Lucky

Archive for June, 2007

Great Sex

Posted by louis7zen on 24th June 2007

Great Sex

 

Untuk mendapatkan seks yang hebat dengan pasangan, pertama-tama Anda harus mengerti apa yang perempuan mau. Jadi, bukan hanya mengetahui tentang keinginan Anda.

 

Seks yang hebat bagi wanita adalah kombinasi antara stimulasi mental dan fisik. Dua hal tersebut harus dimengerti dan dipenuhi agar wanita dapat mencapai kepuasan atau yang bisa kita sebut orgasme. Jika Anda tidak membuat kesalahan-kesalahan seperti di bawah ini, Anda dan pasangan akan bisa menikmati seks yang lebih baik atau seks yang hebat!

 

1. Pelit Memberi Ciuman

Dari hasil polling yang dilakukan M, 90% wanita mengklaim bahwa mereka tidak mendapat french kiss yang cukup. Bagi wanita, french kiss adalah salah satu ciuman paling sensual dan paling personal yang bisa mereka dapatkan untuk mengekspresikan keinginan, gairah, dan cinta. Jadi, usahakanlah selalu memulai dengan ciuman yang bisa membuat dia cukup berkesan untuk membangkitakan mood bercintanya. Selain itu, ciuman pula kita bisa menebak kepribadian seseorang.

 

2. Kurangnya Foreplay

Pria lebih mudah terangsang. Hal ini berbeda dengan wanita yang memang membutuhkan ‘pemanasan’ yang lebih intense dan hot. Jika Anda menganggap foreplay cukup 5 menit, maka Anda harus berpikir ulang dan menargetkannya sekitar 30 menit (atau bahkan lebih) sebelum Anda ke ‘tujuan’ berikutnya.

 

3. Mengacuhkan Titik-Titik Kunci

Di setiap tubuh perempuan pasti terdapat titik-titik rangsangan khusus yang harus ditargetkan. Namun, area-area ini sering terlupakan. Here are just some of them.

· Leher – Tengkuk yang ada di leher merupakan salah satu daerah yang paling sensitif untuk para wanita. Jika bagian-bagian itu dicium atau digigit dengan lembut, bisa dipastikan, pasangan Anda akan langsung terangsang.

· Bokong – Wanita mana yang daerah sekitar bokongnya tidak sensirif? Kebanyakan wanita sangat menyadari hal tersebut. Dengan menciumnya, meremasnya, dan jangan lupa memberi pujian betapa indah bagian tubuhnya itu, maka dia akan merasa rileks dan percaya diri.

· Bagian dalam paha – sebelum tangan Anda menuju ke region yang paling puncak, tidak ada salahnya jika sentuhan Anda berhenti di bagian paha – terutama bagian belakangnya dan godalah pasangan Anda. Area ini juga sangat sensitif. Lalu, Anda akan dibuat terkejut oleh apa yang akan terjadi selanjutnya.

· Rambut dan kuping – Banyak wanita yang menyenagi rambut mereka disisir dan dimainkan. Itu menunjukkan bahwa dia sangat sensitif. Bagian kuping juga adalah area tubuh yang sensitivitasnya cukup besar. Jika Anda bisa memperlakukannya dengan benar, pasti Anda akan sangat dihargai.

 

Daerah-daerah yang disebutkan di atas adalah sedikit contoh dari sekian banyak area lainnya. Cobalah eksplorasi bagian-bagian tubuh pasangan Anda untuk memperoleh pengalaman seksual yang hebat.

 

4. Terlalu Cepat Selesai

Banyak pria yang mempunyai masalah ini dan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk masalah ini, mudah saja, yaitu: pelan-pelan dan belajarlah mengontrol napas Anda!

 

5. Mencoba Posisi Baru yang Rumit

Jika Anda sering menonton blue film, pasti Anda sering tergoda untuk mencoba posisi baru seperti yang ada di film tadi, meskipun posisi itu agak rumit. Kalau mau berhasil, Anda harus fokus pada posisi-posisi rumit tadi. Juga, Anda dan pasangan harus sama-sama merasakan sensasi dari posisi tadi tanpa merasa sakit. Koleksilah empat posisi yang dianggap sebagai posisi terbaik. Tak perlu pusing-pusing mencari gaya-gaya aneh. Yang penting adalah, you both have to enjoy it.

 

6. Bertingkah Seperti Orang Bisu

Ketika sedang berhubungan seks, jangan diam saja! Ekspresikan diri Anda dengan kata-kata. Setiap selesai make love, katakan kepada pasangan bahwa Anda sangat menikmati kegiatan tersebut dan semakin mengagumi dirinya.

Anda perlu juga mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan pasangan. Tanpa bicara dan ekspresi, seks akan terasa sangat dingin, juga seks tanpa emosi tidak akan menjadi seks yang hebat. Jadi, mulai sekarang, pelajarilah kekuatan dari komunikasi seksual.

 

7. When It’s Over, It’s Over

Apakah Anda langsung bangkit dari tempat tidur dan membuat kopi, atau segera keluar dari kamar seusai bercinta? Kalau begitu, inilah kesalahan Anda. Sebab, seks adalah kegiatan yang sangat intim dan sarana untuk menyatukan batin. Anda harus mengekpresikan ikatan batin itu setiap kali selesai berhubungan seks karena Anda memang membutuhkannya. Peluklah dia dengan lembut. Katakan betapa Anda sangat menikmati permainan yang baru saja terjadi, lalu ciumlah keningnya dengan mesra dan penuh kasih sayang.

 

  1. Kurang Romantis

Wanita mana yang tidak menyukai kejutan, misalnya diberi ikatan bunga atau diajak makan malam yang romantos? Tidak ada! Gunakan kejutan ini untuk menunjukkan bahwa Anda adalah pria yang romantis. Sebab, romantis bukan hanya dibutuhkan di tempat tidur. Memberikan sentuhan-sentuhan romantis ternyata tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan, tapi juga meningkatkan kualitas hubungan seks.

 

 

So, there you have it: delapan kesalahan yang sering dilakukan pria dalam bercinta. Kabar baiknnya adalah, they are all easy to correct! Dan jika Anda berhasil mengeliminasi kesalahan-kesalahan tadi, bisa diyakinkan Anda akan meraih seks yang romantis sehingga kualitas hubungan Anda dengan pasangan semakin mantap!

Posted in Iseng aje | No Comments »

Tips Nero

Posted by louis7zen on 24th June 2007

Tips Nero

Jelas, Nero adalah tool pembakar nomor satu. Namun, seperti juga namanya yang mirip kaisar Romawi, paket program ini juga menuai banyak keluhan. Keluhan yang paling seirng adalah Nero merusak keping, membakar terlalu lambat, dan hasilnya tidak bisa di-playback pada DVD-player. Di sini kita akan belajar untuk menemukan solusi yang tepat untuk masalah-masalah itu.

Banyak masalah tidak akan muncul bila setting Nero telah diatur dengan tepat. Ia bekerja cepat, membakar lebih baik, dan memuat data lebih banyak. Namun, Nero tidak bisa melakukan semua hal. Untuk tugas-tugas tertentu lebih baik menggunakan software lain, untuk membantu tugas Nero.

1.     Mengaktifkan Mode DMA

Nero Burning ROM

Secara tiba-tiba Nero membakar atau menulis dengan sangat lambat. Apa sebabnya?

Solusi: Seringkali masalah DMA menjadi penyebab lambatnya Nero bekerja. Windows sering mematikan mode DMA pada koneksi IDE dan bekerja dalam mode PIO. Mode ini terlalu lambat untuk mentrasfer data ke sebuah burner baru yang cepat. Mengapa Windows memaksa bekerja dalam mode PIO? Kemungkinan keping yang digunakan berkualitas rendah sehingga terus terjadi kesalahan bakar. Proteksi copy game juga bisa membuat Windows mengubah mode ke PIO.

      Apakah kita memiliki masalah DMA atau tidak, dapat dilihat dalam Windows. Buka Device-Manager melalu ‘Start | Settings | Control Panel | System’. Masuk ke tab Hardware dan klik Device Manager. Klik ganda ‘IDE ATA/ATAPI-Controller’. Biasanya burner ada dibawah ‘Secondary IDE-Channel’. Klik kanan cabang itu dan buka ‘Properties’. Pilih tab “Advanced Settings’. Di sana akan tampak ‘Transfer Mode’. Bila di sana tercantum modus “PIO only’, melalui menu pull-down ubah menjadi ‘DMA if Available’. Klik ‘OK’ untuk mengaktifkan setting.

2.     Menyingkirkan Driver Nvidia

Info Tool

Tak peduli keping mana yang dimasukkan, Nero selalu membakar dengan lambat. Padahal, mode DMA telah diaktifkan seperti yang dijelaskan dalam tip sebelumnya.

Solusi: maslah ini juga berkaitan dengan DMA, tetapi tidak ada hubungannya dengan Windows. Kali ini masalahnya berkaitan dengan Nvidia. PC dengan board Nvidia menginstal driver IDE sendiri, ‘nvata’ – bukan driver default Windows.

      Mode DMA memang sudah diaktifkkan dalam Control Panel, tetapi tidak untuk Nero. Bila kita membuka Nero Info Tool melalui ‘Start | All Programs | Nero 7 | Tools’. Dalam tab ‘Configuration’ terlihat bahwa setting DMA dalam posisi off.

      Bila demikian, tidak ada pilihan selain mematikan nvata dalam Device-Manager. Caranya, buka menu untuk saluran IDE – di mana burner kita terpasang – dengan mengklik ganda ‘IDE ATA/ATAPI-Controller’. Matikan nvata dalam tab ‘Driver’ dan konfirmasikan laporan Windows dengan ‘OK’. Setelah restart, Windows akan menggunakan driver sendiri yang tidak bermasalah dengan Nero. Periksa kembal idengna Info Tool apakah upaya kita telah berhasil atau tidak. Di sini, mode DMA Nero harus aktif.

