Penyakit Kardiovaskular
Posted by louis7zen on April 22, 2007
Penyakit Kardiovaskular
Waspadai Hipertensi tanpa Gejala
Jika anda merasa diri anda baik-baik saja, sebaiknya sekarang mulai waspada dengan melakukan pemeriksaan diri (Check up) untuk mengetahui kondisi kesehatan. Ini mengingat, ternyata kita pun diam-diam bisa mengidap hipertensi (darah tinggi) meskipun tanpa gejala.
Hal ini pula yang dialami oleh seorang wanita yang berusia 53 tahun, belasan tahun lalu. Saat ia masih berusia 30-an tahun, dan masih sibuk bekerja, ia merasa dirinya sehat dan selalu fit. Tidak merasa pusing dan tidak ada keluhan lainnya. Justru ini yang berbahaya.
Saat memasuki usia 40 tahun pada tahun 1994 dan berhenti bekerja, wanita ini kemudian mulai merasakan dadanya sering bergetar. Ia pun baru memeriksakan diri ke dokter. Dari pemeriksaan tersebut diketahui ternyata ia mengidap darah tinggi. Angka sistolik pada tekanan darahnya bahkan mencapai 180.
Kemudian oleh dokter, ia disarankan untuk kateterisasi guna mengetahui penyebab dada yang bergetar. Ternyata klep jantungnya ada yang tidak beres. “Klep jantung tidak beres ini bawaan lahir, karena saya lahir kembar. Kembaran saya, sebut saja Vonny namanya ternyata juga hipertensi.”
Dokter menyarankan wanita tersebut untuk mulai mengonsumsi obat. Wanita ini tidak perlu di operasi karena kelainan jantung tersebut adalah bawan lahir. Akan tetapi, dokter selalu mengingatkan agar wanita ini menjaga makanan dengan tidak terlalu banyak mengonsumi gula dan makanan yang mengandung kolestrol.
Tetapi Vonny, saudara kembarnya dari wanita tersebut, yang tinggal di Amerika. Harus menjalani operasi. Mungkin karena pola makan kami yang berbeda dan penanganan dokternya pun berbeda, tutur wanita tersebut yang sampai saat ini masih sehat. Ukuran tensinya sekarang sekitar 140/100, terbilang normal untuk wanita seusianya.
“The Silent Killer”
penyakit Hipertensi yang sering dianggap sebagai the silent killer menunjukkan insiden yang terus meningkat setiap tahunnya. Penanganan hipertensi secara serius sangat diperlukan untuk menekan angka kesakitan maupun kematian karena penyakit pembuluh darah dan jantung (kardiovaskular).
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh sebagai penyebab penyakit kardiovaskular diderita oleh lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia. Lebih kurang 10 – 30 persen penduduk dewasa di hampir semua negara mengalami hipertensi.
Sekitar 50 – 60 persen penduduk dewasa dapat dikategorikan sebagai mayoritas utama, yang status kesehatannya akan menjadi lebih baik bila dapat dikontrol tekanan darahnya. Beban kesehatan global akibat hipertensi sangat besar karena merupakan faktor pemicu utama dari stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.
Sampai saat ini penyebab sebenarnya dari hipertensi belum di ketahui.
Hipertensi dibagi dua, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Ada yang diketahui sebabnya, misalnya kalau ada kelainan organ, seperti pembuluh darah menyempit, sakit ginjal bisa disebabkan hipertensi, dan ada tumor yang bisa menghasilkan bahan-bahan yang bisa mempersempit pembuluh darah.
Kalau hipertensi yang seperti ini bisa diobati dan orangnya bisa sembuh. Tetapi, hipertensi yang tidak diketahui sebabnya justru mencakup populasi yang paling banyak. Kita harus mengetahui apa pemicunya.
Persoalan hipertensi penting karena ini merupakan salah satu faktor risiko kelainan kardiovaskular. Kelainan kardiovaskular ini adalah kelainan yang mencakup jantung dan vaskular (pembuluh darah) dan menyangkut banyak organ. Dari organ otak ke ginjal, ke pembuluh darah perifer, ke mata, jadi pembuluh makro dan mikro sirkulasi.
Dengan demikian, berarti hipertensi bukan hanya berupa angka, tetapi bisa memicu kerusakan-kerusakan di organ tersebut. Orang yang mengidap hipertensi akhirnya stroke, (mengalami) kelainan jantung, ginjal. Ini merupakan suatu timbal balik, juga bisa menyebabkan kelainan mata, bahkan buta karena hipertensi.
Semua ini dasarnya adalah tekanan darah yang tinggi yang tidak diobati. Akibatnya, bukan hanya pembuluh darah yang berisiko pecah sehingga bisa menjadi stroke trombotik, tetapi juga disebabkan oleh hipertensi, karena hipertensi bisa berpengaruh terhadap pembuluh darah secara langsung, yaitu sel-sel pembuluh darah yang selapis saja (sel endotel).
Sel-sel tersebut rusak, padahal fungsi daripada sel-sel yang hanya satu lapis di tepi pembuluh darah tersebut sangat besar manfaatnya untuk mengatur homeosasis peredaran darah.
Itu semua jadi rusak kalau dirusak fungsinya. Lapisan dirusak sehingga sel endotel rusak dan terjadi kekacauan, dan in berarti terjadi suatu keadaan yang memicu pembentuk kerak atau aterosklerosis. Pembuluh darah bisa mampet karena proses tersebut.
Penting mencegah
Yang terpenting dilakukan adalah mencegah terjadinya hipertensi. Karena itu, meskipun tidak ada gejala, kita harus mewaspadainya. Unutk itu, kita perlu melihat apa yang bisa memicu tekanan darah tinggi itu.
Kita harus merubah gaya hidup kita agar terhindar dari hipertensi, dengan rajin berolah raga dan menjaga pola makan. Kita mesti membatasi penggunaan penyedap masakan, garam, gula, yang mengandung koleserol, minyak yang tinggi, merokok, dan jangan sampai tidak beraktivitas atau tidak memiliki kegiatan apapun.
Faktor risiko lain juga penting. Jangan sampai hipertensi bergabung dengan penyakit kencing manis dan obesitas. Jika diketahui penyebabnya, maka itu bisa diobati karena organ yang bisa menyebabkan hipertensi disembuhkan dulu, tetapi kalau tidak tahu penyebabnya, faktor-faktor yang bisa memicu itu yang harus dihindari.
Perubahan pola hidup seperti soal makanan dan aktivitas juga perlu diperhatikan. Jangan sampai stres menghadapi tekanan hidup, karena stres juga bisa memicu tekanan darah tinggi. Kita harus mempunyai mekanisme untuk menghilangkan stres karena di mana pun selalu ada sters tetapi itu tergantung dari kita bagaimana mengatasinya.
Hipertensi, disebut sebagai pembunuh diam-diam, karena umumnya tidak merasakan tekanan darah tinggi selama seseorang belum ada komplikasi ke organ-organ yang bersangkutan. Karena itu, kita harus waspada.
Jadi, selain menjaga pola makan dan selalu berolahraga, kita pun perlu mengecek tekanan darah secara rutin setiap enam bulan. Itu adalah upaya minimal agar terhindar dari hipertensi.
Senam aerobik bisa jadi salah satu upaya menjaga kestabilan tekanan darah.
Tekanan darah yang normal berkisar 120/80mmhg sampai dengan 140/90mmhg.