Agama Palsu
Posted by louis7zen on April 22, 2007
Bab 21
Agama Palsu
“Jika manusia di bumi mau mendengarkan Aku,” kata Tuhan, “dan bertobat dari dosa-dosanya, akan Kutahan pekerjaan Antikris dan si binatang sampai tiba waktu yang melegakan. Bukankah rakyat Niniwe bertobat karena khotbah Yunus? Aku tetap sama, dahulu, sekarang dan selama-lamanya. Bertobalah, dan akan Kuberikan masa yang penuh berkat.”
Kemudian kudengar Yesus berkata, “UmatKu akan saling mengasihi dan menolong. Mereka harus membenci dosa dan mengasihi orang-orang berdosa. Dengan kasih yang sedemikian, semua orang akan tahu bahwa kamu sekalian murid-muridKu.”
Ketika Yesus berbicara, bumi terbuka dan kembali kami masuk ke dalam alam maut. Kulihat sebuah sisi bukit yang penuh dengan batang-batang pohon yang sudah mati dan semuanya dikelilingi oleh kotoran warna abu-abu. Kulihat juga lubang-lubang kecil di sisi bukit, dan sosok abu-abu dari orang-orang yang sedang berjalan dan bercakap-cakap.
Kuikuti Yesus yang berjalan di jalan kecil yang kotor dan sangat berliku-liku yang mendaki di sisi bukit yang berwarna abu-abu itu. Ketika kami mendekat, kulihat orang-orang itu utuh, tapi mati. Mereka terdiri dari daging mati berwarna abu-abu dan mereka terikat satu sama lain dengan tali, sejenis tali dari bahan tali dari bahan berwarna abu-abu yang membelit berkali-kali dan melilit semua orang di bukit itu.
Walaupun di sana tidak terlihat api, aku tahu tempat ini adalah bagian dari alam maut, karena daging mati-daging mati berjatuhan dari tulang-tulang orang-orang yang berada di sana dan kemudian tumbuh lagi dan benar-benar menempel kembali. Kematian ada di mana-mana, tetapi rupanya orang-orang itu tidak memperhatikan – mereka bercakap-cakap dengan asyik sekali. Yesus berkata, “Marilah kita dengarkan apa yang mereka bicarakan.”
Seorang laki-laki berkata pada lainnya, “Apakah kau dengar tentang seorang laki-laki bernama Yesus yang datang untuk menebus dosa?” Yang lain menjawab, “Aku tahu Yesus. Dia mencuci dosa-dosaku. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang kulakukan di sini.”
“Akupun tidak,” kata laki-laki yang pertama.
Yang lain berkata, “Aku mencoba bersaksi tentang Yesus kepada tetanggaku, tapi dia malah tidak mau mendengarkannya. Ketika isterinya meninggal, dia datang kepadaku untuk meminjam uang untuk penguburannya, tapi kuingat Yesus telah bersabda, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Maka kutolak dia. Aku tahu, toh dia akan pakai uang itu untuk hal-hal yang lain. Kita harus menjadi hamba yang baik dari uang kita, bukan?”
Laki-laki yang pertama yang telah berbicara sekarang berkata lagi, “Ya saudara,” katanya, “seorang anak laki-laki di gereja kami membutuhkan pakaian dan sepatu, tapi bapaknya seorang pemabuk, maka kutolak ketika aku harus membeli sesuatu untuk anaknya, kita harus benar-benar memberi pelajaran pada orang tersebut.”
“Nah,” kata seorang laki-laki lain, ketika dipegangnya ikatan tali di tangannya dan dengan gugup melilitkan di seluruh tubuhnya, “kita harus sellau mengajar yang lain supaya hidup seperti Yesus. Orang itu tidak berhak untuk mabuk-mabukan. Biarlah dia menderita.”
Yesus berkata, “Oh, manusia yang bodoh dan tumpul perasaannya, tegakkan kebenaran dan kasihilah satu sama lain dengan kasih yang sungguh-sungguh. Tolonglah orang yang tak berdaya. Berilah kepada mereka yang membutuhkannya tanpa pamrih.”
Jika kau mau bertobat, oh dunia, akan Kuberkati engkau dan tidak akan mengutukmu. Bangunlah dari tidurmu, dan datanglah kepadaKu. Rendahkan hatimu dan tundukkan hatimu di hadapanKu, dan Aku akan datang dan hidup bersamamu. Kau akan menjadi umatKu, dan Aku akan menjadi Allahmu.”