3.     Mengidentifikasi Keping Murah

Nero CD-DVD Speed

Kita sudah biasa membeli keping DVD merek tertentu yang harganya semakin murah. Namun, tiba-tiba Nero hanya mau membakar dengan kecepatan minimum.

Solusi: Apa yang tercantum pada kemasan tidak selalu sesuai dengan isinya. Banyak distributor membeli keping dan mengganti nama produsennya, misalnya Primo dan Memorex. Bila tidak beruntung, kita juga bisa saja mendapatkan barang cacat dalam kemasan merk terkenal. Produsen mana yang sebenarnya membuat suatu keping dapat kita ketahui dengan Nero.

      Untuk itu, masukkan keping DVD ke dalam Drive dan buka dengan Nero CD-DVD Speed dari folder Tools. Di sana dalam menu pulldown, pilih burner agar tool menganalisis keping. Pada tab ‘Disc Info’ akan kita temukan ‘MID’ (manufacturer Identity). Identitas tersebut kita temukan sekali lagi dalam hex-code di bawah ‘RAW Data’.

4.     Ripping CD Audio Tanpa Salah

Nero CD-DVD Speed

Apakah Nero merupakan pilihan terbaik untuk ripping dengan hardware kita?

Solusi: Nero CD-DVD Speed dapat menguji apakah burner kita mampu atau tidak me-ripping CD Audio dengan Nero. Untuk itu, masukkan sebuah CD audio dan jalankan tool. Buka tab ‘Benchmark’ dan klik ‘Start’. Tool akan menuliskan beberapa sektor CD ke hard disk. Sektor-sektor ini ia bandingkan dengan aslinya pada CD. Dalam kolom ‘DAE Quality’, kita dapat melihat nilai (0-10) yang diberikan untuk itu.

      Bila didapat nilai ’10’ dan tool memberi tanda di bawah ‘Accurate stream’, kita dapat menggunakan Nero untuk ripping. Bila tidak, kita bisa menggunakan tool khusus seperti Exact Audio Copy yang memeriksa kembali audio-stream hasil ripping. Fungsi ini tidak tersedia dalam Nero.

5.     Membakar Hingga Kapasitas Maksimal

Nero Burning ROM, CD-DVD Speed

Sebuah proyek CD / DVD melebihi kapasitas normal. Sejauh mana kita dapat membakar dengan Nero?

Solusi: Mengatur overburning hingga maksimal dalam Nero berisiko dan dapat merusak hardware. Lebih baik bila sebelumnya kita mengukur kapasitas eksak yang tersedia dalam CD-DVD Speed.

      Untuk itu, masukkan keping CD / DVD dan jalankan tool. Dari menu Extra, buka ‘Overburning Test’. Klik ‘Start’ untuk memulai tes. Tool akan memberikan kapasitar overburning dalam menit dan detik. Pada keping 700 MB biasanya didapat tambahan 2 menit 30 detik. Cantumkan nilai ini dalam Nero.

      Buka ‘File | Options | Expert Features’. Di sini, beri tanda di depan ‘Activate Disc at-once CD overburning’, klik ‘Relative maximum overburning size’. Ke dalam kolom di belakangnya, cantumkan ‘2:30’. Untuk memanfaatkan seluruh kapasitas keping, beri tanda di depan ‘Enable generation of short lead-out’. Kedua setting ini memberi kita tambahan sekitar 15 MB pada keping 700 MB dengan mode Disc-at-once.

6.     Mengcopy Film tanpa Penurunan Kualitas

Nero Recode

Nero Recode mengalkulasi sebuah fim DVD9 ke DVD5. Namun, menurut Nero masih tidak muat pada keping DVD5.

Solusi: Jalankan Recode dan pilih ‘Recode main movie to DVD’. Load copy film sekali lagi melalui ‘Import DVD’. Tandai judul yang diinginkan dan pilih ‘Trim Movie’. Dalam jendela berikutnya, potong credit-title dengan memasukkan bab sebelum bab terakhir sebagai end frame. Dengan cara ini, kita dapat menghemat kapasitar 100-150 MB.

      Apakah ini sudah memadai atau belum dapat kita periksa dengan mengklik ‘OK’ dalam jendela utama Recode. Pada ‘Video Quality’, slider harus berada pada ‘100%’.

      

      Bila kita telah membuat sebuah copy dengan menu DVD, trik di atas tidak dapat langsung berhasil dalam Recode karena di bawah ‘Recode an entire DVD to DVD’ tidak ada option ‘Trim Movie’. Bila kita ingin mempertahankan menu, coba cara berikutnya.

      Copy file menu dan kendali – biasanya adalah semua file selain ‘VTS_01_1.VOB’ dan seterusnya -  dari copy pertama ke dalam folder copy ke dua. Sebelum kita membakarnya ke DVD, periksa apakah copy gabungan tadi berfungsi pada DVD-player seperti Nero Showtime atau tidak.

7.     Mencapai Kualitas Gambar Optimal

Nero Recode

Kita berniat mencopy film panjang ke DVD5 dan ingin juga memperbaiki kualitas gambarnya.

Solusi: Ada entri-entri registry untuk memunculkan 4 tingkat kualitas yang tidak dapat kita akses dalam Recode. Untuk mengubah kualitas, masuk ke registry melalui ‘Start | Run | Regedit’. Masuk ke HKEY_CURRENT_USER \ Software \ Ahead \ Recode \ Preferences’.

      Di sini kita akan menemukan entri ‘Compress Mode’. Kita dapat memberi nilai antara 0-3. Nilai 0 untuk Maximum Sharpness (tajam) dan 3 untuk Smooth (tidak tajam). Untuk sebuah film cerita, pilih 3 agar tidak terbentuk artefak dan blok. Biasanya film cerita memiliki durasi kurang dari 2 jam.

      Bila kita belum mencopy apa pun dengan Recode, kita harus membuat sendiri nilai tersebut dalam registry. Pilih ‘New | DWORD-Value’ dan beri nama ‘Compress Mode’. Dengan mengklik ganda nilai ini, masukkan mode kompresi yang diinginkan.

      Cara yang lebih mudah adalah dengan AEC (Adaptive Error Compensation) Changer yang disediakan seorang copier untuk didownload di http://forum,digitaldigest.com/showthread.php2t=72150. Dengan tool ini, kita hanya perlu menandai option yang diinginkan. Virus-scanner kadang-kadang keliru melaporkan adanya virus bila kita mengaktifkan tool ini. Ini tak perlu kita hiraukan.

8.     Membakar Film DivX dengan Menu DVD

DivX SDK, DivX Media Builder, DivX 6.4, VirtualDubMod

Mungkinkah mencopy film ke format AVI high-compressed tanpa kehilangan fungsi DVD seperti menu?

Solusi: hal ini tidak dapat dilakukan dengan Nero karena ia membuat copy dalam MPEG4 tanpa menu. Kita membutuhkan file DivX yang dapat di-playback pada PC maupun DVD-player dengan sertifikat DivX-Ultra, misalnya perangkat terbaru dari JVD dan Philips.

Instalasi: Kita membutuhkan paket DivX SDK terbaru, DivX MediaBuilder, dan VirtualDubMod. Copy ‘DivXMux.exe’. ke folder MediaBuilder. Sebagai material sumber, ambil sebuah film dalam format AVI yang di-encode dengan DivX atau XviD dan beberapa gambar untuk tampilan menu.

Membuat menu: Buka MediaBuilder dengan mengklik ganda ‘DivXMediaBuilder.exe’. Melalui ‘File | New’, buka file AVI film utama. Jendela berikutnya kita konfirmasikan dengan ‘OK’. Sekarang, klik ‘Features | Add Menu’. Di sini, dalam kolom ‘backgroundVideoID’, buka gambar latar belakang menu utama melalui tombol ‘from picture’. Program akan menyimpan gambar sebagai sekuens film kecil dalam bentuk AVI. Untuk keperluan ini, MediaBuilder menggunakan VirtualDubMod. Pada ‘menu Type’, pilih ‘Title’.

Membuat tombol: sekarang, tool meload gambar background ke jendala utama. Tekan (F8) dan gambar sebuah tombol di layar background. Di sebelah kanan terlihat jendela ‘Button properties’. Di bawah ‘Button acton’, klik tanda ‘+’ untuk menentukan apa yang terjadi saat tombol diaktifkan. Pada ‘Add or edit action’ tandai ‘Play action’. Sekarang, pilih film AVI dalam ‘Select Title and Chapter’. Di bawahnya, tandai ‘The Title itself’. Dengan mengklik ‘Add action to list’, kita menghubungkan tombol dengan film-start.

Membuat bab: Lakukan seperti membuat menu. Perbedaannya, di sini klik ‘Features | Create Chapters for Title’. Di sana kita tetapkan dalam berapa menit tool harus menempatkan sebuah mark. Presetnya adalah 5 menit. Masukkan nilai yang diinginkan dan klik ‘OK’. Setelah semua menu dibuat, pilih ‘Features | Create DivX’. Pekerjaan selanjutnya diselesaikan oleh MediaBuilder. Karena film tidak di-recode, hasilnya hanya kita peroleh dalam beberapa menit. Untuk memeriksa fungsi struktur menu pada PC, jalankan film dengan DivX-player.

9.     Mengatur dan Menyesuaikan Suara untuk CD audio

foobar2000

Kita ingin menyusun sebuah hit-sampler dan membakarnya sebagai CD audio dalam kualitas terbaik?

Solusi: Nero memang bisa melakukannya, tetapi tidak optimal untuk sebuah hit-sampler. Karena lagu-lagunya berasal dari berbagai sumber, volume setiap lagu perlu disesuaikan terlebih dulu. Untuk itu, gunakan ReplayGain yang lebih baik dari pada fungsi ‘Normalize’ Nero. Di sini, dinamika bagian keras dan lembut tidak hilang. Pada normalisasi, volume-level disamakan semua. Audio-player foobar2000 telah mengintegrasikan ReplayGain sehingga tepat untuk tugas semacam ini.

