Tip Memotret dengan DSLR
- Memotret Dalam Berbagai Kondisi
Hampir semua kamera digital yang ada dipasaran saat ini, baik pocket maupun SLR, sudah dilengkapi feature untuk memotret dalam beberapa macam keadaan. Feature-feature tersebut berfungsi untuk mengatur kecepatan, diafragma, dan asa secara otomatis sehingga menghasilkan foto yang “secara teknis” benar.
Namun foto yang “secara teknis” benar tersebut belum tentu memuaskan secara artistik. Ya, kamera tersebut belum memiliki “program artistik”. Mungkin suatu hari nanti akan tercipta kamera yang memiliki “program artistik”.
Sementara menunggu hal itu terjadi maka kita-lah yang harus menjadi “program artistik” tersebut. Berikut adalah beberapa tip untuk menghasilkan foto yang “secara teknis” benar sekaligus memiliki sentuhan artistik.
People
Dalam memotret obyek berupa manusia, hal utama yang perlu diperhatikan adalah mata dan ekspresi orang yang akan difoto. Mata orang yang hendak difoto tidak harus melihat ke kamera, tetapi usahakan agar orang tersebut tidak menutup mata saat difoto.
Ada beberapa orang yang refleks menutup mata saat hendak difoto, utamanya ketika difoto dengan lampu kilat. Tip sederhana untuk memotret orang seperti ini adalah dengan menekan tombol kamera lebih cepat atau lebih lambat dari hitungan seharusnya. Usahakan menekan tombol kamera pada hitungan kedua atau malah sesudah hitungan ketiga.
Perhatikan pula ekspresi orang yang akan difoto. Tak jarang ekspresi yang menarik muncul pada saat-saat tak terduga. Jadi, pandai-pandailah mencuri ekspresi dan bersabarlah menunggu momen yang tepat. Gunakanlah fasilitas continuous shoot agar tidak ketinggalan momen.
Ketika memotret orang di dalam ruangan, jika ruangan tersebut memiliki banyak sinar matahari yang masuk, penggunaan asa 400 atau lebih biasanya sudah cukup. Namun jika ruangan minim cahaya, kita dapat menggunakan lensa dengan bukaan diafragma besar atau menggunakan lampu kilat. Saat menggunakan lampu kilat, usahakanlah berdiri agak jauh dari orang yang hendak difoto, agar sinar lampu kilat yang mengenai wajah tidak terlalu keras.
Dalam memotret hamparan alam ketepatan waktu memegang peranan penting. Waktu yang dianggap baik adalah pagi hari sekitar jam 7 sampai jam 9 pagi, atau sore hari, sekitar jam 4 sampai jam 5 sore. Pada jam-jam tersebut sinar matahari tidak terlalu terik sehingga bayangan yang dihasilkan tidak setajam di siang hari.
Perhatikan pula garis cakrawala yang membagi daratan dan langit. Sebaiknya pemandangan yang hendak difoto sejajar di bagian kiri dan kanan. Walaupun tidak mutlak, tetapi jika kita memiliki tripod, penggunaan perangkat tersebut dapat sangat membantu. Utamanya jika kita tidak memiliki lensa lebar tetapi berencana memotret pemandangan yang ada per-bagian, dari kiri ke kanan kemudian menggabungkannya di komputer. Penggunaan tripod memungkinkan kita menjaga konsistensi gambar yang akan disatukan.
Makro
Bunga, koin, kupu-kupu, dan serentetan benda kecil lainnya sering menarik perhatian kita. Namun karena ukurannya yang kecil, biasanya benda-benda tersebut tidak dapat difoto dengan baik jika menggunakan lensa normal. Walaupun ada feature close-up yang biasanya ditujukan untuk memotret benda-benda kecil, tetapi jarak fokus lensa normal biasanya terbatas. Untuk memotret kelopak bunga saja, biasanya lensa normal kita tidak dapat menemukan titik fokus. Alhasil kita harus memotret batang dan daunnya juga. Untuk mengatasi hal ini, usahakan untuk memainkan komposisi foto kita.
Pernahkah kita memotret orang atau benda dengan latar belakang pemandangan, tetapi kemudian orang atau benda utama tersebut malah terlihat gelap atau malah hanya siluet yang muncul?
Ini berarti cahaya yang menerangi latar belakang lebih besar intensitasnya daripada cahaya yang menyinari orang atau benda utama. Atau malah sumber cahaya itu sendiri berada di belakang orang atau benda utama. Keadaan inilah yang disebut sebagai backlight.
