih saja mau menaikkan lagi target penjualan yang lebih tinggi.
Sudah empat puluh tahun lebih sekian tahun saya hidup, saya masih saja tak mengerti artinya cukup. Tolonglah, saya diberi penjelasan apa artinya cukup. Karena buat si pemulung makan pagi saja sudah cukup, saya makan tujuh kali sehari (tiga kali yang utama dan empat kai yang camilan) saja, kadang saya masih merasa tak cukup. [SM]