      Instalasikan foobar dan ekstrak pluin ‘burninate’ ke dalam folder ‘Components’ direktori program. Setelah foobar dijalankan, susun sampler dengan ‘File | Add files’. Tandai semua lagu dan buka fungsi ‘Convert | Write to Audio-CD’ melalui menu konteks. Dalam ‘Audio-CD writer setup’, klik ‘ReplayGain’. Di bawah ‘source mode’ pilih ‘track’, pada ‘processing’ pilih ‘apply gain and prevent clipping according to peak’. Target volume 89 db setelah ‘preamp’ dapat kita biarkan. Konfirmasikan setting dengan mengklik ‘OK’ dan jalankan proses bakar dengan tombol  ‘Burn’.

10.                        Membakar DVD9 dengan Sempurna

ImgBurn

Untuk mencopy sebauh film tanpa penurunan kualitas, kita harus membakarnya pada DVD0.

Solusi: Ada 3 hal yang perlu kita lakukan. Pertama, beli sebuah keping DVD+R, bila mungkin dari Verbatim untuk menghindari gagal bakar. Selanjutnya, ubah book type keping ke ‘DVD-ROM’ untuk meningkatkan kompabilitas player. Terakhir, tempatkan layer-break dengan tepat agar film tidak goyang ketika laser berpindah dari layer 1 ke layer 2. Book type dapat kita atur melalui ‘ Tools | Bit Setting’ dalam Nero, tetapi layer-break tidak dapat diubah disini. Oleh karena itu, lebih baik membakar DVD9 dengan tool ImgBurn.

      Instalasikan. Kemudian buka dengan mengklik ganda icon di desktop. Dalam jendela utama, pilih ‘Mode’ dan tandai ‘Build’. Ubah ‘Output’ ke ‘Device’. Klik icon folder dalam jendela kiri atas dan buka folder ‘VIDEO_TS’  dari DVD asli. Bila DVD aslinya diproteksi dengan CSS, langkah ini tidak bisa dilakukan karena ImgBurn tidak dapat menembus proteksi copy.

      Selanjutnya, klik icon PC di sebelah kanan. ImgBurn akan membuka sebuah jendela baru – di sini kita dapat menentukan layer-break. Program memberikan beberapa saran. Tandai salah satu posisi yang mendapat nilai ‘very good’ atau ‘excellent’. Konfirmasikan dengan mengklik ‘OK’. Dalam jendela kanan, buka ‘Options’ dan atur ‘File System’ menjadi ‘ISO 9660+UDF’.

      Bila kita mengklik icon buku di kanan bawah dalam tab ‘Device’, jendela ‘Change Book Type’ akan terbuka. Cari produsen burner kita dan pilih ‘For DVD+R DLL Media’ pada option ‘Current Setting’. Di bawahnya, pilih ‘DVD-ROM’ untuk ‘New Setting’. Klik ‘Change’ dan ‘OK’ untuk kembali ke jendela utama.

      Klik icon ‘Write’ di kiri bawah. Untuk amannya, program akan menanyakan semua setting sekali lagi. konfirmasikan dengan mengklik ‘OK’. ImgBurn akan memulai proses bakar. Sebagai hasilnya kita akan mendapatkan sebuah DVD9 yang sempurna (MM)

Posted in Computer | No Comments »

“I’m Nobody or I’m Somebody?”

Posted by louis7zen on 24th June 2007

“I’m Nobody or I’m Somebody?”

 

  1. Terus terang saya merasa sangat nyaman ketika saya bekerja di sebuah majalah kondang. Saya bisa rebahan di dada bidang nama besar itu. Nama besar perusahaan itu memberi banyak kemudahan. Tetapi tanpa saya sadari karena saya terlena, saya lupa nama saya menjadi besar karena nama perusahaan itu, dan bukan karena saya. Orang tak lagi mengenal saya sebagai diri saya sendiri. Selalu saja dikaitkan dengan nama perusahaan itu. Dan kemudian itu yang menakutkan adalah ketika datang masanya saya tak bisa lagi memakai nama besar itu di belakang nama saya. Tiba-tiba saya merasa I’m nobody.
  2. Teman saya di Paris bangga sekali kalau ia menjelaskan pekerjaannya di salah satu rumah mode kondang. Saya hanya berpikir, teman saya boleh bangga, dan sesungguhnya saya bangga juga, tetapi saya mengharap ia tak lupa bahwa ia sama sekali bukan apa-apa kalau tak ada nama kondang rumah mode itu yang senantiasa diletakkan di belakang namanya, kalau ia sedang menjelaskan siapa dirinya. Ia bisa saja membuat karya besar, tetapi nama rumah mode itulah yang tetap diingat orang.
  3. Kalau ingin bangga dengan diri sendiri, maka bekerja keraslah untuk itu. Maka, belakangan ini, saya mendorong teman-teman saya untuk mulai berpikir memiliki usaha sendiri, apa pun bentuknya dan sekecil apa pun itu. Komentar mereka yang pertama selalu saja, “Mau usaha apa ya?” Kalau sudah mendengar komentar itu, saya jadi ingat diri saya sendiri. Karena pertanyaan itu juga yang pertama datang di kepala saya. Mungkin, karena saya sudah terbiasa terlena bekerja untuk orang lain, maka saya tak pernah punya waktu untuk melihat kemampuan saya sendiri. Maka saya bersyukur saya kehilangan pekerjaan untuk orang lain karena saya menemukan pekerjaan untuk diri saya sendiri, untuk memberi waktu mengenal kemampuan saya. Dahulu saya tak bisa membuat cash flow, membacanya pun tak bisa, karena sekarang saya mau usaha sendiri, yaa….saya mulai belajar dari teman saya. Ternyata main-main dengan uang enaknya setengah mati.
  4. Sekarang saya memang sedang susah-susahnya menjalani cita-cita saya. Tetap harus saya akui, kesusahan itu sama sekali tak ada artinya ketika saya dengan bangga memberikan kartu nama saya tanpa embel-embel nama bank kondang atau majalah kondang. I’m somebody!”
  5. Apa pun pekerjaan Anda, di mana pun Anda bekerja, Anda harus merasa sejahtera. Itu yang utama.

Posted in Iseng aje | No Comments »

Siapa Elo?

Posted by louis7zen on 24th June 2007

Siapa Elo?

 

Di akhir pekan lalu, saya berkumpul bersama teman-teman saya sambil menikmati makanan italia buatan salah satu teman saya itu. Di tengah goyangan pasta, ada menu asinan betawi. Benar-benar menu mancanegara.

 

 Di seputaran kolam renang itu kami mengobrol ke sana kemari. Kebetulan teman-teman saya itu berprofesi seperti menu siang itu. Dari yang bekerja di rumah pelelangan sampai yang mengelola gedung, tanpa melupakan yang memiliki salon dan seorang seniman.

 

 Seorang wanita salah satu dari teman-teman saya itu bekerja di sebuah bank yang baru saja melakukan aksi perampingan karyawan. Jadi, ternyata yang bercita-cita memiliki “tubuh” ramping bukan cuma manusia. Saya berpikir, perusahaannya sudah dibantu sekian tahun dengan manusia-manusia ini sampai sukses dan setia, dan ketika keuntungan berkurang dan mulai panik, maka salah satunya melakukan perampingan. “Kata setia itu gak ada lagi, Bos,” celetuk teman saya.

 

 Teman saya bercerita bahwa ia sempat deg-degan apakah ia juga dimasukkan ke dalam program pelangsingan – yang bisa mmebuat orang tak bisa tidur itu, dan malah benar-benar langsing karena stress – meski imbalannya, menurut cerita teman saya itu, mencapai enam puluh kali gaji.

 

 Ia menjadi bingung. Bagaimana kalau seandainya aksi pengurangan pegawai itu menimpa dirinya, dan ia sampai harus mencari pekerjaan lain meski angka enam puluh kali sekian juta bisa ia genggam. Saya senang mendengar ceritanya itu, apalagi ucapannya yang terakhir. “Gue bisa aja dapat uang sebanyak itu, tetapi siapa gue setelah gak kerja di sana?”

 

“Anda dari mana, ya?”

 

 Siapa gue. Sebuah pertanyaan yang penting sekali tampaknya. Saya kemudian mengingat bahwa kejadian itu juga pernah saya bertemu dengan klien saya yang kebetulan dulu pernah menjadi manajer iklan di majalah di mana saya bekerja. Ia kini bekerja di sebuah hotel berbintang. Suatu hari saya bertemu dengannya di kantornya di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Saya tiba di reception.

 

 “Selamat pagi, Mbak. Saya “sm” ingin bertemu dengan Ibu Santi,” jelas saya. Dengan senyum ramahnya ia membalas. “Pak ‘s’ dari mana,ya?” Saat ia menanyakan itu, saya gelagapan, benar-benar tak bisa menjawab, malah saya balik bertanya, “Dari mana ya, Mbak?” Tentu saya tak bisa menjawab bahwa saya dari rumah. Saya mengerti sepenuhnya bahwa pertanyaan dari mananya itu dimaksudkan sebagai nama perusahaan di mana saya bekerja.

 

 Masalahnya, saya sekarang tak bekerja di sebuah perusahaan atau institusi apa pun. Sebagai konsultan media pemula dan ecek-ecek, saya belum berani membuat perusahaan. Jadi saya bingung, benar-benar KO mendengar pertanyaan si Mbak. Kemudian karena saya memang tidak dari mana-mana, saya mengatakan saya ini temannya Ibu Santi.

 

 Wajah ramah dan senyumnya berubah menjadi ketus. Mungkin ia berpikir, ini bukan waktunya main-main dan mengunjungi teman saat jam bekerja. Saya cuma menggerutu dalam hati, yaaa….beginilah kalau keramahan hanya menjadi sebuah kewajiban dan tak datang dari nurani. Saya malu sendiri karena setelah menggerutu, saya jadi ingat suara teman saya yang suka nyeletuk, “Bukannya elo juga kayak gitu.”

