Mengenal Feature Digital SLR
Posted by louis7zen on June 16, 2007
Mengenal Feature Digital SLR
Apa sajakah feature dan fasilitas yang ada dalam kamera digital SLR? Untuk menambah pengetahuan kita tentang aneka Feature kamera DSLR tersebut, sekiranya hal ini bisa membantu dalam memaparkan sebagian besar fearute tersebut, diantaranya:
- Jendela bidik berbasis WYSIWYG
Ini bukan merupakan bahasa isyarat atau bahasa purba melainkan merupakan singkatan dari “what you ses is what you get” (yang Anda lihat adalah yang Anda dapat). Berbeda dengan bidang pandang jendela bidik (viewfinder) optis dalam kamera digital saku (yang umumnya tidak sama dengan bidang pandang sensor gambar), jendela bidik dalam kamera digital SLR memiliki bidang pandang yang sama dengan bidang gambar sensor. Artinya, apa yang kita lihat dalam jendela bidik kamera digital SLR, akan dilihat pula oleh sensor gambar kamera digital SLR. Ini memungkinkan kita untuk bisa memperkirakan bagaimana foto tersebut akan terlihat / tersimpan nantinya.
Hal ini dimungkinkan karena mata kita melihat obyek menggunakan lensa yang sama dengan lensa yang dipakai oleh sensor untuk merekam gambar. Pandangan via lensa (through the lens) ini bisa tercipta berkat bantuan konfigurasi ruang bidik dan sebuah cermin putar. Pada saat tombol pelepas rana belum ditekan, cahaya yang masuk akan dipantulkan oleh cermin putar ke arah prisma (pentaprism). Dari sini, cahaya akan diteruskan ke jendela bidik sampai ke mata kita / fotografer.
Pada saat kita telah selesai melakukan pengaturan fokus, mengatur besaran rana, mengatur kecepatan bukaan, dan mengatur komposisi gambar, kita akan menekan tombol pelepas rana. Pada saat tombol pelepas rana ini ditekan, cermin putar akan terangkat ke atas sehingga cahaya yang tadinya dipantulkan dan diarahkan ke atas, akan langsung menuju sensor gambar. Sensor gambar kemudian akan merekam obyek yang sudah dipilih kita dan menyimpan rekaman ini ke kartu memori.
- Lensa yang bisa dilepas-pasang
Salah satu feature SLR digital yang digemari para fotografer (dan tidak bisa disaingi kamera digital saku) adalah lensa yang bisa dilepas-pasang. Dengan kemampuan ini, kamera SLR bisa menggunakan aneka lensa untuk berbagai keperluan. Misalnya, jika fotograger ingin memotret pandangan seluas 180 derajat, kita bisa menggunakan lensa mata ikan (fisheye lens). Lensa ini memiliki sudut pandang sebesar 180 derajat sehingga bisa mencakup daerah pemotretan yang sangat luas. Meskipun perspektif yang dihasilkan tidak senormal pandangan mata manusia, lensa ini sangat berguna untuk merekam obyek yang luas seperti panorama atau arsitektur gedung.
Fotografer juga bisa menggunakan lensa lain untuk keperluan pemotretan jarak jauh. Dengan menggunakan lensa tele, sebuah obyek yang terletak sangat jauh dan berbahaya (misalnya gunung berapi atau hewan liar), akan bisa dipotret dengan baik. Lensa tele juga bisa dipakai untuk memotret peristiwa huru-hara dan peperangan yang terjadi pada suatu wilayah. Dengan lensa ini, peristiwa yang berbahaya tersebut akan bisa direkam tanpa harus cemas dengan kemungkinan terkena peluru nyasar.
Kamera lensa bisa dilepas-pasang, dengan sendirinya kita bisa membeli tubuh kamera baru tanpa harus membuang lensa yang lama. Lensa-lensa yang telah kita beli ini justru merupakan koleksi sekaligus investasi berharga untuk meningkatkan kemampuan kamera DSLR yang kita miliki. Di samping itu, kita juga bisa memilih lensa dari pembuat lensa lain jika diinginkan. Hal ini disebabkan banyak pembuat lensa yang menawarkan lensa-lensa khusus untuk dipakai pada merek kamera tertentu.
- Lampu kilat berdaya besar
Meskipun sebagian kamera digital SLR telah memiliki lampu kilat terpasang, kita masih bisa menggunakan lampu kilat tambahan. Lampu kilat ini bisa dipasang dalam dudukan khusus yang disebut hot shoe dan biasanya berada tepat di atas jendela bidik.
Dengan lampu kilat ini, dimungkinkan pemotretan menggunakan cahaya yang cukup saat cahaya ruangan sekitar tidak mampu menerangi obyek pemotretan dengan baik.