Feature backlight secara otomatis akan menggunakan lampu kilat dalam kamera untuk mengimbangi cahaya dari latar belakang Anda. Namun jangan lupa untuk memindahkan titik fokus kamera Anda pada orang atau benda yang berada di depan, sehingga kamera akan menghitung kecepatan dan diafragma yang tepat bagi orang atau benda tersebut.
High-speed
Feature high-speed biasanya digunakan untuk memotret aktivitas dengan kecepatan tinggi, seperti pertandingan olahraga, tarian, balapan, atau aktivitas lainnya. Kecepatan yang digunakan mulai dari 1/125 sampai 1/400 atau lebih cepat. Tip untuk memotret high-speed adalah dengan memanfaatkan fungsi continuous shoot karena kita mutlak tidak memiliki kontorl akan aktivitas yang terjadi.
Saat malam tiba dan lampu-lampu kota mulai bernyalaan, kerlap-kerlipnya memiliki daya pikat tersendiri yang membuat kita terpesona dan menimbulkan hasrat untuk mengabadikan keindahan tersebut. Siapkan tripod pada posisi terbaik, gunakan feature night. Namun perlu diingat, feature ini biasanya menggunakan kecepatan yang rendah, maka sebaiknya gunakan timer untuk menghindari guncangan dari badan saat menekan tombol kamera. Klik, dan jadilah foto yang diinginkan.
Bagaimana jika tripod tidak terbawa atau bahkan memang tidak kita miliki? Haruska kita merekam keindahan tersebut di kepala kita saja? Tentu tidak, jangan pernah menyerah selama kamera masih berada di tangan Anda. Lihatlah sekeliling Anda, carilah benda yang dapat dijadikan tripod pengganti. Misalnya, batu yang besar, tembok, pohon, kap mobil, atau benda apa saja yang cukup kokoh untuk ditumpangi kamera.
B. Memilih Lensa
Ada beberapa jenis lensa yang dapat digunakan pada kamera digital SLR 35mm, antara lain lensa normal, lensa wide-angela, lensa zoom, lensa makro, lensa telephoto, dan lensa fisheye. Namun mari kita mengenal dulu crop factor pada kamera digital SLR 35mm.
Sebagian besar kamera DSLR 35mm yang tersedia saat ini (kecuali Canon EOS 1Ds Mark II, EOS 5D) memiliki sensor foto yang lebih kecil dari sensor kamera full frame SLR 35mm. Akibatnya, hasil foto dari semua jenis lensa yang digunakan pada kamera digital akan terlihat lebih sempit. Hal inilah yang dapat kita sebut sebagai crop factor.
Crop factor yang umum adalah 1,5. Artinya ukuran lensa efektif pada kamera digital tersebut adalah 1,5 kali dari ukuran aslinya. Misalnya, sebuah lensa 28mm jika digunakan pada kamera digital akan menghasilkan sudut pandang lensa 42mm, dan sebuah lensa 35mm akan menghasilkan sudut pandang lensa 52,5mm.
Lensa Normal
Lensa normal adalah lensa yang menghasilkan gambar dengan perspektif lebih natural jika dibandingkan dengan lensa lain. Sebuah lensa dikategorikan lensa normal jika memiliki focal length yang setara dengan diagonal gambar yang diproyeksikan ke dalam kamera.
Pada format 35mm, dimensi gambar yang diproyeksikan ke dalam kamera adalah 24×36mm, sehingga diagonal gambar tersebut adalah 43,27mm atau setara dengan 50mm. Lensa ini juga dikategorikan sebagai lensa primer karena memiliki bukaan diafragma maksimum yang lebih besar daripada lensa jenis lain, seperti f.2, f.1.8, atau bahkan f.1.2 sehingga dapat digunakan untuk memotret pada kondisi minim cahaya.
Kedua, dapat menghasilkan gambar yang lebih kaya warna. Hal ini dimungkinkan karena dengan adanya bukaan diafragma yang maksimum, kamera dapat merekam lebih banyak cahayanya.
Perlu diingat karena adanya crop factor, maka lensa 50mm ini akan menghasilkan sudut pandang yang setara dengan lensa 75mm pada kamera full frame. Namun, ini tidak berarti lensa 50mm tidak perlu dipertimbangkan untuk dimiliki. Lensa ini cocok digunakan untuk memotret orang, benda-benda berukuran sedang, dan sangat membantu jika digunakan pada keadaan minim cahaya. Selain itu, lensa ini memiliki ruang tajam yang sangat pendek jika digunakan pada f.1.8 maupun f.1.2 sehingga dapat menghasilkan latar belakang yang sangat tidak tajam.