 

 Setelah pertemuan itu, di dalam taksi menuju ke tempat pertemuan berikutnya, saya berpikir lagi, apakah saya akan ditanya lagi saya dari mana? Kemudian saya malah jadi bertanya kepada diri saya sendiri, siapakah saya ini? Siapakah saya selama ini di mata saya dan di mata orang lain? Saat itu mata saya terbuka bahwa selama ini saya melabelkan orang dan diri saya sendiri dengan nama institusi di mana tempat bekerja. Karena berbelas tahun melabelkan dan kemudian menjadi kebiasaan, maka ketika si Mbak receptionist mengajukan pertanyaan darimana, saya kebingungan karena “nama belakang” saya kini sudah tak ada lagi.

 

Kalau Paris itu (bukan) Hilton

 

 Saya sampai berpikir apakah orang mengenal saya seperti ini. ‘s’ itu loh yang nulis di “K”. Tentu nama “K” sudah seperti nama Krisdayanti. Sambil merem dan mimpi saja bisa teringat. Atau Lucky itu loh yang kerja di Bank ABC. Dan tak hanya label institusi, tetapi juga sampai menyerempet dengan urusan nama keluarga dan perilaku. Lucky itu elo yang anaknya Jenderal Kancil. Masak gak tahu sih, Lucky itu loh, dia kan cucunya pengusaha guling. Kakeknya dulu membuat guling dan bantal, baru aja meninggal. Kakeknya kan dulu nakal. Makanya, cucunya sari mawon. Lucky itu elo yang dulu kerja di majalah pisang jambu, yang sok tahu itu, yang mulutnya nggak disekolahin. Lucky itu elo, yang bekas berselingkuh ama penyanyi keroncong.

 

 Beberapa hati setelah kumpul-kumpul di tepi kolam renang, saya melihat tayangan bagaimana sejuta media meliput masuknya Paris Hilton ke penjara. Bagaimana media berkomentar ini dan itu. Saya membayangkan bagaimana kalau Paris itu bukan Hilton? Cuma perempuan biasa yang tidak punya kaitan dengan nama belakangnya. Apakah sejuta media mengerumuninya? Siapakah Paris tanpa Hilton? “Yaaa…, itu kan ibu kota Perancis,” celetuk teman saya.

 

 Ya, siapakah saya ini kalau saya tak punya predikat apa pun, tidak bekerja di bank kondang atau anak orang kondang? Saat saya pindah kerja dari perusahaan besar ke perusahaan ecek-ecek, klien-klien saya yang dahulu baik dan memberikan saya perlakuan istimewa tiba-tiba tak mengenal saya, memberi kesusahan saat meminta janji temu, kalaupun baik, hanya sekedarnya. Harus diakui, saya merindukan untuk kembali memiliki nama belakang dan tentu saya memilih yang besar dan terkenal kalau perlu.

 

 Dan kadang ketika saya tak punya nama belakang yang besar dan kondang, saya mencari-cari dengan melakukan perilaku yang mengundang orang untuk membicarakan, agar nama yang tak ada apa-apanya itu menjadi apa-apanya dong. Kalau dimisalkan sebuah brand, maka ketika saya mem-build brand saya, saya membangun dengan cara yang provokatif sehingga memancing perhatian orang, yang sensasional, meski brand saya sendiri tak ada istimewanya sama sekali.

 

 Jadi, memiliki nama besar di belakang yang bukan nama saya sendiri membuat saya seperti ketagihan bak pengguna narkoba. Sekali dilepas, maka saya jadi sakau. Teman saya dengan polos bertanya, “Elo, jadi sekarang elo ini siapa?” (SM)

 

 

Posted in Iseng aje | No Comments »

Tip Memotret dengan DSLR

Posted by louis7zen on 16th June 2007

Tip Memotret dengan DSLR

 

  1. Memotret Dalam Berbagai Kondisi

 

Hampir semua kamera digital yang ada dipasaran saat ini, baik pocket maupun SLR, sudah dilengkapi feature untuk memotret dalam beberapa macam keadaan. Feature-feature tersebut berfungsi untuk mengatur kecepatan, diafragma, dan asa secara otomatis sehingga menghasilkan foto yang “secara teknis” benar.

 

Namun foto yang “secara teknis” benar tersebut belum tentu memuaskan secara artistik. Ya, kamera tersebut belum memiliki “program artistik”. Mungkin suatu hari nanti akan tercipta kamera yang memiliki “program artistik”.

 

Sementara menunggu hal itu terjadi maka kita-lah yang harus menjadi “program artistik” tersebut. Berikut adalah beberapa tip untuk menghasilkan foto yang “secara teknis” benar sekaligus memiliki sentuhan artistik.

 

 People

 

 Dalam memotret obyek berupa manusia, hal utama yang perlu diperhatikan adalah mata dan ekspresi orang yang akan difoto. Mata orang yang hendak difoto tidak harus melihat ke kamera, tetapi usahakan agar orang tersebut tidak menutup mata saat difoto.

 

 Ada beberapa orang yang refleks menutup mata saat hendak difoto, utamanya ketika difoto dengan lampu kilat. Tip sederhana untuk memotret orang seperti ini adalah dengan menekan tombol kamera lebih cepat atau lebih lambat dari hitungan seharusnya. Usahakan menekan tombol kamera pada hitungan kedua atau malah sesudah hitungan ketiga.

 

 Perhatikan pula ekspresi orang yang akan difoto. Tak jarang ekspresi yang menarik muncul pada saat-saat tak terduga. Jadi, pandai-pandailah mencuri ekspresi dan bersabarlah menunggu momen yang tepat. Gunakanlah fasilitas continuous shoot agar tidak ketinggalan momen.

 

 Ketika memotret orang di dalam ruangan, jika ruangan tersebut memiliki banyak sinar matahari yang masuk, penggunaan asa 400 atau lebih biasanya sudah cukup. Namun jika ruangan minim cahaya, kita dapat menggunakan lensa dengan bukaan diafragma besar atau menggunakan lampu kilat. Saat menggunakan lampu kilat, usahakanlah berdiri agak jauh dari orang yang hendak difoto, agar sinar lampu kilat yang mengenai wajah tidak terlalu keras.

 

 Dalam memotret hamparan alam ketepatan waktu memegang peranan penting. Waktu yang dianggap baik adalah pagi hari sekitar jam 7 sampai jam 9 pagi, atau sore hari, sekitar jam 4 sampai jam 5 sore. Pada jam-jam tersebut sinar matahari tidak terlalu terik sehingga bayangan yang dihasilkan tidak setajam di siang hari.

 

 Perhatikan pula garis cakrawala yang membagi daratan dan langit. Sebaiknya pemandangan yang hendak difoto sejajar di bagian kiri dan kanan. Walaupun tidak mutlak, tetapi jika kita memiliki tripod, penggunaan perangkat tersebut dapat sangat membantu. Utamanya jika kita tidak memiliki lensa lebar tetapi berencana memotret pemandangan yang ada per-bagian, dari kiri ke kanan kemudian menggabungkannya di komputer. Penggunaan tripod memungkinkan kita menjaga konsistensi gambar yang akan disatukan.

 

 Makro

 

 Bunga, koin, kupu-kupu, dan serentetan benda kecil lainnya sering menarik perhatian kita. Namun karena ukurannya yang kecil, biasanya benda-benda tersebut tidak dapat difoto dengan baik jika menggunakan lensa normal. Walaupun ada feature close-up yang biasanya ditujukan untuk memotret benda-benda kecil, tetapi jarak fokus lensa normal biasanya terbatas. Untuk memotret kelopak bunga saja, biasanya lensa normal kita tidak dapat menemukan titik fokus. Alhasil kita harus memotret batang dan daunnya juga. Untuk mengatasi hal ini, usahakan untuk memainkan komposisi foto kita.

 

 Pernahkah kita memotret orang atau benda dengan latar belakang pemandangan, tetapi kemudian orang atau benda utama tersebut malah terlihat gelap atau malah hanya siluet yang muncul?

 

 Ini berarti cahaya yang menerangi latar belakang lebih besar intensitasnya daripada cahaya yang menyinari orang atau benda utama. Atau malah sumber cahaya itu sendiri berada di belakang orang atau benda utama. Keadaan inilah yang disebut sebagai backlight.

 

 Feature backlight secara otomatis akan menggunakan lampu kilat dalam kamera untuk mengimbangi cahaya dari latar belakang Anda. Namun jangan lupa untuk memindahkan titik fokus kamera Anda pada orang atau benda yang berada di depan, sehingga kamera akan menghitung kecepatan dan diafragma yang tepat bagi orang atau benda tersebut.

 

 High-speed

 

 Feature high-speed biasanya digunakan untuk memotret aktivitas dengan kecepatan tinggi, seperti pertandingan olahraga, tarian, balapan, atau aktivitas lainnya. Kecepatan yang digunakan mulai dari 1/125 sampai 1/400 atau lebih cepat. Tip untuk memotret high-speed adalah dengan memanfaatkan fungsi continuous shoot karena kita mutlak tidak memiliki kontorl akan aktivitas yang terjadi.

 

 Saat malam tiba dan lampu-lampu kota mulai bernyalaan, kerlap-kerlipnya memiliki daya pikat tersendiri yang membuat kita terpesona dan menimbulkan hasrat untuk mengabadikan keindahan tersebut. Siapkan tripod pada posisi terbaik, gunakan feature night. Namun perlu diingat, feature ini biasanya menggunakan kecepatan yang rendah, maka sebaiknya gunakan timer untuk menghindari guncangan dari badan saat menekan tombol kamera. Klik, dan jadilah foto yang diinginkan.

