Lucky

Cinta

Posted by louis7zen on June 16, 2007

Cinta

 

 Hari sabtu pekan lalu, untuk pertama kalinya saya berdiri di depan mimbar gereja dalam acara pemberkatan pernikahan teman pria saya. Saya berdiri tepat di sisi kirinya. Tentu itu bukan pemberkatan pernikahan seorang biseksual yang dapat bermain ganda campuran.

 Saya sendiri sebagai salah saksi pernikahan itu. Selang beberapa menit, acara itu pun di mulai. Teman pria saya dan isterinya mengikrarkan janji mereka akan setia sampai mati.

 Mau miskin, mau kaya, mau sakit, atau mau sehat. Kesetiaan tetap nomor satu. Demikian secara garis besar janji yang dikeluarkan melalui mulut kedua memperlai di hadapan pendeta dan jemaat, dan tentu yang utama berjanji kepada Tuhan untuk tetap satu hidup, satu mati…eh salah, sehidup semati.

 Perasaan saya tiba-tiba seperti es campur setelah mendengar janji pernikahan yang buat saya tak masuk akal itu, terutama bagi saya yang diberi predikat kutu loncat. Loncat dari satu “kepala” ke “kepala” yang lain, maksudnya.

 Saya berpikir lagi, seandainya saya seperti kedua manusia itu, apakah saya bisa atau tepatnya berani berkata seperti itu? Menyadari sepenuhnya ucapan yang hanya berdurasi dua menit itu memerlukan komitmen jangka panjang tak tergoyahkan. Yaa…kalau sehat terus, kaya terus. Bagaimana kalau nanti isteri saya lumpuh di tengah jalan? terus saya diharapkan harus setia, kuatkah saya?

 Ya….kalau lumpuhnya dua puluh delapan hari, kalau dua puluh delapan tahun? Bisakah saya melakoninya? Bagaimana kalau seorang pria, saya masih butuh makanan jasmani? Menikah lagi? Lha wong katanya hanya Tuhan yang boleh memisahkan, bukan manusia, meski kenyataannya banyak manusia yang lebih hebat dengan lebih berani melanggar sumpahnya sendiri, dengan menggunakan sejuta alasan masuk akal. Masuk akal di kepala manusia dan tidak masuk akal di mata Tuhan, maksudnya.

 Itu baru masalah kelumpuhan. Bagaimana kalau semuanya berjalan lancar, tetapi ada wanita milik orang lain atau janda lain atau perawan lain tetapi sesungguhnya tak perawan, yang jauh lebih menarik dari isteri saya? Karena kalau mau jujur, mata saya senang shopping di mana-mana, seperti seorang temen pria saya yang suka menggandeng dan menggendong isteri orang.

 

Bingung I

 Saya tersentak kaget saat pendeta mengizinkan saya kembali ke tempat duduk. Saya adalah saksi teman saya untuk berjanji setia seumur hidup. Saya bingung sekali, dan tiba-tiba rasa takut menyerang saya, kok saya mau memenuhi permintaan teman saya itu untuk menjadi saksi tanpa berpikir panjang. Bagaimana seandainya teman saya ini melanggar janjinya, apakah pendeta, seluruh jemaat yang melihat, mertua, dan keluarganya akan menelpon dan mendatangi saya untuk meminta pertanggungjawaban sebagai saksi?

 Satu hari kemudian, setelah saya kebingungan di mimbar gereja, tepat pada hari Minggu, adik teman saya meninggal dunia. Saya datang ke rumah duka, sang ayah menangis tak berhenti. Saya tentu tak tahu mengapa ia menangis. Apakah sedih beneran, apakah sedih karena rasa sesal tak pernah mencintai anaknya dengan sungguh, apakah ini dan apakah itu, benar-benar saya tak tahu.

 Saya malah membayangkan sang ayah itu saya. Akankah saya menangis ketika isteri saya meninggal? Kalaupun saya menangis, pertanyaannya kemudian, apakah saya akan mengeluarkan air mata sampai tersedu-sedu dengan sebenar-benarnya dan bukan sedang berakting seperti bintang film?

 Apakah saya menangis karena menyesal – untuk saat itu – karena saya berselingkuh dan tidak menepati janji sehidup semati? Apakah malah saya menangis hanya sebagai aksi bersedih, tetapi dalam hati bersyukur karena saya bisa tak perlu menceraikan isteri saya dan saya jadi kelihatan setia, dan kematiannya membebaskan saya pada akhirnya dari menjadi pengasuh seorang yang lumpuh? Di rumah duka itu, saya dibuat bingung lagi.

 Dalam perjalanan pulang melayat, seorang teman wanita bercerita di dalam mobil, suami yang dicintainya lumpuh selama nyaris dua puluh tahun.

  “Wah….aku sudah kayak melayani bayi,” kata dia. Saya yang duduk di bagian depan langsung diam seperti disetrum listrik. Selamat rambut tak jadi seperti di-rebonding. Dua puluh tahun? Lumpuh? Seperti bayi?

 Kemudian saya membayangkan kalau saya jadi bayi…eh…salah…berdiri di posisi seperti teman saya itu, akankah saya mampu mewujudkan sumpah untuk tetap setia dalam duka semacam itu? Berhakkah saya berselingkuh atau memakai kalimat yang tidak lebih kasar, mempunyai teman khusus untuk mengatasi hari-hari melelahkan dan kesepian ini? Untuk membayar kerinduan untuk dipeluk dan di-remes-remes karena masa 20 tahun hidup tanpa remesan?

 “Nasi remes, kali,” celetuk teman saya.

 “Bukan, itu rames, Neng,” balas saya secepat kilat.

 

Bingung II

 Dan dengan alasan sangat masuk akal dan sangat dimengerti, saya mungkin bisa jadi memiliki teman khusus itu, tetapi membuat saya jadi tak bisa lagi membedakan arti melanggar dari tidak melanggar sumpah dan membedakan benar dari tidak benar.

 Saya sering seperti itu. Begitu sebuah permasalahan bisa diterima dan masuk akal, saya akan menyimpulkan itu benar. Saya benar-benar bingung. Jadi dalam dua hari, saya sudah bingung tiga kali.

 Saya pikir bingung saya sudah berhenti. Dua hari setelah itu sahabat saya bercerita, salah satu temannya yang kondang dan sudah menikah sedang menjalani ritual perselingkuhan dengan seorang wanita ayu.

 “Tetapi, yaa….Bang, si suami ini cinta banget lho sama bininya. Dia pernah bilang ke aku, isterinya adalah segalanya dan dia akan tetap setia. Bahkan dia sampai menangis terharu, ia begitu mengagumi sang isteri,” jelas teman saya.

 Tentu Anda tahu pertanyaan saya berikutnya. “Gak mungkinlah dia cinta. Bagaimana bisa mencintai dan berselingkuh pada waktu bersamaan?”

 Sahabat saya diam saja, saya apalagi. Sekian detik lewat, ia memecahkan keheningan yang membingungkan itu. “Buktinya ini bisa, Bang. Mungkin inilah yang disebut sambil menyelam minum air.”

 Saya menyambar komentarnya itu, “Keseleekk…kali.”

 Saya tambah bingung, bagaimana ada suami yang mengagumi, mencintai, bahkan, sampai mampu mengeluarkan air mata saat menjelaskan betapa mulia isterinya, mampu berselingkuh?

 “Sekarang gue thau, Bang. Itulah yang disebut orang air mata buaya. Jadi, buaya yang bisa nangis itu cuma buaya darat, Bang,” kata teman saya ini lagi. (SM)

 

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>