Lensa Wide-angle
Lensa wide-angle, atau biasa disebut lensa lebar. Seperti namanya, lensa ini memiliki sudut pandang yang sangat lebar, bahkan pada beberapa lensa dapat memberikan sudut pandang mendekati 180 derajat. Pada prakteknya, lensa jenis ini sering digunakan untuk memotret ruangan yang sempit atau untuk mengambil gambar sebuah benda secara utuh ketika benda tersebut berada relatif dekat dari pemotret.
Namun perlu diperhatikan, bahwa gambar yang dihasilkan dari sebuah lensa wide-angle cenderung memiliki tingkat distorsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambar yang dihasilkan oleh lensa normal.
Lensa ini tidak menghasilkan gambar sesuai dengan yang ditangkap oleh mata manusia. Sebaliknya, lensa jenis ini sering memberi kesan “lebih” dari keadaan sebenarnya. Ruangan dapat terlihat lebih tinggi, lebih besar, dan lebih lebar dari ukuran sebenarnya. Sedangkan jika digunakan untuk memotret orang, dapat membuat muka orang tersebut lebih bulat, lebih lonjong, lebih tinggi, atau lebih pendek.
Lensa Zoom
Lensa zoom adalah lensa yang dirancang untuk memiliki beberapa sudut pandang berbeda. Terdapat berbagai macam lensa zoom, mulai dari 2x zoom, 3x zoom (70-200mm), 10x zoom (35-350mm), sampai dengan 12x zoom. Untuk saat ini, lensa dari 3x zoom kurang dapat menghasilkan gambar-gambar dengan kualitas yang konsisten. Oleh karena itu, pada umumnya pengguna lensa zoom profesional hanya menggunakan lensz 2x atau 3x zoom (28-70mm, 70-200mm).
Beberapa lensa zoom merupakan lensa telephoto (200-400mm), beberapa yang lain merupakan lensa wide-angle (10-20mm, 16-25mm), dan sisanya mencakup wide-angle sampai telephoto (28-200mm, 35-350mm). Lensa pada kategori terakhir sering disebut sebagai lensa zoom “normal”, dan telah menggantikan lensa primer sebagai solusi penggunaan lensa untuk berbagai kondisi.
Lensa 50mm, 90mm atau 100mm dengan tulisan makro merupakan lensa yang didesain untuk memotret subyek yang sangat dekat dengan kamera atau benda-benda kecil. Perbedaan lensa 50mm biasa dengan lensa 50mm makro tentunya terletak pada jarak fokus terdekat lensa tersebut. Pada lensa 50mm biasa jarak fokus terdekat dari lensa ke benda sekitar 50cm. Sedangkan untuk lensa 50mm makro, jarak fokus terdekatnya bisa hanya 2cm dari benda.
Lensa makro dapat pula digunakan untuk memotret benda yang jauh, tetapi tingkat ketajamannya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan lensa jenis lain. Biasanya, lensa jenis ini digunakan untuk memotret bunga, koin, tetes embun, kancing, serangga, dan benda-benda kecil lainnya.
Lensa Telephoto
Terkenal akan kemampuannya untuk memperbesar obyek yang jauh, dan menghasilkan gambar yang tidak terdistorsi. Lensa jenis ini merupakan lensa favorit untuk memotret pertandingan olahraga (sepakbola, basket, tennis, dan lainnya) serta pementasan panggung (konser, teater, orkestra, dan lainnya). Para paparazzi pun menjadikan lensa jenis ini sebagai lensa favorit,
Lensa telephoto dapat dikategorikan sebagai lensa telephoto normal (85mm, 100mm, 135mm, 200mm), lensa zoom telephoto (28-300mm, 55-200mm, 70-200mm, 70-300mm, 90-300mm, 100-300mm) dan lensa super telephoto (300mm, 400mm, 500mm, 600mm).
Lensa Fisheye
Dalam fotografi, lensa fisheye adalah sebuah lensa wide-angle dengan kelebaran sudut pandang yang ekstrim. Area penglihatan melebihi 100 derajat, atau bahkan kadang-kadang melampaui 180 derajat sehingga menghasilkan gambar-gambar dengan tingkat distorsi yang tinggi. Ruang tajamnya secara otomatis tidak terbatas dan pengaturan fokus kamera tidak terlalu diperlukan.
Awalnya lensa ini dikembangkan untuk digunakan di bidang astronomi, dan disebut ‘whole-sky lenses’. Kemudian lensa fisheye cepat menjadi populer dalam bidang fotografi karena keunikan distorsinya. Lensa ini sering digunakan unutk memotret hamparan pemandangan yang sangat luas sekaligus menonjolkan bentuk lengkung bumi.
Lensa fisheye yang sering digunakan adalah 8mm, 10mm, 15mm, dan 16mm. Sedangkan lensa fisheye terlebar yang pernah dibuat adalah lensa 6mm. Lensa tersebut didesain khusus untuk sebuah ekspedisi ke Antartika dan memiliki sudut pandang 220 derajat. Seluruh langit daerah sekitarnya dapat ditangkap dengan lensa ini.