 

 Bagaimana jika tripod tidak terbawa atau bahkan memang tidak kita miliki? Haruska kita merekam keindahan tersebut di kepala kita saja? Tentu tidak, jangan pernah menyerah selama kamera masih berada di tangan Anda. Lihatlah sekeliling Anda, carilah benda yang dapat dijadikan tripod pengganti. Misalnya, batu yang besar, tembok, pohon, kap mobil, atau benda apa saja yang cukup kokoh untuk ditumpangi kamera.

 

B. Memilih Lensa

 

Ada beberapa jenis lensa yang dapat digunakan pada kamera digital SLR 35mm, antara lain lensa normal, lensa wide-angela, lensa zoom, lensa makro, lensa telephoto, dan lensa fisheye. Namun mari kita mengenal dulu crop factor pada kamera digital SLR 35mm.

 

Sebagian besar kamera DSLR 35mm yang tersedia saat ini (kecuali Canon EOS 1Ds Mark II, EOS 5D) memiliki sensor foto yang lebih kecil dari sensor kamera full frame SLR 35mm. Akibatnya, hasil foto dari semua jenis lensa yang digunakan pada kamera digital akan terlihat lebih sempit. Hal inilah yang dapat kita sebut sebagai crop factor.

 

Crop factor yang umum adalah 1,5. Artinya ukuran lensa efektif pada kamera digital tersebut adalah 1,5 kali dari ukuran aslinya. Misalnya, sebuah lensa 28mm jika digunakan pada kamera digital akan menghasilkan sudut pandang lensa 42mm, dan sebuah lensa 35mm akan menghasilkan sudut pandang lensa 52,5mm.

 

Lensa Normal

 

Lensa normal adalah lensa yang menghasilkan gambar dengan perspektif lebih natural jika dibandingkan dengan lensa lain. Sebuah lensa dikategorikan lensa normal jika memiliki focal length yang setara dengan diagonal gambar yang diproyeksikan ke dalam kamera.

 

Pada format 35mm, dimensi gambar yang diproyeksikan ke dalam kamera adalah 24×36mm, sehingga diagonal gambar tersebut adalah 43,27mm atau setara dengan 50mm. Lensa ini juga dikategorikan sebagai lensa primer karena memiliki bukaan diafragma maksimum yang lebih besar daripada lensa jenis lain, seperti f.2, f.1.8, atau bahkan f.1.2 sehingga dapat digunakan untuk memotret pada kondisi minim cahaya.

 

Kedua, dapat menghasilkan gambar yang lebih kaya warna. Hal ini dimungkinkan karena dengan adanya bukaan diafragma yang maksimum, kamera dapat merekam lebih banyak cahayanya.

 

Perlu diingat karena adanya crop factor, maka lensa 50mm ini akan menghasilkan sudut pandang yang setara dengan lensa 75mm pada kamera full frame. Namun, ini tidak berarti lensa 50mm tidak perlu dipertimbangkan untuk dimiliki. Lensa ini cocok digunakan untuk memotret orang, benda-benda berukuran sedang, dan sangat membantu jika digunakan pada keadaan minim cahaya. Selain itu, lensa ini memiliki ruang tajam yang sangat pendek jika digunakan pada f.1.8 maupun f.1.2 sehingga dapat menghasilkan latar belakang yang sangat tidak tajam.

 

Lensa Wide-angle

 

Lensa wide-angle, atau biasa disebut lensa lebar. Seperti namanya, lensa ini memiliki sudut pandang yang sangat lebar, bahkan pada beberapa lensa dapat memberikan sudut pandang mendekati 180 derajat. Pada prakteknya, lensa jenis ini sering digunakan untuk memotret ruangan yang sempit atau untuk mengambil gambar sebuah benda secara utuh ketika benda tersebut berada relatif dekat dari pemotret.

 

Namun perlu diperhatikan, bahwa gambar yang dihasilkan dari sebuah lensa wide-angle cenderung memiliki tingkat distorsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambar yang dihasilkan oleh lensa normal.

 

Lensa ini tidak menghasilkan gambar sesuai dengan yang ditangkap oleh mata manusia. Sebaliknya, lensa jenis ini sering memberi kesan “lebih” dari keadaan sebenarnya. Ruangan dapat terlihat lebih tinggi, lebih besar, dan lebih lebar dari ukuran sebenarnya. Sedangkan jika digunakan untuk memotret orang, dapat membuat muka orang tersebut lebih bulat, lebih lonjong, lebih tinggi, atau lebih pendek.

 

Lensa Zoom

 

Lensa zoom adalah lensa yang dirancang untuk memiliki beberapa sudut pandang berbeda. Terdapat berbagai macam lensa zoom, mulai dari 2x zoom, 3x zoom (70-200mm), 10x zoom (35-350mm), sampai dengan 12x zoom. Untuk saat ini, lensa dari 3x zoom kurang dapat menghasilkan gambar-gambar dengan kualitas yang konsisten. Oleh karena itu, pada umumnya pengguna lensa zoom profesional hanya menggunakan lensz 2x atau 3x zoom (28-70mm, 70-200mm).

 

Beberapa lensa zoom merupakan lensa telephoto (200-400mm), beberapa yang lain merupakan lensa wide-angle (10-20mm, 16-25mm), dan sisanya mencakup wide-angle sampai telephoto (28-200mm, 35-350mm). Lensa pada kategori terakhir sering disebut sebagai lensa zoom “normal”, dan telah menggantikan lensa primer sebagai solusi penggunaan lensa untuk berbagai kondisi.

Lensa 50mm, 90mm atau 100mm dengan tulisan makro merupakan lensa yang didesain untuk memotret subyek yang sangat dekat dengan kamera atau benda-benda kecil. Perbedaan lensa 50mm biasa dengan lensa 50mm makro tentunya terletak pada jarak fokus terdekat lensa tersebut. Pada lensa 50mm biasa jarak fokus terdekat dari lensa ke benda sekitar 50cm. Sedangkan untuk lensa 50mm makro, jarak fokus terdekatnya bisa hanya 2cm dari benda.

 

Lensa makro dapat pula digunakan untuk memotret benda yang jauh, tetapi tingkat ketajamannya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan lensa jenis lain. Biasanya, lensa jenis ini digunakan untuk memotret bunga, koin, tetes embun, kancing, serangga, dan benda-benda kecil lainnya.

 

Lensa Telephoto

 

Terkenal akan kemampuannya untuk memperbesar obyek yang jauh, dan menghasilkan gambar yang tidak terdistorsi. Lensa jenis ini merupakan lensa favorit untuk memotret pertandingan olahraga (sepakbola, basket, tennis, dan lainnya) serta pementasan panggung (konser, teater, orkestra, dan lainnya). Para paparazzi pun menjadikan lensa jenis ini sebagai lensa favorit,

 

Lensa telephoto dapat dikategorikan sebagai lensa telephoto normal (85mm, 100mm, 135mm, 200mm), lensa zoom telephoto (28-300mm, 55-200mm, 70-200mm, 70-300mm, 90-300mm, 100-300mm) dan lensa super telephoto (300mm, 400mm, 500mm, 600mm).

 

Lensa Fisheye

 

Dalam fotografi, lensa fisheye adalah sebuah lensa wide-angle dengan kelebaran sudut pandang yang ekstrim. Area penglihatan melebihi 100 derajat, atau bahkan kadang-kadang melampaui 180 derajat sehingga menghasilkan gambar-gambar dengan tingkat distorsi yang tinggi. Ruang tajamnya secara otomatis tidak terbatas dan pengaturan fokus kamera tidak terlalu diperlukan.

 

Awalnya lensa ini dikembangkan untuk digunakan di bidang astronomi, dan disebut ‘whole-sky lenses’. Kemudian lensa fisheye cepat menjadi populer dalam bidang fotografi karena keunikan distorsinya. Lensa ini sering digunakan unutk memotret hamparan pemandangan yang sangat luas sekaligus menonjolkan bentuk lengkung bumi.

 

Lensa fisheye yang sering digunakan adalah 8mm, 10mm, 15mm, dan 16mm. Sedangkan lensa fisheye terlebar yang pernah dibuat adalah lensa 6mm. Lensa tersebut didesain khusus untuk sebuah ekspedisi ke Antartika dan memiliki sudut pandang 220 derajat. Seluruh langit daerah sekitarnya dapat ditangkap dengan lensa ini.

 

C. Komposisi Foto

Setiap orang dapat menghasilkan foto yang menarik. Faktor yang berpengaruh besar pada hal tersebut adalah orang di balik kamera itu sendiri. Orang itu adalah Anda. Salah satu cara yang paling mudah, paling sederhana untuk membuat foto jadi lebih menarik adalah memperhatikan komposisi foto.

 

The rule of thirds adalah cara untuk mengkomposisikan letak fokus utama pada sebuah foto. Fokus utama adalah bagian-bagian yang menarik perhatian dari sebuah foto. Misalnya, jika kita ingin memotret orang secara close-up, biasanya fokus utamanya adalah mata dari orang tersebut. Sedangkan saat memotret pemandangan, fokus utamanya dapat berupa sebuah pohon di bagian depan.

 

Tip pertama, jangan meletakkan fokus utama pada bagian tengah dari foto. Sebuah foto akan lebih menarik jika fokus utamanya bukan di bagian tengah. Bayangkan ada garis-garis yang membagi bidang foto Anda menjadi tiga bagian sama rata secara horisontal dan vertikal. Sekarang bayangkan kotak yang berada di tengah. Empat sudut kotak tersebut menandai letak fokus utama Anda.

 

Usahakanlah untuk meletakkan fokus utama pada salah satu titik tersebut. Contohlah, saat memotret pemandangan, letakkanlah garis pantai pada garis horisontal imajiner bagian bawah. Sedangkan garis vertikal imajiner dapat digunakan untuk meletakkan orang, pohon-pohon, atau air terjun.

 

Namun, ingat, fotografi adalah seni bukan ilmu pasti sehingga ada kalanya rule of thieds perlu diabaikan. Rule of thirds memang dapat menghasilkan foto yang lebih estestis dan terlihat lebih profesional. Jangan pernah ragu untuk bereksperimen karena seringkali foto yang menarik dihasilkan dengan mengabaikan panduan-panduan yang ada.