Lampu kilat ini bisa memiliki kekuatan pencahayaan yang diindikasikan dengan angka panduan / guide number (GN). Semakin tinggi guide number, semakin kuat pencahayaan yang dihasilkan lampu kilat. Dalam lampu kilat, angka panduan ini biasanya menggunakan ISO 100 sebagai patokan dasar. Misalnya, jika sebuah lampu kilat memiliki panduan 14/11, artinya adalah jika menggunakan lensa dengan panjang fokus (focal length) 14mm, kekuatan pencahayaan bisa mencapai jarak sekitar 11 meter pada kecepatan pencahayaan ISO 100. Dengan demikian, jika angka ISO dinaikkan, jarak pencahayaan lampu kilat akan meningkat.
- Sensor gambar yang lebih besar
Berbeda dengan sensor gambar yang dipakai dalam kamera digital saku, yang biasanya hanya berukuran beberapa milimeter persegi, kamera SLR digital menggunakan sensor gambar yang lebih besar. Keuntungan dari penggunaan sensor gambar berukuran lebih besar ini adalah obyek gambar bisa dipotret secara lebih utuh dan lebih rinci. Selain itu, karena berukuran lebih besar dibandingkan kamera digital saku, hasil pemotretan menggunakan sensor yang lebih besar akan bisa dipotong (crop) untuk berbagai keperluan.
Beberapa tipe kamera tertentu, seperti Canon EOS 5D, memiliki ukuran sensor gambar yang mendekati ukuran film (full-frame sensor), yakni 35,8×23,9mm. Dengan ukuran sensor sebesar ini, fotografer bisa memanfaatkan lensa-lensa kamera SLR film sepenuhnya. Penggunaan sensor yang lebih besar ini juga memungkinkan fotografer membuat foto yang memiliki rincian gambar yang lebih baik.
Selain menggunakan sensor dengan ukuran penuh, beberapa kamera digital SLR menggunakan sensor gambar tipe APS-C. APS-C merupakan singkatan dari Advanced Photo System type-C. Sensor APS-C memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh atau dibandinkan ukuran film seluloid. Karena berukuran lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh (yakni hanya berukuran 22,2×14,8mm). Sensor ini hanya mampu merekam bidang pandangan yang lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh.
Hal ini membuat sensor APS-C biasanya memiliki faktor pengali (multiplier) sekitar 1,6 kali dibandingkan sensor ukuran penuh (atau dibandingkan ukuran film). Karena itu, jika menggunakan sensor gambar ini, obyek gambar akan membesar sekitar 1,6 kali sama dengan jika kita menggunakan zoom 1,6 kali pada ukuran kamera film atau kamera digital bersensor ukuran penuh.
Sensor tipe APS-C ini lebih banyak dipakai dalam kamera digital SLR mengingat harganya yang lebih murah dibandingkan dengan sensor gambar berukuran penuh.
- Sistem fokus yang lebih banyak dan akurat
Kamera digital SLR memiliki sistem fokus yang lebih banyak dan akurat untuk menangani aneka keperluan pemotretan. Misalnya, pada Canon EOS 400D, terdapat 9 titik fokus untuk kepentingan pemotretan kreatif atau untuk kepentingan penonjolan obyek. Dengan sistem fokus semacam ini, sebuah obyek yang tampil tajam tidak selalu berada di tengah lensa. Selain berfungsi otomatis, pengaturan fokus ini juga bisa kita atur agar sesuai dengan keinginan kita.
- Penyimpanan gambar dengan format RAW
Feature ini merupakan salah satu kemampuan kamera digital SLR yang tidak dimiliki kamera digital saku. Jika disimpan dalam format RAW sebuah gambar tidak banyak mendapat “sentuhan” atau modifikasi dari sistem pemroses gambar dalam kamera. Dengan demikian, rincian gambar seperti warna, pixel, dan informasi lainnya tidak banyak berubah (cenderung sesuai aslinya). Format ini memungkinkan fotografer melakukan penyuntingan gambar secara leluasa layaknya melakukan penyuntingan gambar film negatif. Namun, karena tidak banyak mengalami proses kompresi seperti fomat JPG atau TIFF, gambar yang disimpan dalam format RAW biasanya memiliki ukuran yang besar sehingga membutuhkan memori yang lebih besar.
- Kepekaan cahaya yang lebih tinggi
Kamera digital SLR juga memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi dibandingkan kamera digital saku. Saat ini, sebuah kamera digital SLR umumnya memiliki kepekaan sampai ISO 1600. Bahkan untuk kamera digital SLR tertentu, terdapat nilai ISO sampai 3200. Ingat bahwa semakin tinggi nilai ISO, semakin peka (sensitif) sensor gambar. Artinya, semakin sedikit cahaya yang diperlukan untuk merekam obyek menjadi gambar. Dengan kepekaan cahaya yang tinggi ini, kita bisa memotret obyek dalam situasi pencahayaan yang minim, misalnya di luar ruangan pada malam hari, museum, pertunjukan teater atau konser, dan suasana kota di waktu malam.