C. Komposisi Foto
Setiap orang dapat menghasilkan foto yang menarik. Faktor yang berpengaruh besar pada hal tersebut adalah orang di balik kamera itu sendiri. Orang itu adalah Anda. Salah satu cara yang paling mudah, paling sederhana untuk membuat foto jadi lebih menarik adalah memperhatikan komposisi foto.
The rule of thirds adalah cara untuk mengkomposisikan letak fokus utama pada sebuah foto. Fokus utama adalah bagian-bagian yang menarik perhatian dari sebuah foto. Misalnya, jika kita ingin memotret orang secara close-up, biasanya fokus utamanya adalah mata dari orang tersebut. Sedangkan saat memotret pemandangan, fokus utamanya dapat berupa sebuah pohon di bagian depan.
Tip pertama, jangan meletakkan fokus utama pada bagian tengah dari foto. Sebuah foto akan lebih menarik jika fokus utamanya bukan di bagian tengah. Bayangkan ada garis-garis yang membagi bidang foto Anda menjadi tiga bagian sama rata secara horisontal dan vertikal. Sekarang bayangkan kotak yang berada di tengah. Empat sudut kotak tersebut menandai letak fokus utama Anda.
Usahakanlah untuk meletakkan fokus utama pada salah satu titik tersebut. Contohlah, saat memotret pemandangan, letakkanlah garis pantai pada garis horisontal imajiner bagian bawah. Sedangkan garis vertikal imajiner dapat digunakan untuk meletakkan orang, pohon-pohon, atau air terjun.
Namun, ingat, fotografi adalah seni bukan ilmu pasti sehingga ada kalanya rule of thieds perlu diabaikan. Rule of thirds memang dapat menghasilkan foto yang lebih estestis dan terlihat lebih profesional. Jangan pernah ragu untuk bereksperimen karena seringkali foto yang menarik dihasilkan dengan mengabaikan panduan-panduan yang ada.
- Tip Merawat Kamera dan Lensa
Langkah utama yang perlu dilakukan setelah membeli sebuah kamera adalah membaca buku petunjuk penggunaannya.
Membaca buku petunjuk merupakan langkah awal dari merawat kamera. Kita dapat mengetahui dengan pasti feature, kemampuan, dan kelemahan kamera kita. Kesalahan penggunaan pun dapat diminimalkan.
Berikut adalah beberapa hal umum yang perlu diperhatikan untuk merawat kamera:
1. Hati-hati saat menggunakan kamera. Kamera dapat rusak, jika terkena benturan, jatuh, terkena tetesan air, terkena hujan, atau berada pada suhu terlalu tinggi / rendah.
2. Jangan biarkan kamera berada seharian di bawah sinar matahari yang terik.
3. Hindari penggunaan kamera di tempat yang berdebu. Segera bersihkan kamera dari debu-debu yang melekat.
4. Hindari penggunaan kamera dengan tangan basah atau kotor.
5. Keluarkan batere dari kamera jika Anda akan menyimpannya selama beberapa minggu.
6. Simpan kamera dan lensa di dalam dry box atau kotak kedap udara lainnya.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merawat lensa:
1. Hindari menyentuh permukaan lensa dengan jari, dan jika tersentuh, hilangkan secara hati-hati dengan cairan pembersih lensa atau sebuah tissue lensa. Bekas jari dapat mengurangi ketajaman, utamanya pada lensa wide-angle, dan dapat mengurangi kualitas gambar.
2. Simpan lensa dengan tutup lensa. Tutup kembali lensa setiap kali akan ditaruh dalam tas kamera. Hal ini dapat mencegah masuknya debu ke bagian depan lensa dan bagian lainnya.
3. Beberapa jenis lensa memiliki lapisan permukaan spesial yang dapat rusak jika tidak dirawat dengan benar. Untuk membersihkannya, usaplah permukaan lensa tersebut dengan pelan-pelan dengan kain pembersih lensa.
4. Perhatikan lensa dengan seksama setiap kali Anda selesai melakukan sesi pemotretan, dan bersihkan hanya jika lensa tersebut kotor. Tiup kotoran yang menempel dengan blower. Sapu pelan-pelan dengan kuas, untuk menghilangkan kotoran yang tidak tertiup. Jika masih ada yang tersisa, gunakan kain pembersih lensa dengan satu atau dua tetes cairan pembersih.
5. Gunakan UV filter pada setiap lensa. Filter ini dapat mengurangi kotoran dan menghindari sentuhan jari pada lensa.