 

  1. Tip Merawat Kamera dan Lensa

 

Langkah utama yang perlu dilakukan setelah membeli sebuah kamera adalah membaca buku petunjuk penggunaannya.

 

Membaca buku petunjuk merupakan langkah awal dari merawat kamera. Kita dapat mengetahui dengan pasti feature, kemampuan, dan kelemahan kamera kita. Kesalahan penggunaan pun dapat diminimalkan.

 

Berikut adalah beberapa hal umum yang perlu diperhatikan untuk merawat kamera:

 

1. Hati-hati saat menggunakan kamera. Kamera dapat rusak, jika terkena benturan, jatuh, terkena tetesan air, terkena hujan, atau berada pada suhu terlalu tinggi / rendah.

2. Jangan biarkan kamera berada seharian di bawah sinar matahari yang terik.

3. Hindari penggunaan kamera di tempat yang berdebu. Segera bersihkan kamera dari debu-debu yang melekat.

4. Hindari penggunaan kamera dengan tangan basah atau kotor.

5. Keluarkan batere dari kamera jika Anda akan menyimpannya selama beberapa minggu.

6. Simpan kamera dan lensa di dalam dry box atau kotak kedap udara lainnya.

 

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merawat lensa:

 

1. Hindari menyentuh permukaan lensa dengan jari, dan jika tersentuh, hilangkan secara hati-hati dengan cairan pembersih lensa atau sebuah tissue lensa. Bekas jari dapat mengurangi ketajaman, utamanya pada lensa wide-angle, dan dapat mengurangi kualitas gambar.

2. Simpan lensa dengan tutup lensa. Tutup kembali lensa setiap kali akan ditaruh dalam tas kamera. Hal ini dapat mencegah masuknya debu ke bagian depan lensa dan bagian lainnya.

3. Beberapa jenis lensa memiliki lapisan permukaan spesial yang dapat rusak jika tidak dirawat dengan benar. Untuk membersihkannya, usaplah permukaan lensa tersebut dengan pelan-pelan dengan kain pembersih lensa.

4. Perhatikan lensa dengan seksama setiap kali Anda selesai melakukan sesi pemotretan, dan bersihkan hanya jika lensa tersebut kotor. Tiup kotoran yang menempel dengan blower. Sapu pelan-pelan dengan kuas, untuk menghilangkan kotoran yang tidak tertiup. Jika masih ada yang tersisa, gunakan kain pembersih lensa dengan satu atau dua tetes cairan pembersih.

5. Gunakan UV filter pada setiap lensa. Filter ini dapat mengurangi kotoran dan menghindari sentuhan jari pada lensa.

 

 

 

 

Posted in Computer | No Comments »

Mengenal Feature Digital SLR

Posted by louis7zen on 16th June 2007

Mengenal Feature Digital SLR

 

Apa sajakah feature dan fasilitas yang ada dalam kamera digital SLR? Untuk menambah pengetahuan kita tentang aneka Feature kamera DSLR tersebut, sekiranya hal ini bisa membantu dalam memaparkan sebagian besar fearute tersebut, diantaranya:

 

  1. Jendela bidik berbasis WYSIWYG

 

Ini bukan merupakan bahasa isyarat atau bahasa purba melainkan merupakan singkatan dari “what you ses is what you get” (yang Anda lihat adalah yang Anda dapat). Berbeda dengan bidang pandang jendela bidik (viewfinder) optis dalam kamera digital saku (yang umumnya tidak sama dengan bidang pandang sensor gambar), jendela bidik dalam kamera digital SLR memiliki bidang pandang yang sama dengan bidang gambar sensor. Artinya, apa yang kita lihat dalam jendela bidik kamera digital SLR, akan dilihat pula oleh sensor gambar kamera digital SLR. Ini memungkinkan kita untuk bisa memperkirakan bagaimana foto tersebut akan terlihat / tersimpan nantinya.

 

Hal ini dimungkinkan karena mata kita melihat obyek menggunakan lensa yang sama dengan lensa yang dipakai oleh sensor untuk merekam gambar. Pandangan via lensa (through the lens) ini bisa tercipta berkat bantuan konfigurasi ruang bidik dan sebuah cermin putar. Pada saat tombol pelepas rana belum ditekan, cahaya yang masuk akan dipantulkan oleh cermin putar ke arah prisma (pentaprism). Dari sini, cahaya akan diteruskan ke jendela bidik sampai ke mata kita / fotografer.

 

Pada saat kita telah selesai melakukan pengaturan fokus, mengatur besaran rana, mengatur kecepatan bukaan, dan mengatur komposisi gambar, kita akan menekan tombol pelepas rana. Pada saat tombol pelepas rana ini ditekan, cermin putar akan terangkat ke atas sehingga cahaya yang tadinya dipantulkan dan diarahkan ke atas, akan langsung menuju sensor gambar. Sensor gambar kemudian akan merekam obyek yang sudah dipilih kita dan menyimpan rekaman ini ke kartu memori.

 

  1. Lensa yang bisa dilepas-pasang

 

Salah satu feature SLR digital yang digemari para fotografer (dan tidak bisa disaingi kamera digital saku) adalah lensa yang bisa dilepas-pasang. Dengan kemampuan ini, kamera SLR bisa menggunakan aneka lensa untuk berbagai keperluan. Misalnya, jika fotograger ingin memotret pandangan seluas 180 derajat, kita bisa menggunakan lensa mata ikan (fisheye lens). Lensa ini memiliki sudut pandang sebesar 180 derajat sehingga bisa mencakup daerah pemotretan yang sangat luas. Meskipun perspektif yang dihasilkan tidak senormal pandangan mata manusia, lensa ini sangat berguna untuk merekam obyek yang luas seperti panorama atau arsitektur gedung.

 

Fotografer juga bisa menggunakan lensa lain untuk keperluan pemotretan jarak jauh. Dengan menggunakan lensa tele, sebuah obyek yang terletak sangat jauh dan berbahaya (misalnya gunung berapi atau hewan liar), akan bisa dipotret dengan baik. Lensa tele juga bisa dipakai untuk memotret peristiwa huru-hara dan peperangan yang terjadi pada suatu wilayah. Dengan lensa ini, peristiwa yang berbahaya tersebut akan bisa direkam tanpa harus cemas dengan kemungkinan terkena peluru nyasar.

 

Kamera lensa bisa dilepas-pasang, dengan sendirinya kita bisa membeli tubuh kamera baru tanpa harus membuang lensa yang lama. Lensa-lensa yang telah kita beli ini justru merupakan koleksi sekaligus investasi berharga untuk meningkatkan kemampuan kamera DSLR yang kita miliki. Di samping itu, kita juga bisa memilih lensa dari pembuat lensa lain jika diinginkan. Hal ini disebabkan banyak pembuat lensa yang menawarkan lensa-lensa khusus untuk dipakai pada merek kamera tertentu.

 

  1. Lampu kilat berdaya besar

 

Meskipun sebagian kamera digital SLR telah memiliki lampu kilat terpasang, kita masih bisa menggunakan lampu kilat tambahan. Lampu kilat ini bisa dipasang dalam dudukan khusus yang disebut hot shoe dan biasanya berada tepat di atas jendela bidik.

 

Dengan lampu kilat ini, dimungkinkan pemotretan menggunakan cahaya yang cukup saat cahaya ruangan sekitar tidak mampu menerangi obyek pemotretan dengan baik.

 

Lampu kilat ini bisa memiliki kekuatan pencahayaan yang diindikasikan dengan angka panduan / guide number (GN). Semakin tinggi guide number, semakin kuat pencahayaan yang dihasilkan lampu kilat. Dalam lampu kilat, angka panduan ini biasanya menggunakan ISO 100 sebagai patokan dasar. Misalnya, jika sebuah lampu kilat memiliki panduan 14/11, artinya adalah jika menggunakan lensa dengan panjang fokus (focal length) 14mm, kekuatan pencahayaan bisa mencapai jarak sekitar 11 meter pada kecepatan pencahayaan ISO 100. Dengan demikian, jika angka ISO dinaikkan, jarak pencahayaan lampu kilat akan meningkat.

 

  1. Sensor gambar yang lebih besar

 

Berbeda dengan sensor gambar yang dipakai dalam kamera digital saku, yang biasanya hanya berukuran beberapa milimeter persegi, kamera SLR digital menggunakan sensor gambar yang lebih besar. Keuntungan dari penggunaan sensor gambar berukuran lebih besar ini adalah obyek gambar bisa dipotret secara lebih utuh dan lebih rinci. Selain itu, karena berukuran lebih besar dibandingkan kamera digital saku, hasil pemotretan menggunakan sensor yang lebih besar akan bisa dipotong (crop) untuk berbagai keperluan.

 

Beberapa tipe kamera tertentu, seperti Canon EOS 5D, memiliki ukuran sensor gambar yang mendekati ukuran film (full-frame sensor), yakni 35,8×23,9mm. Dengan ukuran sensor sebesar ini, fotografer bisa memanfaatkan lensa-lensa kamera SLR film sepenuhnya. Penggunaan sensor yang lebih besar ini juga memungkinkan fotografer membuat foto yang memiliki rincian gambar yang lebih baik.

 

Selain menggunakan sensor dengan ukuran penuh, beberapa kamera digital SLR menggunakan sensor gambar tipe APS-C. APS-C merupakan singkatan dari Advanced Photo System type-C. Sensor APS-C memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh atau dibandinkan ukuran film seluloid. Karena berukuran lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh (yakni hanya berukuran 22,2×14,8mm). Sensor ini hanya mampu merekam bidang pandangan yang lebih kecil dibandingkan sensor ukuran penuh.

 

Hal ini membuat sensor APS-C biasanya memiliki faktor pengali (multiplier) sekitar 1,6 kali dibandingkan sensor ukuran penuh (atau dibandingkan ukuran film). Karena itu, jika menggunakan sensor gambar ini, obyek gambar akan membesar sekitar 1,6 kali sama dengan jika kita menggunakan zoom 1,6 kali pada ukuran kamera film atau kamera digital bersensor ukuran penuh.

 

Sensor tipe APS-C ini lebih banyak dipakai dalam kamera digital SLR mengingat harganya yang lebih murah dibandingkan dengan sensor gambar berukuran penuh.

 

  1. Sistem fokus yang lebih banyak dan akurat

 

Kamera digital SLR memiliki sistem fokus yang lebih banyak dan akurat untuk menangani aneka keperluan pemotretan. Misalnya, pada Canon EOS 400D, terdapat 9 titik fokus untuk kepentingan pemotretan kreatif atau untuk kepentingan penonjolan obyek. Dengan sistem fokus semacam ini, sebuah obyek yang tampil tajam tidak selalu berada di tengah lensa. Selain berfungsi otomatis, pengaturan fokus ini juga bisa kita atur agar sesuai dengan keinginan kita.

 

  1. Penyimpanan gambar dengan format RAW

 

Feature ini merupakan salah satu kemampuan kamera digital SLR yang tidak dimiliki kamera digital saku. Jika disimpan dalam format RAW sebuah gambar tidak banyak mendapat “sentuhan” atau modifikasi dari sistem pemroses gambar dalam kamera. Dengan demikian, rincian gambar seperti warna, pixel, dan informasi lainnya tidak banyak berubah (cenderung sesuai aslinya). Format ini memungkinkan fotografer melakukan penyuntingan gambar secara leluasa layaknya melakukan penyuntingan gambar film negatif. Namun, karena tidak banyak mengalami proses kompresi seperti fomat JPG atau TIFF, gambar yang disimpan dalam format RAW biasanya memiliki ukuran yang besar sehingga membutuhkan memori yang lebih besar.

 

  1. Kepekaan cahaya yang lebih tinggi

 

Kamera digital SLR juga memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi dibandingkan kamera digital saku. Saat ini, sebuah kamera digital SLR umumnya memiliki kepekaan sampai ISO 1600. Bahkan untuk kamera digital SLR tertentu, terdapat nilai ISO sampai 3200. Ingat bahwa semakin tinggi nilai ISO, semakin peka (sensitif) sensor gambar. Artinya, semakin sedikit cahaya yang diperlukan untuk merekam obyek menjadi gambar. Dengan kepekaan cahaya yang tinggi ini, kita bisa memotret obyek dalam situasi pencahayaan yang minim, misalnya di luar ruangan pada malam hari, museum, pertunjukan teater atau konser, dan suasana kota di waktu malam.

Posted in Computer | No Comments »

Cincin

Posted by louis7zen on 16th June 2007

Cincin

 

1. Berpikirlah sejuta kali dan jadilah jujur sebelum Anda ingin memiliki hubungan. Apalagi bila Anda senang menjadi kupu-kupu siang dan malam, atau kumbang yang senang menghisap dan kemudian meninggalkan yang diisap. Jangan menyengsarakan orang lain dengan kebiasaan Anda itu.

2. Tanyakan kepada diri Anda, mengapa Anda suka sekali mengganggu milik orang dan tak pernah merasa bersalah karenanya. Sementara Anda tak suka kalau saya atau orang lain mengganggu milik Anda. Tanyakan – terutama kalau Anda pria – Mengapa Anda selalu mau menikahi perawan, sementara Anda sendiri tak perjaka.

3. Untuk kaum pria, tanyakan mengapa Anda senang memukul pasangan Anda yang Anda pilih sendiri untuk menikahi dan bersumpah di hadapan Tuhan untuk mencintainya? Bagaimana Anda melanggar hati nurani Anda sendiri? Lha wong Anda yang melanggar, kok orang lain yang dipukul? Mengapa Anda tidak memukul diri Anda sendiri?

Kalau mau minta tolong, saya kok percaya banyak ornag, termasuk saya, dengan senang hati mendekatkan kepala Anda pada tembok. “Mas, mungkin waktu di depan Tuhan, prianya berjanji seumur hidup akan setia memukul pasangannya. Kita aja yang engga denger,” celetuk teman saya. Bisa jadi, itulah yang namanya sehidup semati. Satu hidup, satu mati, maksudnya.

4. Mencintai punya risiko. Kalau sudah dipikir-pikir Anda tidak bisa menanggungnya dan Anda tak pernah mengenal yang namanya komitmen dan atau pura-pura tak mengenalnya, maka sebaiknya diam dan cintai diri Anda sendiri saja, sampai botak. Daripada membiarkan pasangan Anda lumpuh dan Anda besukacita di pelukan orang lain. Jangan pernah lari dari tanggung jawab yang Anda sendiri sudah memilihnya. Buat saya, itulah orang yang paling tepat disebut pengecut.

5. Berhentilah berbuat serong dan memukul, belajarlah sedikit demi sedikit mencintai dan mengasihi dengan benar. Kasih itu menghindari banyak keserongan dan pemukulan. Lihatlah pasangan Anda sebagai anugerah, bukan hadiah ecek-ecek.

6. Cincin, menurut pendeta di gereja teman saya itu, adalah singkatan dari cinta dan cinta. Jadi, kalau Anda mengenakan cincin kawin, berarti Anda sedang memperlihatkan kepada semua orang bahwa ada dua cinta yang menjadi satu dan tak terpecah belah.

“Mas, aku pengen tanya deh, orang yang berselingkuh cincin kawinnya dipakai enggak, ya?”

Bisa ada yang membantu pertanyaan ini? (SM)

Posted in Iseng aje | No Comments »

Cinta

Posted by louis7zen on 16th June 2007

Cinta

 

 Hari sabtu pekan lalu, untuk pertama kalinya saya berdiri di depan mimbar gereja dalam acara pemberkatan pernikahan teman pria saya. Saya berdiri tepat di sisi kirinya. Tentu itu bukan pemberkatan pernikahan seorang biseksual yang dapat bermain ganda campuran.

 Saya sendiri sebagai salah saksi pernikahan itu. Selang beberapa menit, acara itu pun di mulai. Teman pria saya dan isterinya mengikrarkan janji mereka akan setia sampai mati.

 Mau miskin, mau kaya, mau sakit, atau mau sehat. Kesetiaan tetap nomor satu. Demikian secara garis besar janji yang dikeluarkan melalui mulut kedua memperlai di hadapan pendeta dan jemaat, dan tentu yang utama berjanji kepada Tuhan untuk tetap satu hidup, satu mati…eh salah, sehidup semati.

 Perasaan saya tiba-tiba seperti es campur setelah mendengar janji pernikahan yang buat saya tak masuk akal itu, terutama bagi saya yang diberi predikat kutu loncat. Loncat dari satu “kepala” ke “kepala” yang lain, maksudnya.

 Saya berpikir lagi, seandainya saya seperti kedua manusia itu, apakah saya bisa atau tepatnya berani berkata seperti itu? Menyadari sepenuhnya ucapan yang hanya berdurasi dua menit itu memerlukan komitmen jangka panjang tak tergoyahkan. Yaa…kalau sehat terus, kaya terus. Bagaimana kalau nanti isteri saya lumpuh di tengah jalan? terus saya diharapkan harus setia, kuatkah saya?

 Ya….kalau lumpuhnya dua puluh delapan hari, kalau dua puluh delapan tahun? Bisakah saya melakoninya? Bagaimana kalau seorang pria, saya masih butuh makanan jasmani? Menikah lagi? Lha wong katanya hanya Tuhan yang boleh memisahkan, bukan manusia, meski kenyataannya banyak manusia yang lebih hebat dengan lebih berani melanggar sumpahnya sendiri, dengan menggunakan sejuta alasan masuk akal. Masuk akal di kepala manusia dan tidak masuk akal di mata Tuhan, maksudnya.

 Itu baru masalah kelumpuhan. Bagaimana kalau semuanya berjalan lancar, tetapi ada wanita milik orang lain atau janda lain atau perawan lain tetapi sesungguhnya tak perawan, yang jauh lebih menarik dari isteri saya? Karena kalau mau jujur, mata saya senang shopping di mana-mana, seperti seorang temen pria saya yang suka menggandeng dan menggendong isteri orang.

 

Bingung I

 Saya tersentak kaget saat pendeta mengizinkan saya kembali ke tempat duduk. Saya adalah saksi teman saya untuk berjanji setia seumur hidup. Saya bingung sekali, dan tiba-tiba rasa takut menyerang saya, kok saya mau memenuhi permintaan teman saya itu untuk menjadi saksi tanpa berpikir panjang. Bagaimana seandainya teman saya ini melanggar janjinya, apakah pendeta, seluruh jemaat yang melihat, mertua, dan keluarganya akan menelpon dan mendatangi saya untuk meminta pertanggungjawaban sebagai saksi?

 Satu hari kemudian, setelah saya kebingungan di mimbar gereja, tepat pada hari Minggu, adik teman saya meninggal dunia. Saya datang ke rumah duka, sang ayah menangis tak berhenti. Saya tentu tak tahu mengapa ia menangis. Apakah sedih beneran, apakah sedih karena rasa sesal tak pernah mencintai anaknya dengan sungguh, apakah ini dan apakah itu, benar-benar saya tak tahu.

 Saya malah membayangkan sang ayah itu saya. Akankah saya menangis ketika isteri saya meninggal? Kalaupun saya menangis, pertanyaannya kemudian, apakah saya akan mengeluarkan air mata sampai tersedu-sedu dengan sebenar-benarnya dan bukan sedang berakting seperti bintang film?

 Apakah saya menangis karena menyesal – untuk saat itu – karena saya berselingkuh dan tidak menepati janji sehidup semati? Apakah malah saya menangis hanya sebagai aksi bersedih, tetapi dalam hati bersyukur karena saya bisa tak perlu menceraikan isteri saya dan saya jadi kelihatan setia, dan kematiannya membebaskan saya pada akhirnya dari menjadi pengasuh seorang yang lumpuh? Di rumah duka itu, saya dibuat bingung lagi.

 Dalam perjalanan pulang melayat, seorang teman wanita bercerita di dalam mobil, suami yang dicintainya lumpuh selama nyaris dua puluh tahun.

  “Wah….aku sudah kayak melayani bayi,” kata dia. Saya yang duduk di bagian depan langsung diam seperti disetrum listrik. Selamat rambut tak jadi seperti di-rebonding. Dua puluh tahun? Lumpuh? Seperti bayi?

 Kemudian saya membayangkan kalau saya jadi bayi…eh…salah…berdiri di posisi seperti teman saya itu, akankah saya mampu mewujudkan sumpah untuk tetap setia dalam duka semacam itu? Berhakkah saya berselingkuh atau memakai kalimat yang tidak lebih kasar, mempunyai teman khusus untuk mengatasi hari-hari melelahkan dan kesepian ini? Untuk membayar kerinduan untuk dipeluk dan di-remes-remes karena masa 20 tahun hidup tanpa remesan?

 “Nasi remes, kali,” celetuk teman saya.

 “Bukan, itu rames, Neng,” balas saya secepat kilat.

 

Bingung II

 Dan dengan alasan sangat masuk akal dan sangat dimengerti, saya mungkin bisa jadi memiliki teman khusus itu, tetapi membuat saya jadi tak bisa lagi membedakan arti melanggar dari tidak melanggar sumpah dan membedakan benar dari tidak benar.

 Saya sering seperti itu. Begitu sebuah permasalahan bisa diterima dan masuk akal, saya akan menyimpulkan itu benar. Saya benar-benar bingung. Jadi dalam dua hari, saya sudah bingung tiga kali.

 Saya pikir bingung saya sudah berhenti. Dua hari setelah itu sahabat saya bercerita, salah satu temannya yang kondang dan sudah menikah sedang menjalani ritual perselingkuhan dengan seorang wanita ayu.

 “Tetapi, yaa….Bang, si suami ini cinta banget lho sama bininya. Dia pernah bilang ke aku, isterinya adalah segalanya dan dia akan tetap setia. Bahkan dia sampai menangis terharu, ia begitu mengagumi sang isteri,” jelas teman saya.

 Tentu Anda tahu pertanyaan saya berikutnya. “Gak mungkinlah dia cinta. Bagaimana bisa mencintai dan berselingkuh pada waktu bersamaan?”

 Sahabat saya diam saja, saya apalagi. Sekian detik lewat, ia memecahkan keheningan yang membingungkan itu. “Buktinya ini bisa, Bang. Mungkin inilah yang disebut sambil menyelam minum air.”

 Saya menyambar komentarnya itu, “Keseleekk…kali.”

 Saya tambah bingung, bagaimana ada suami yang mengagumi, mencintai, bahkan, sampai mampu mengeluarkan air mata saat menjelaskan betapa mulia isterinya, mampu berselingkuh?

 “Sekarang gue thau, Bang. Itulah yang disebut orang air mata buaya. Jadi, buaya yang bisa nangis itu cuma buaya darat, Bang,” kata teman saya ini lagi. (SM)

 

Posted in Iseng aje | No Comments »

Diamlah Sejenak

Posted by louis7zen on 16th June 2007

Diamlah Sejenak

 

  1. Kalau sebagai orangtua. Anda begitu mencintai anak Anda dan memutuskan untuk membiayai pesta pernikahan (yang katanya) seumur hidup sekali itu, pikirkanlah masak-masak sebelumnya. Tak hanya soal seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan, tetapi berapa besar kepercayaan yang Anda akan berikan ke anak Anda untuk mempersiapkan acara istimewa itu.
  2. Bila Anda membayari semua, itu tidak berarti Anda berhak menentukan semau Anda karena Anda berpikir uangnya keluar dari kantong Anda. Jadi, karena uang keluar dari Anda, maka Anda berhak menentukan ini dan itu.

Sadari dari awal, ini perkawinan anak Anda yang Anda cintai. Bila Anda mencintai mereka, uang yang Anda keluarkan bukanlah seperti sedang mensponsori acara perkawinan yang bersifat sponsorship lalu Anda minta imbalan atas uang yang sudah Anda keluarkan dengan cara “Papa dan Mama minta tante itu di undang, om ini diundang. Papa mau merayakannya di sini dan bukan di sana”. Dan sejuta papa mau dan mama mau.

  1. Bila Anda menikah dan kebetulan Anda begitu kondangnya sehingga sejuta produk mau mensponsori acara istimewa itu, janganlah terburu-buru berpikir sponsor itu dapat mengirit uang keluar dan malah mendatangkan uang masuk yang mungkin Anda butuhkan untuk membangun dunia baru.

Ingatlah, ini perkawinan, bukan medium promosi dan Anda bukan billboard atau halaman iklan seperti di majalah atau koran. Jangan biarkan perayaan perkawinan Anda di perkosa. Kecuali, Anda memang bersedia diperkosa dan bersedia diperlakukan seperti billboard.

  1. Bila Anda sebagai orangtua yang benar mencintai anak Anda, cobalah Anda diam sejenak. Kunci mulut Anda, untuk sementara waktu di gembok saja kalau perlu dan kuncinya dibuang ke kali. Jangan mengambil kunci cadangan. Ini bukan perkawinan Anda, ini perkawinan anak Anda. Bukankah yang penting Anda melihat anak Anda bahagia ketimbang Anda senantiasa yang selalu mau bahagia. Singkatnya, ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Biasakan latihan untuk hal yang pertama.
  2. Bila Anda berpikir apa yang Anda sarankan adalah yang terbaik, jangan terburu-buru yakin anak Anda akan berpikir hal yang sama. Jangan sakit hati bila masukan Anda tak digubris anak Anda. Dan, jangan pernah keluar perkataan dari mulut Anda bahwa anak Anda termasuk anak buahnya Malin Kundang.
  3. Bila ada waktu sejenak untuk merenung sebelum pesta akan diadakan, lakukan itu. Tanyakan kepada diri sendiri mengapa Anda sampai begitu merasa penting mengundang pribadi kondang untuk hadir dalam acara perkawinan anak Anda, sementara anak Anda yang mau menikah tak pernah mengenal orang kondang yang Anda undang itu? Apakah keputusan itu untuk sebuah sopan santun atau menaikkan gengsi Anda?
  4. Tanyakan juga mengapa sampai begitu pentingnya Anda menghubungi beberapa media untuk meliput perkawinan anak Anda.(SM)

Posted in Iseng aje | No Comments »

Kadang Kami terbuat dari Batu

Posted by louis7zen on 3rd June 2007

 

Meskipun kami (pria) memang cenderung lebih praktis dan simpel, namun ada tindakan yang tidak bisa kami jelaskan penyebabnya. Kelakuan kami yang tergolong “tuna hati” tidak akan bisa dianalisa oleh kaum hawa. Wanita ditinggal begitu saja setelah dilamar? Atau hanya dimanfaatkan untuk seks belaka? Pasti wanita tidak habis pikir, mengapa kami tega melakukannya?

 

Kata Berawalan “S”

 

Selama 365 hari dalam setahun, bisa dibilang kami alpa memikirkan seks kurang lebih lebih 10 hari saja. Dengan fakta bahwa populasi wanita jauh lebih banyak dibanding pria, kami dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Variasi wanita yang kami temui belum tentu cocok dengan kepribadian kami. Ada paket yang begitu menarik (seksi dan cantik) yang sebenarnya tidak terlalu klop setelah diajak bicara, tapi tentunya “rugi bandar” bila dilewatkan begitu saja. Dalam hal ini, libido pun bicara. Kadang kami memanfaatkan wanita hanya untuk kesenangan sementara saja. kami tak mau diikat dalam sebuah hubungan yang jelas-jelas tidak bermasa depan. Lain dengan wanita yang setelah kontak fisik bisa menumbuhkan aura-aura mencintai, kami murni bisa membedakan perasaan dengan seks semata.

 

Tak Punya Pendirian

 

Wanita bisa jadi plin-plan soal memilih baju atau sepatu. Tapi kami akui, keplin-planan pria lebih parah lagi soal percintaan. Pada akhirnya, wanita memang lebih stabil. Kami bisa saja hari ini berlaku begitu manis pada pasangan, tapi besoknya cuek luar biasa. Ya, sekali lagi kami akan mengakui bahwa kami ini mahluk yang tak terduga. Seringkali, tindakan-tindakan yang kami sesali kemudian hanyalah akibat terbawa suasana. “Karena malam itu dia terlihat begitu cantik, saya pun bertanya, apakah ia mau menikah dengan saya”. Namun ketika bangun tidur keesokan harinya, saya sadar bahwa menikah bukanlah persoalan mudah. Saya tidak mau mengungkit-ngungkit atau membahasnya kembali, jadi saya pun menghilang darinya untuk sementara,” – tega? Ya, suka tidak suka, itulah fakta.

 

Idola – Mania

 

Pernah dengar prinsip ‘tak mau kehilangan fans’? Bukan hanya wanita saja yang tak ingin kehilangan penggemar. Kami juga! Banyak di antara kami yang sering me-manfaatin fans kami, secara sengaja maupun tidak. Padahal, intinya kami menikmati perasaan “di atas angin” dan menumbuh-numbuhkan harapan wanita agar tetap mengidolakan kami. Bisa jadi, sebenarnya kami juga suka, tapi masih sedikit saja prosinya. Karena wanita cenderung berharap tinggi, kami mudah hilang feeling dan berbalik jadi tidak suka lagi. tapi ego yang besar mendorong kami berlaku yang tidak sesuai dengan perasaan. Bila disenangi banyak wanita, pastinya ada kebanggaan tersendiri. Itulah namanya gengsi, harga diri, dan prestasi!

 

Posted in Iseng aje | No Comments »